| Jumat, 18 Nopember 2005 | EKONOMI |
Inflasi Global Akan Terus MengadangSEMARANG- Stagnasi ekonomi yang terjadi bersamaan dengan kenaikan laju inflasi bisa menjadi ancaman perekonomian Indonesia. Faktor eksternal ekonomi ditengarai berpengaruh pada ekonomi Indonesia. Menurut pengamat ekonomi Faisal Basri, situasi perekonomian sekarang cenderung mengarah ke demand shock yang didorong oleh kenaikan permintaan minyak mentah. Kenaikan yang di luar prediksi ini diikuti penurunan tajam dalam produksi sehingga mendorong kenaikan harga minyak berkali-kali lipat. ''Harga minyak mentah yakni di sekitar 60 dolar AS merupakan tantangan pembangunan ekonomi Indonesia tahun mendatang,'' katanya dalam seminar Markplus Forum Indonesia: Economic Outlook 2006 di Patra Semarang Convention Hotel Rabu (16/11). Sampai tahun ini sudah terjadi kenaikan harga minyak sampai sebelas kali. Padahal setiap kali harga minyak mentah dunia naik sebesar 10 dollar AS, pemerintah harus menanggung defisit APBN sebesar Rp 2 triliun. Sementara itu, di tengah harga minyak yang melambung Bank Sentral Amerika menaikkan suku bunganya secara terus menerus dari 1% di Juni 2001 menjadi sekitar 3,75% pada kuartal ketiga tahun 2005 ini. Hal ini tentunya semakin memberatkan ekonomi Indonesia karena memaksa pemerintah untuk menaikkan suku bunga SBI yang berdampak pada konsumsi maupun investasi. ''Sulit membayangkan harga minyak bumi akan turun ke level yang sama pada tahun 2004. Permintaan minyak mentah dunia ini masih akan tetap kuat pada 2006, terutama dari China dan negara-negara berkembang lainnya,'' katanya. Inflasi Terburuk Selain itu, tantangan pembangunan ekonomi Indonesia pada 2006 lain berupa inflasi global, sentimen proteksionisme dan sengketa dagang sebagai akibat terjadinya global imbalances, flu burung, dan aksi terorisme. Ia juga menyebutkan ada lima permasalahan utama yang harus dihadapi, yaitu mampu mengatasi pertumbuhan ekonomi yang rendah, mengikis open unemployment dan under-employment, memerangi kemiskinan dan ketimpangan sosial, menyehatkan perbankan dan pengeloalan hutang dan struktur APBN. Sambil berkilas perekonomian Indonesia, Faisal menyebutkan pemulihan pembangunan ekonomi terus tertatih-tatih sejak 2003. Oleh karenanya kini masih bisa dilihat program yang masih berlangsung dilakukan yakni Program Penjaminan Perbankan (blanket guarantee). Untuk dana pihak ketiga (DPK) baru akan mulai dikurangi secara bertahap pada Maret 2006. Oleh karenanya, laju inflasi (year of year) pun membumbung tinggi hingga level 17,89% pada Oktober 2005. Dibandingkan dengan negara Asia lainnya, Indonesia merupakan negara yang mengalami peningkatan inflasi terburuk. Meski demikian, ia optimistis sejak diperkenalkan untuk pertama kalinya, BI rate selalu mendahului pergerakan suku bunga SBI-1 bulan secara searah. Jadi BI rate bisa dipandang sebagai pembentuk ekspektasi yang efektif. (mhr- 59) |