| Jumat, 18 Nopember 2005 | SALA |
Susu Cair Rentan Tercemar ToksinKLATEN - Susu cair rentan tercemar atau terkontaminasi toksin. Apalagi, bila proses pengolahannya tidak memenuhi standar kesehatan. Hal itu mengemuka dalam rapat evaluasi membahas soal keracunan susu yang terjadi di SDN 4 Klaten dan SD Muhammadiyah Tonggalan, di Kantor Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP), kemarin. ''Seperti yang dikemukakan dokter Roni dari Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial bahwa susu cair rentan atau mudah terkontaminasi racun dan bakteri. Termasuk pengemasannya, harus sesuai dengan standar kesehatan,'' kata Plt Kepala DPKP Pudji Untung Surarso, seusai rapat evaluasi. Disinggung tentang pemakaian genset saat proses pasteurisasi, ternyata berbeda dari pernyataan Agus Sutomo sebelumnya. Karyawan KUD Jatinom ini sebelumnya mengaku bahwa listrik sempat padam saat proses pasteurisasi. Selanjutnya, para pekerja menghidupkan genset untuk menyuplai tenaga listrik ke peralatan pasteurisasi. Namun, Pudji menjelaskan pemakaian genset dilakukan saat penyimpanan susu olahan. ''Jadi sebenarnya proses pasteurisasi sudah selesai saat aliran listrik PLN padam. Genset digunakan untuk mengaktifkan mesin pendingin sebagai tempat penyimpanan susu yang telah dikemas. Baru pagi harinya, susu dibagikan kepada dua sekolah itu, dan tidak disangka timbul masalah.'' Tak Masalah Program tersebut sudah berjalan beberapa waktu. Bulan Oktober lalu, program bantuan serupa ditujukan kepada para anggota PKK dan tidak timbul masalah. Sementara bantuan untuk para siswa SD dimulai Selasa (14/11) lalu yang diawali di SDN Jebugan 1 dan Jebugan 2, serta SDN Semangkak Kecamatan Klaten Tengah. Hari pertama juga tidak timbul masalah. Pihaknya membantah bahwa program yang didanai APBD senilai Rp16 juta itu tidak melibatkan Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial (DKKS). ''Sebelumnya, kami sudah mengirimkan surat tiga kali ke DKKS. Mereka kami minta melakukan pemantauan dan menunjuk petugas pembagian susu di sekolah. Yang jelas, untuk sementara program bantuan ini dihentikan dulu sembari menunggu evaluasi menyeluruh. Kami juga masih menunggu hasil penyelidikan Polres Klaten.'' Apa tujuan awal program bantuan tersebut? Kasi Produksi dan Pengembangan Peternakan Subdin Peternakan DPKP Klaten Sri Sumarti mengaku, program memiliki dua tujuan. Pertama, memberdayakan peternak sapi agar pendapatannya meningkat. Selama ini, para peternak mengeluh karena hasil susunya hanya dihargai sangat rendah, Rp 1.400/ liter. Kedua, diversifikasi usaha KUD Jatinom. Diharapkan, dengan pengolahan susu ini maka bisa meningkatkan hasil produk susu olahan. ''Sekarang ini, pengolahan susu dimonopoli oleh industri pengolahan susu (IPS) yang menerapkan harga susu petani sangat rendah. Apalagi, pemerintah sudah tidak campur tangan lagi, sehingga mereka bisa menentukan harga secara sepihak.'' (G10-42d) |