| Sabtu, 19 Nopember 2005 | WACANA |
tajuk rencana''Undangan'' Piala Dunia 2006 Tuntas Dibagikan- Lengkap sudah 32 peserta putaran final Piala Dunia 2006 yang akan berlangsung di Jerman. Australia, Trinidad & Tobago, Spanyol, Swiss serta Republik Ceko menjadi lima kesebelasan terakhir yang memastikan diri bakal berlaga dalam kejuaraan akbar, Juni - Juli tahun depan itu. Mereka berlima lolos melalui partai play-off. Baru kali ini, salah satu partai play-off harus diakhiri dengan adu penalti. Australia unggul adu penalti 4-2 atas Uruguay di Stadion Telstra Sydney, setelah keduanya mencatat skor agregat 1-1. Sukses Australia kembali berlaga di ajang Piala Dunia setelah ikut serta di Jerman (Barat) pada 1974, juga punya dimensi sejarah lain berkat keberhasilan mendatangkan Guus Hiddink. - Pelatih asal Belanda tersebut menangani The Socceroos, dengan status nyambi. Diplomasi tingkat tinggi dan kebesaran hati tentu menjadi warna utama dalam transaksi ini, mengingat Hiddink menangani klub yang disegani di tingkat Eropa, PSV Eindhoven. Kesediaan juara Liga Belanda ini meminjamkan sementara aset berharganya, menunjukkan pula betapa tinggi posisi tawar yang dimiliki pahlawan sepak bola Korea Selatan itu, sampai-sampai bisa merasakan ketegangan babak play-off Piala Dunia dan ketatnya persaingan Liga Champions. Kehadiran Hiddink juga menunjukkan sepak bola adalah persoalan mengupayakan kesiapan sebuah tim sematang mungkin. Persiapan menjadi segala-segalanya agar target tercapai. - Untuk lolos ke Piala Dunia, pemilihan pelatih berkualitas dan pemain-pemain dengan kapabilitas tempaan arena kompetisi profesional, dalam kasus Australia, ternyata belum cukup. Mereka memberi pelajaran bagaimana menyiasati waktu istirahat yang pendek, dengan cara merencanakan perjalanan secara cermat. Para pemain terlihat lebih segar dibandingkan dengan Uruguay, berkat pelayanan bak tinggal di hotel selama perjalanan udara dari Montevideo. Ketelitian dalam mengatur persiapan dipadukan dengan pola permainan yang mengutamakan tempo, membuat Mark Viduka cs pantas menerima ''undangan'' untuk hadir di Piala Dunia. Melihat nama-nama yang bercokol di Timnas Australia, mereka memang pantas ''diundang''. - Sebenarnya Uruguay juga demikian. Bahkan salah satu pemainnya Alvaro Recoba, pernah menjadi pemain dengan gaji termahal di dunia. Namun, sebagai sebuah pesta, Piala Dunia memang tak bisa sempurna mengundang ''tamu-tamu terhormat''. Kamerun dengan Samuel Eto'o-nya yang terpilih sebagai Pemain Terbaik Afrika 2003 dan 2004, gagal berangkat ke Jerman karena disingkirkan Pantai Gading. Tiga tahun lalu, Ruud van Nistelrooy mengungsi jauh dari ingar-bingar Piala Dunia dengan berlibur ke Amerika Serikat, seiring dengan ketidaklolosan Belanda. Prancis pernah mengalami hal serupa. Blunder David Ginola membuat mereka gagal berangkat ke AS 1994 karena ditundukkan Bulgaria di kandang sendiri dalam partai terakhir grup. - Dengan jumlah peserta menjadi 32 negara, tinggal sedikit bintang dunia yang terpaksa harus menjadi penonton. Inilah bedanya dengan era 1970-an dan 1980-an. Namun, tetap saja kejutan bisa terjadi kalau ada pemain yang membangkang seperti dilakukan bintang Belanda Johan Cruyff dalam Piala Dunia 1978 di Argentina. Begitu juga dengan kengototan pelatih untuk tidak memperhatikan usulan publik seperti ditempuh Aime Jacquet yang meninggalkan Eric Cantona dalam Piala Dunia 1998 atau Luiz Felipe Scolari yang memilih tidak memanggil Romario tiga tahun lalu. Begitulah, Piala Dunia memang sarat drama sejak prakualifikasi. Apalagi kompetisi domestik maupun benua makin ketat sehingga bintang pun bisa absen di Piala Dunia karena cedera. - Piala Dunia merupakan magnet bagi siapa saja. Dan kita pun tetap kebagian getarnya, sekalipun hanya sebagai penonton siaran langsung televisi. Memang, paling banter hanya bisa menjagoi tim favorit tanpa membicarakan dimensi nasionalisme. Ketika Liga Indonesia digelar pada 1994, PSSI mencanangkan Indonesia harus bisa berlaga ke Piala Dunia 2006. Akan tetapi, sampai menjelang Germany 2006, keinginan itu gagal dicapai. Melihat pola pembinaan dan wajah kompetisi kita, agaknya masih perlu waktu panjang bagi negeri ini untuk mengulang saat Hindia Belanda mengikuti Piala Dunia 1938 di Prancis. Apalagi Australia dipisahkan dari Zona Oceania dan mulai tahun depan bakal efektif menjadi anggota Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC). |