| Jumat, 18 Nopember 2005 | SALA |
Penataan Pengging Didukung Departemen PU
KOTA-Kawasan wisata Pengging di Kabupaten Boyolali akan direvitalisasi. Penataan kembali bekas Kerajaan Pengging yang dibangun Pramu Kusumawicitra pada tahun 1026 itu didukung Departemen Pekerjaan Umum, dengan menyediakan prasarana. "Departemen Pekerjaan Umum mempunyai program khusus penataan Pengging dan mendapat perhatian serius Menteri Pekerjaan Umum. Rencana induk kawasan Pengging harus disusun, dan kami membantu penyediaan prasarana," kata Sekjen Departemen Pekerjaan Umum Roestam Sjarief, di sela-sela diskusi "Penataan Kembali Kawasan Wisata Pengging", kemarin. Diskusi di Hotel Dana Solo itu diselenggarakan oleh Departemen Pekerjaan Umum bekerja sama dengan UNS, Pemprov Jateng, dan Pemkab Boyolali. Hadir, antara lain, Bupati Boyolali Sri Moeljanto dan Rektor UNS Prof Dr Dokter HM Syamsulhadi SpKJ. Kawasan Pengging, lanjut Sjarief, mempunyai daya tarik tersendiri sebagai objek wisata alam dan spiritual, misalnya kungkum (berendam). Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, kata dia, berpesan sebaiknya pembangunan infrastruktur kawasan itu berbasis penataan ruang Boyolali. Bangunan dan lingkungan bersejarah yang sudah masuk cagar budaya perlu dilindungi dan dilestarikan. "Rencana itu sebaiknya tak terbatas pada penataan fisik kawasan, tetapi juga meliputi pemrograman pembangunan dan pengelolaan kawasan. Hasil perencanaan sangat bermanfaat, jika ditetapkan dalam bentuk SK bupati atau perda Boyolali," tandasnya. Ketika ditanya apakah yang akan ditata hanya lokasi wisata sekarang atau diperluas termasuk ke area permukiman penduduk, Sjarief tak menjawab tegas. Dia hanya mengatakan, secara prinsip memperhatikan kemungkinan dampaknya. Apalagi pendekatannya partisipatif dan perumusannya melibatkan seluruh pihak yang berkepentingan dalam penataan Pengging. Miniatur Wisata Pengging berkembang sejak puluhan tahun lalu, terutama terfokus pada Umbul Pengging dan Makam Yosodipuro, baik untuk rekreasi alam tirta dan tirakat maupun ziarah spiritual. Kunjungan meningkat pada hari-hari yang dianggap sakral oleh orang Jawa, contohnya malam Jumat Pahing. (D11-27t) |