logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 19 Nopember 2005 WACANA
Line

Harapan pada KTT APEC

Oleh Edy Purwo Saputro

Apa hubungan antara KTT APEC dengan terorisme? Memang tak ada keterkaitan secara langsung, namun dalam dua kali putaran KTT APEC ternyata pokok bahasannya masih tetap sama yaitu tentang penanganan masalah terorisme. Oleh karena itu, KTT APEC ke-17 di Busan, Korsel kali ini nampaknya akan lebih banyak membahas tentang kasus terorisme, tidak saja yang terjadi di Bali tapi juga di negara lain.

Meskipun demikian, publik sangat berharap agar KTT Forum Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) ini mempunyai esensi penting, tidak saja bagi pelaksanaan globalisasi, tetapi juga bagi jaminan keamanan global.

Selain itu, forum KTT ini diharapkan juga bisa membangun simpati dunia terhadap sentimen negatif yang selama ini menimpa Indonesia, tudingan sarang teroris dan tewasnya Dr. Azahari. Jadi, ada kemanfaatan makro yang harus dipetik Indonesia dari agenda KTT Ke-17 APEC kali ini.

Mengacu harapan atas manfaat itu, ada baiknya melihat hasil KTT APEC ke-13 di Shanghai, China tahun 2001 lalu. Seperti diketahui, pertemuan 2 hari para menteri APEC menghasilkan sejumlah kesepakatan, antara lain tekad bersama untuk mendukung pelaksanaan fasilitasi dan liberalisasi perdagangan - investasi.

Pertemuan tersebut juga kembali menegaskan apa yang telah tercapai dalam Deklarasi Bogor 1994 lalu, terutama terkait dengan pelaksanaan pasar bebas tahun 2010 bagi anggota APEC yang maju dan tahun 2020 bagi yang negara berkembang serta meninjau kembali berbagai program aksi kolektif atau individual dari masing-masing anggota.

Selain itu, menyepakati betapa pentingnya sisi dukungan seluruh anggota forum yang dibentuk tahun 1989 itu terhadap seluruh kesepakatan WTO. Hal rumusan lainnya yang juga sangat penting yaitu tentang masalah peningkatan kerjasama ekonomi - teknis (Ecotech) yang secara khusus terkait dengan program pembangunan kapasitas SDM, dan program pengembangan "APEC e-commerce" yang diyakini akan mengintegrasikan anggota ke dalam tata ekonomi baru.

Mengacu pada sejumlah rumusan tersebut, maka pertemuan KTT APEC ke-17 kali ini, nampaknya juga tidak terlalu banyak berubah. Alasannya yaitu karena proses persoalan yang muncul tidak jauh berbeda. Meski demikian bukan berarti pelaksanaan KTT APEC ke-17 kali ini tidak akan memberikan kemanfaatan sama sekali. Intinya, bahwa agenda utama yang harus segera dikedepankan KTT APEC adalah bagaimana meredam semua bentuk terorisme yang secara nyata telah mengganggu kinerja perekonomian secara riil, yaitu tidak saja di negara industri, maju tapi juga di negara miskin - berkembang.

Fakta kasus bom di Bali (Bom Bali II) secara tidak langsung telah membuktikan kenyataan ini.

Sistematis

Meski ada sejumlah kemanfaatan makro dari pelaksanaan KTT APEC kali ini, yang jelas, ke depan tantangan APEC makin kompleks. Terkait hal ini, Hardjopranoto (2001) menegaskan bahwa KTT APEC tetap mempunyai sejumlah konsekuensi, yaitu pertama, KTT tersebut diselenggarakan dalam kondisi perekonomian dunia yang lagi mengalami resesi.

Konsekuensi dari kondisi ini yaitu tidak banyak ada peluang-peluang kerja sama negara-negara Asia-Pasifik yang bernilai positif dan ofensif dapat ditawarkan kepada negara-negara calon partner. Kecenderungannya yaitu negara-negara anggota akan lebih mencari peluang untuk dapat mengatasi masalah internalnya.

Intinya, perlu dipersoalkan apakah KTT bisa memberi manfaat bagi usaha-usaha untuk mengatasi kelesuan ekonomi yang sedang berlangsung, plus meminimalisasi ancaman terorisme.

Kedua, KTT APEC tersebut terselenggara setelah terjadinya tragedi terorisme dalam 5 tahun terakhir (WTC dan Bali). Sebagai salah satu negara anggota APEC, kesempatan AS untuk menggunakan KTT tersebut sebagai forum yang mendukung kebijakan politik dan keamanannya, tak bisa dihindarkan.

Apalagi dari sudut retorika pernyataan negara-negara untuk secara bersama-sama menentang terorisme merupakan pernyataan yang sama sekali tidak mengandung unsur yang tidak baik. Apakah sebaliknya forum dapat mengingatkan pemerintah AS untuk menghentikan peperangan menjadi persoalan pelik yang ternyata juga berjalan tak-simetris.

Dari kepentingan ekonomi, baik tragedi WTC dan Pentagon maupun serangan AS ke Afghanistan, serta terorisme bom di Bali, bahwa semuanya dapat mempengaruhi bahkan sampai ke tingkat membahayakan perekonomian internasional, demikian pula wilayah Asia-Pasifik.

Ketiga, KTT tersebut diselenggarakan pada saat beberapa negara Asia-Pasifik baru saja sembuh dari krisis yang dimulai tahun 1997 lalu. Khusus bagi Indonesia yang juga mengalami krisis hingga saat ini belum mengalami kesembuhan. Jadi seharusnya ada pembedaan antara negara aggota APEC yang masih mengalami krisis dan mereka yang sudah bebas.

Meskipun ini bisa juga diagendakan, namun tentunya tidak mudah untuk membahasnya sebab sampai kini fokus pembahasan lebih banyak diarahkan pada komitmen meredam terorisme.

Adanya sejumlah kemanfaatan ini, maka Indonesia juga harus bisa memetiknya. Jika tidak, sangat rugi. Selain itu, Indonesia juga harus mencari rasa simpati publik atas kasus ledakan bom Bali II sebab jika tidak maka kepariwisataan kita akan terus terpuruk. (11)

- Edy Purwo Saputro, dosen Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Solo


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA