logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 18 Nopember 2005 EKONOMI
Line

Produksi Jamur Masih di Bawah Permintaan

SEMARANG- Pengembangan bisnis budidaya jamur saat ini memiliki prospek yang menguntungkan. Apalagi permintaan jamur terbilang lebih tinggi bila dibandingkan dengan jumlah produksi yang ada.

Hal inilah yang mendorong Endra Tri S, pengelola usaha jamur Giga Sagano untuk menangkap peluang itu.

Bersama lima orang kawannya, alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro tahun 2004 ini membuka lahan seluas 300 meter persegi di pinggir Jalan Raya Manyaran-Gunungpati, Kuasenrejo, Gunungpati.

''Keinginan kami untuk mengembangkan usaha ini berawal dari tingginya potensi bisnis jamur. Kami lihat persaingannya belum begitu ketat karena yang mengusahakannya juga sedikit,'' katanya, kemarin.

Menurutnya usaha jamur ini lebih banyak dikembangkan oleh usaha kecil menengah (UKM) atau skala rumah tangga. Rata-rata log (media tanam jamur) yang dimiliki berkisar antara 1000-2000 log. Bahkan, permintaan untuk kota Semarang saja bisa mencapai ratusan kilo per hari. Selain itu, jamur juga disuka masyarakat karena dikenal rasanya yang enak dan bebas kolesterol.

Sebelum memulai usaha, mulanya mereka bersama-sama aktif di kepengurusan Karang Taruna Kota Semarang. Lalu timbul ide untuk mengembangkan usaha bersama.

Dengan modal patungan sebesar Rp 10 juta, mereka mulai merintis usaha sejak 6 bulan lalu. Dengan 5.000 media tanam yang sudah dimiliki, kini usaha tersebut sudah mampu melakukan panen jamur kuping dan jamur tiram.

Selain produk jamur mentah, juga diproduksi bibit log dan keripik jamur. Agar jumlah produksinya meningkat, ia berkeinginan untuk menambah media tanam hingga 20.000 log.

''Keripik jamur seharga Rp 12.500 per bungkus merupakan produk yang paling banyak disuka konsumen,'' katanya.

Pameran

Untuk mengenalkan produknya pada pasar, Endra lebih memilih mengikuti bazar atau pameran.

Dari beberapa pameran yang diikuti, banyak konsumen yang tertarik. Bahkan, ia mengaku kesulitan untuk menambah stok karena sering kehabisan.

''Kalau sedang tidak ada pameran, biasanya kami menitipkannya melalui toko-toko ataupun rumah makan,'' katanya.

Meski usaha tersebut tergolong baru namun telah mampu meraup keuntungan bersih hingga Rp 1,3 juta sebulan. Agar usahanya lebih berkembang ia berharap mampu bekerja sama dengan pihak lain untuk memperluas jaringan pemasaran. Di samping juga dengan lembaga penyaluran kredit.

Untuk mengembangkan usaha jamur ini, kata dia, tidak begitu sulit.

''Asal tahu caranya pasti bisa berhasil,'' katanya. Ia menjelaskan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat log antara lain limbah kayu (grajen), bibit jamur, tepung, bekatul, gula pasir, menir, jagung, kapur dan air yang dicampur sesuai komposisi. Bahan-bahan tersebut dikemas dalam plastik lalu dimasukkan ke tungku masak selama 8 jam. Selanjutnya, log didinginkan sehari semalam. Bibit jamur pun siap ditaburkan.

''Panen bisa dilakukan 2-3 bulan masa tanam,'' katanya. (mhr-59)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA