| Sabtu, 19 Nopember 2005 | WACANA |
Menunggu Kematian PTSOleh A KusnadiDARI tahun ke tahun jumlah mahasiswa yang diterima oleh perguruan tinggi swasta (PTS) di Jateng selalu menurun. Menurut Sekretaris Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta (Aptisi) Jateng Drs Sutono MM penurunan mencapai 20 sampai 30 persen, sehingga tidak aneh apabila ada PTS di Jateng yang tidak mendapat mahasiswa. Bahkan sampai ada sebuah PTS yang memberi subsidi Rp 500 ribu setiap mahasiwa yang mendaftar. Ketua Aptisi Jateng DR dr Rofiq Anwar, dalam acara halalbihalal dengan para pengurus yayasan dan pimpinan PTS di Semarang beberapa hari lalu mengatakan, PTS di Jateng masih hidup saja sudah bagus. Namun dia khawatir dengan jumlah mahasiswa terus menurun di PTS, akan bisa mempercepat proses kematian PTS. Penurunan jumlah mahasiswa di PTS dan semakin banyaknya PTS gulung tikar, kini menjadi keprihatinan bersama, terutama bagi kalangan pengelola di Jateng yang berjumlah 214 PTS. Bahkan dari jumlah itu, sebagian dari mereka sudah tidak mendapat mahasiswa baru lagi, sehingga mereka terpaksa harus mem-PHK dosen dan karyawannya. Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Wilayah VI Jateng tergugah dengan kondisi tersebut, sehingga hari Sabtu ini (19/10) menyelenggarakan Rapat Kerja dengan Pimpinan PTS se-Jateng, di Semarang. Cukup Berjasa Kehadiran PTS dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan mencetak kader dan anak bangsa andal, sesungguhnya sudah dimanfaatkan oleh masyarakat. Karena puluhan ribu sarjana dari PTS - selain yang dari perguruan tinggi negeri (PTN) - sudah banyak yang memberikan pengabdiannya di dalam kehidupan masyarakat dalam berbagai sektor, bahkan ada sejumlah kepala daerah atau pejabat lainnya yang lulusan dari PTS, sehingga harus diakui andil PTS tidak boleh dibilang kecil.. Masalahnya ketika puluhan bahkan ratusan PTS telah berkembang dan melaksanakan operasionalisasi, kini harus mengalami kenyataan pahit. Dari hari ke hari mahasiswa yang mendafkar ke PTS menurun drastis. Padahal dana pengelolaan dari mahasiswa merupakan sumber utama PTS. Oleh karena itu, semakin kecil jumlah mahasiswa, akan semakin kecil pula pemasukan yang ada sehingga sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup PTS yang bersangkutan.. Ada banyak faktor yang dituding sebagai kemorotan mahasiswa di PTS. Pertama, Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang rnenerima mahasiswa melalui berbagai jalur, seperti program diploma, non-reguler atau mahasiswa ekstensi dan sejenis yang jumlahnya justru melebihi mahasiswa reguler yang diadakan melalui seleksi nasional, seakan menyedot habis calon mahasiswa yang mau mendaftar ke PTS. Menurut sumber Aptisi di Jateng, sebuah perguruan tinggi negeri di Jateng tahun ini menerima lebih dari 17 ribu mahasiswa, yang sebagian besar non-reguler. Wajar jika kemudian PTS tak kebagian mahasiswa. Kedua, daya saing PTS dan PTN yang seperti anak kecil melawan orang tua, sehingga PTS tidak pernah menang. PTN oleh pemerintah selalu digelontor dana dan pembinaan, tetapi terhadap PTS pemerintah seperti memperlakukan sebagai anak tiri. Meskipun pada PTS yang jurusan dan kualifikasi tertentu tetap bisa bersaing karena mutunya tidak kalah dengan mutu PTN. Ketiga,faktor kejenuhan jurusan yang ada di PTS juga menjadi hambatan terhadap minat mahasiswa terhadap PTS. Apalagi pada era sekarang, ada tren masyarakat lebih memilih jurusan yang bisa siap kerja meskipun tidak mendapat titel atau gelar. PTS yang membuka jurusan teknologi informasi dan sejenisnya, akan lebih diminati masyarakat. Keempat, faktor kekurangprofesionalan para pengelola, atau konflik yayasan penyelenggara PTS sering membawa promosi buruk untuk calon mahasiwa, sehingga mereka enggan masuk PTS yang mengandung konflik. Semakin banyak konflik yang terjadi, akan semakin mendorong masyarakat menjauhi perguruan tinggi swasta yang bersangkutan. Menunggu Kematian Melihat realita minat mahasiswa terhadap PTS di Jateng, maka PTS di Jateng sekarang seperti sedang menunggu proses kematian, yang kalau tidak ada solusi, ke-matian PTS di Jateng akan menjadi kenyataan. Walaupun harus diakui sejumlah PTS yang sudah eksis di Semarang atau di kota lain seperti di Solo, akan tetap eksis dan bisa tetap survive menjalankan fungsi mereka karena daya tahan mereka memang sudah tangguh. Perlu ada beberapa solusi untuk menolong PTS agar tidak menuju proses kematian. Pertama, perlu kebijakan pemerintah untuk memberi "obat" terhadap PTS, sehingga ada kebijakan di bidang pendidikan yang memungkinkan PTS tetap hidup. Misalnya ada kebijakan agar PTN hanya menerima mahasiswa jalur S 1, S2 dan S3. sedapat mungkin tidak menerima mahasiswa non-reguler atau ekstensi. Sedangkan PTS diberi jatah calon mahasiswa diploma, dan sejenisnya. Sudah tentu, agar kualitasnya tetap bisa dijaga, program diploma di PTS dibina sebaik mungkin. Kedua, perlu keterlibatan pemerintah daerah maupun pusat untuk membina langsung PTS, baik dari segi dana, pembinaan maupun bidang lain. Selama ini memang sudah ada, tetapi terkesan sekadarnya dan belum merupakan proioritas. Bantuan itu misalnya memberi gaji dosen swasta yang layak, sehingga bisa membantu meringankan beban PTS. Kalau di tingkat SMP dan SMA ada guru bantu yang mendapat gaji dari pemerintah, kenapa dosen swasta di PTS tidak? Ketiga, pengelola PTS tentu jangan tergantung "orang lain" Tetapi berbagai upaya pembenahan harus dilakukan. Mulai dari kualitas SDM, profesionalitas pengelolaan, sampai dengan PR (public relations), PTS yang sampai kini masih sangat kurang. Kita yakin kalau para pengelola di PTS di Jateng melakukan kerja sama dengan baik, berbagai masalah insya Allah bisa diatasi. (11) - A Kusnadi, dosen di IKIP Veteran Semarang dan alumnus S2 Undip |