| Jumat, 18 Nopember 2005 | SALA |
Minta Bantuan Gubernur untuk Kembangkan SCTCBALAI KOTA - Pemkot Surakarta mengajukan permohonan bantuan Rp 3,8 miliar kepada Gubernur Jateng, Mardiyanto, untuk mengembangkan Surakarta Competency and Technology Centre (SCTC). Lembaga pendidikan hasil kerja sama antara Pemkot, Akademi Teknik Mesin Industri (ATMI) Surakarta, dan Indonesia Germany Institute (IGI) tersebut berniat menambah beberapa program. "Kalau sebelumnya hanya teknologi mesin perkakas, akan ditambah lagi program desain garmen, grafika (percetakan), dan mebel," kata Kepala Badan Perencanaan Daerah (Bapeda) Kota Surakarta, Ir Masrin Hadi, kemarin. Penambahan ketiga program tersebut, lanjut dia, didasarkan banyak potensi di Solo. Industri percetakan, misalnya, tergolong cukup besar. Hal itu berdasarkan fakta, 60% buku pelajaran yang dipergunakan sekolah di seluruh Indonesia dicetak di Kota Bengawan. "Kan ironis sekali, pencetakan buku pelajaran didominasi Solo, tetapi sekolah percetakan tidak punya," ujarnya. Selain mengajukan bantuan kepada Gubernur, kata dia, SCTC mengusulkan pembiayaan Rp 4,5 miliar untuk dialokasikan dalam APBD 2006. Pengembangan Dana tersebut, menurut dia, akan digunakan sebagai pengembangan gedung, yang direncanakan berlokasi di Mojosongo, di atas lahan seluas 5.000 m2 milik Pemkot. "STCT mendapatkan bantuan perkakas dari Pemerintah Jerman sekitar Rp 3 miliar, sehingga perlu pengembangan untuk menampung," jelasnya. Lembaga pendidikan yang mulai beroperasi 2002 itu, tutur dia, kini sudah mendapatkan pengakuan internasional. Bahkan, Pemerintah Jepang, baru-baru ini meminta enam mahasiswa terbaik untuk ditarik ke sana. Selain itu, beberapa perusahaan perkakas mesin internasional memperhitungkan lulusan SCTC. "Unican, perusahaan pembuatan kemasan skala internasional, juga memakai lulusan SCTC," ungkapnya. Lembaga pendidikan yang diharapkan bisa mengentaskan pemuda penganggur di Solo itu, kata dia, kini juga menjadi rujukan bagi tujuh provinsi. Dalam APBD 2005, Pemkot telah menyediakan program dana pinjaman bergulir bagi pemuda penganggur dari keluarga tidak mampu, guna mengikuti pendidikan dan pelatihan kompetensi keterampilan mesin, senilai Rp 100 juta. Biaya pendidikan dan latihan Rp 5,25 juta/orang dan pemuda penganggur bisa membayar setelah diterima bekerja. (G13-27h) |