logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 18 Nopember 2005 PANTURA
Line

Desa Tambakroto

Pusat Pembelajaran Tanaman Obat

BEBERAPA pemuda, terlihat serius mengamati pot-pot berisi tanaman obat yang berjejer di sebuah bangunan berbentuk rumah tradisional. Salah seorang wanita setengah baya, terlihat menerangkan jenis tanaman tersebut berikut fungsinya.

Sepintas, orang awam akan mengira bahwa mereka adalah sekumpulan mahasiswa yang tengah melakukan penelitian atau ujian praktik. Padahal, mereka adalah pemuda kampung biasa yang memang tengah giat berlatih dan meneliti tanaman obat.

Desa Tambakroto, Kecamatan Kajen, merupakan desa yang terletak di pinggiran hutan. Tidak heran, jika banyak jenis tanaman yang ada di desa tersebut. Antara lain, tanaman temu lawak (Curcuma xanthorthiza), kencur (Kaempferia galanga), bratawali (Tinuspora terculata), jahe (Zingiber officinale), dan kuping gajah (Anthurium crystallianum).

Jauh hari sebelumnya, tidak banyak yang menganggap tanaman-tanaman tersebut bisa mengubah sebagian wajah Desa Tambakroto.

Melihat potensi tanaman obat yang belum banyak termanfaatkan tersebut, pada 21 September 2003 beberapa anggota masyarakat dan tokoh pemuda membentuk kelompok swadaya masyarakat (KSM) yang diberi nama Jaringan Masyarakat Peduli Tanaman Obat (Jampi Tobat).

"Lembaga itu dibentuk untuk mewujudkan kelestarian kawasan hutan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar hutan," ujar Mashudi (50), koordinator Jampi Tobat.

Sejak disepakati bersama untuk membuat wadah itu, para pemuda yang semula senang kumpul-kumpul kini terfokus kepada persoalan tanaman obat. "Khusus untuk masalah tanaman obat, para pemuda menyediakan waktu tersendiri. Mulai mengadakan berbagai program, sampai memperbanyak referensi dari buku, majalah, koran, dan media lainnya, yang membahas masalah tanaman obat," ujarnya.

Dalam kegiatan yang dilakukan pada waktu libur itu, sebagian anggota mencari informasi ke masyarakat sekitar berkait dengan resep-resep pengobatan yang berasal dari tanaman, dan kemudian didiskusikan bersama.

"Sampai Oktober 2004, kami telah memiliki sekitar 50 jenis tanaman obat. Yang berhasil diidentifikasi sekitar 20 jenis tanaman," tegasnya

Luar Negeri

Bekerja sama dengan LSM Komuniti Forestri, Jampi Tobat secara serius terus mematangkan proses identifikasi dan pengumpulan tanaman obat. Keseriusan tersebut, ternyata mampu menarik minat sebuah lembaga donor dari luar negeri. Lembaga itu, kemudian menandatangani kesepakatan untuk bekerja sama mengembangkan tanaman obat di pusat pembelajaran di Tambakroto.

Jadilah kemudian, Tambakroto sebagai pusat penelitian dan pembelajaran tanaman obat. Tempat itu, tidak hanya menjadi pusat belajar tentang berbagai tanaman obat bagi masyarakat Tambakroto, melainkan juga bagi masyarakat desa lainnya.

"Beberapa pejabat, salah satunya Kapolres Pekalongan, AKBP Drs Lotharia Latif, secara khusus memesan berbagai tanaman obat untuk mengisi taman di rumah dinasnya," ujar Mashudi.

Koordinator Komuniti Forestri Kabupaten Pekalongan, Thomas Hariadi, mengatakan, Jampi Tobat adalah salah satu contoh bagaimana keseriusan masyarakat dalam belajar bisa membawa hasil yang tidak kalah dari kerja para akademisi.

"Kini, Tambakroto menjadi learning center bagi masyarakat daerah lain," ujarnya.

Potensi di Tambakroto, seperti juga di desa lainnya di pinggiran hutan, sebenarnya sangat melimpah. Cuma sayangnya, banyak potensi hutan yang belum dioptimalkan budi dayanya.

"Jika potensi itu digarap serius, saya yakin banyak pula potensi lain yang bisa ditemukan dan dikembangkan," tandasnya. (Muhammad Burhan-54a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA