| Jumat, 18 Nopember 2005 | SALA |
Keraton Harus Jadi Pusat BudayaPABELAN - Untuk menjaga keberadaan Keraton Kasunanan Surakarta di era modern sekarang, penguasa keraton tidak hanya menjaga atau menginventarisasi aset-aset fisik. Namun, yang lebih penting adalah menjaga aset-aset tradisi bernilai lebih. "Menjaga nilai-nilai tradisi keraton, tidak cukup dengan cara menggelar upacara-upacara ritual atau mewariskan tari-tarian. Namun, bagaimana menjadikan keraton sebagai pusat budaya, yang mampu melahirkan ide-ide bagi kelestarian budaya bangsa," kata KP Eddy S Wirabumi, salah seorang kerabat keraton, di sela-sela seminar "Eksistensi Keraton Surakarta pada Era Modern" di UMS, Pabelan, Sukoharjo, kemarin. Selain Eddy S Wirabumi, seminar yang diselenggarakan oleh Program Pascasarjana UMS itu menghadirkan Wali Kota Surakarta Joko Widodo, Prof Dr Sigit Santoso, dan Dr Nurhadiyanto sebagai pembicara. Menurut Eddy, untuk menjaga eksistensi pihak keraton, kini tidak lagi defensif menunggu uluran tangan dari luar. Namun, sudah mulai berusaha ofensif, untuk mengadakan kerja sama dengan pihak luar. Misalnya, dengan Pemkot, lembaga-lembaga dan instansi, serta masyarakat yang peduli nasib keraton. "Sebenarnya Keraton Surakarta sudah eksis sejak dulu, hanya butuh perhatian dari masyarakat lebih luas," tegas menantu Paku Buwono XII itu. Dr Nurhadiyanto mengemukakan, keberadaan Keraton Kasunanan Surakarta tidak lepas dari kehidupan masyarakat sekitarnya. Dalam era global sekarang ini, keraton diharapkan mampu menjaga nilai-nilai moral dan budaya serta menjadi suh atau tali pengikat bagi masyarakat. "Untuk menjaga wibawa dan menghindari konflik internal, para penguasa keraton harus mau belajar dari sejarah. Di samping itu, bersedia belajar pada kerajaan-kerajaan kecil di Indonesia yang masih bertahan dan mampu menjadi pengikat masyarakat," kata dosen Pascasarjana UMS itu. (G8-27h) |