| Selasa, 15 Nopember 2005 | SALA |
Musik Campursari (3-Habis)Para Pesinden Beramai-ramai HengkangBAGAIMANA kisahnya dua kakak beradik pesinden cantik asal Gondang, Sragen, yaitu Nyi Anik Sunyahni dan Nyi Amik DS begitu betah dan enjoy sebagai penyanyi orkes keroncong campursari? Bagaimana pula kisah Nyi Sulastri yang diam-diam meninggalkan klenengan dan wayang kulit? Ada apa dengan Nyi Purwanti yang sudah lama meninggalkan kelompok kesenian wayang kulit yang dipimpin Ki Purba Asmara? Usut punya usut ternyata ada tiga jawaban sederhana tetapi sangat beralasan. Jawaban itu adalah ada kebebasan berekspresi yang didapat dalam sajian musik campursari. Kebebasan itu tidak mungkin didapat pada pertunjukan seni tradisional semacam wayang kulit atau klenengan. Kedua, posisi tawar seorang penyanyi campursari ternyata secara umum rata-rata lebih tinggi dibandingkan dengan ketika menjadi pesinden atau swarawati. Alasan ketiga yang cukup vital adalah menjadi penyanyi campursari tidak harus ikut dalam permainan wayang atau klenengan semalam suntuk, melainkan cukup satu atau dua jam dan sehari bisa berpindah tempat sampai dua tiga lokasi. Kebebasan berekspresi itu menyangkut cara membawakan lagu yang begitu pasif pada sajian wayang kulit atau klenengan, sedangkan di musik campursari seorang penyanyi bisa membawakan lagu dengan berdiri sambil bergoyang-goyang. Menjadi pesinden busana atau kostum sangat terpaku dalam bingkai konvensional, sedangkan menjadi artis campursari bisa tampil dengan mode trendy seperti selebritas. "Nah, niku le mas, bentene nyindhen kaliyan dados penyanyi campursari. La, yen kados ngoten perbandingane rak mboten klintu menawi kula milih dados penyanyi campursari (Nah begitu lo Mas bedanya menjadi pesinden dengan penyanyi campursari. La kalau begitu perbandingannya kan tidak keliru kalau saya memilih menjadi penyanyi campursari-Red), " tutur Nyi Purwanti (30) dalam bahasa Jawa krama campuran, kemarin. Inti yang diungkapkan oleh istri Sri Widodo pemilik grup Orkes Keroncong Campursari (OKC) Mulyo Laras yang berdomisili di Desa Manjung, Sawit, Boyolali itu adalah ada perbedaan mencolok antara menjadi pesinden dan penyanyi campursari sehingga ia memilih alih profesi dan "tega" meninggalkan Ki Purba Asmara. Tiga perbedaan yang mendasar sebagaimana diungkapkan oleh Purwanti dan juga dirasakan oleh Nyi Anik Sunyahni, Nyi Amik DS, Nyi Sulastri, termasuk Nyi Nurhana istri dalang Ki Djoko Hadiwidjoyo itu ternyata sangat menggiurkan para pesinden untuk hengkang dari wilayah komunitas kesenian tradisional Jawa ke wilayah musik campursari. Kesimpulan sementara menjadi artis campursari jelas lebih bebas, bisa eksis dengan totalitas penampilan secara fisik, dan terakhir pendapatannya jauh lebih tinggi dari menjadi pesinden. Lalu, bagaimana kisahnya rata-rata yang membanjiri pasaran artis campursari ternyata kebanyakan dari pesinden? Untuk menjawab perlu pencermatan lebih seksama atau intensif karena itu terkait dengan modal dasar karakter suara yang dibutuhkan lagu-lagu campursari, berikut keikutsertaan beberapa instrumen gamelan yang bersenyawa dalam musik campursari. Perubahan Namun yang jelas hasil akhir sebuah proses kreatif dan eksperimen inovasi untuk menggabungkan berbagai unsur musik ke dalam bentuk baru yang disebut musik campursari itu ada perubahan mendasar yang memiliki ekses negatif dan positif. Ekses positif mungkin dirasakan oleh Nyi Anik Sunyahni yang kini selain memiliki Grup OKC Jamus (Java Musik), punya studio rekaman di Yogyakarta. Juga bagi Nyi Purwanti yang selain tenar dan lebih bergaya sebagaimana selebritas, punya grup campursari serta menghasilkan sebuah mobil Honda Jazz baru dari jerih payahnya menggeluti campursari. "Ya terus terang begitulah. Saya pamit mengundurkan diri dari grup Mas Purba (Ki Purba Asmara-Red) karena memang ingin mandiri (sebagai penyanyi campursari-Red). Kalau ikut wayang atau klenengan harus menunggu semalam suntuk. Tetapi jadi penyanyi campursari dalam sehari bisa pindah dua tiga tempat," tutur Purwanti. Berbagai perbedaan itu diakui oleh Ki Purba Asmara yang hampir hafal perjalanan karir para pesinden sebayanya atau para pendatang baru tetapi sudah berganti jalur ke "jurusan" campursari. Menurut dalang yang tinggal di Perumahan Clolo, Kadipiro, Banjarsari, Solo itu ekses positif dari perkembangan dunia musik itu sudah terbukti nyata, tetapi ekses negatif atau bahaya yang ditimbulkan terhadap eksistensi seni wayang dan karawitan atau klenengan juga cukup signifikan. "Sampeyan bisa bayangkan sekarang sulit setengah mati mendapatkan pesinden cantik, berpostur tubuh baik, dan punya suara bagus. Kebanyakan memilih menjadi penyanyi campursari yang hasilnya lebih banyak, waktunya singkat, dan tidak terlalu menguras energi. Gengsinya konon juga naik. Apa itu tidak membahayakan eksistensi kesenian wayang dan karawitan?" ujar dosen di STSI Solo itu. Apa yang diungkapkan oleh beberapa orang, terutama yang langsung merasakan dampak positif menjadi bagian dari dunia musik campursari itu belum sampai pada tahap pemikiran yang dilontarkan oleh Didi Kempot, yaitu pendirian sebuah organisasi. Sebab, jika kesempatan berserikat makin terbuka dan longgar dengan catatan karena ada peningkatan peran dan secara ekonomis sangat menguntungkan, maka pasti segera dilakukan. (Won Poerwono-27) |