logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 15 Nopember 2005 MURIA
Line

Korban Kebakaran KA BBM, Kondisinya Kini (2-Habis)

"Semestinya Kerugian Harian Harus Dihitung"

DENGAN kata-kata yang emosional, Slamet (40), pemilik warung yang tempat berjualannya ikut pula ludes dilalap api dalam musibah kebakaran empat gerbong kereta api (KA) pengangkut BBM (Jumat, 23/9), mempertanyakan ganti rugi.

"Semua harus ikut bertanggung jawab. Tidak hanya sopir tetapi Pertamina dan PT KA juga harus bertanggung jawab dong," tandasnya.

Pernyataan itu bisa dimaklumi. Sebab, sumber mata pencahariannya selama ini hilang seketika akibat musibah tersebut.

Menurut penuturan dia, hingga saat ini dirinya belum akan membuka kembali usahanya. Selain belum memperoleh tempat yang cocok, dirinya enggan pindah dari lokasi yang sudah terbakar tersebut dengan alasan biaya.

"Bayangkan saja, untuk membuka tempat usaha baru perlu uang. Seperti untuk membeli terpal dan perabotan lainnya," ucapnya.

Kemudian dia menceritakan, sebelum terbakar warung miliknya, ayam bakar Lestari, per hari beromzet sekitar Rp 1,5 juta. Dengan mempekerjakan enam karyawan, dia menyebutkan, jumlah pelanggannya ratusan orang.

Menurut keterangan dia, satu porsi dijual dengan harga Rp 8.000. "Setiap hari warung saya bisa menghabiskan 50 ayam. Per ekor bisa menjadi empat hingga lima porsi," tuturnya.

Berdasarkan perhitungan inilah, dia menyebutkan, selain memberikan ganti rugi bangunan yang terbakar semestinya instansi terkait memberikan pula ganti rugi kepada pemilik warung secara harian. Sebab, ujarnya, sejak musibah terjadi sebagian pemilik warung tidak beroperasi lagi.

"Semestinya kerugian harian yang kami alami juga dihitung," tandasnya.

Menyambung Hidup

Berbeda dari Slamet, Mujiyanto (35), warga yang rumah dan warungnya yang juga ikut terbakar memilih untuk ber-jualan lagi di bekas rumah yang terbakar tersebut.

Dengan menjual makanan dan minuman ringan, warung yang terletak hanya sekitar lima meter dari rel KA ini sering menjadi tempat berkumpul warga. "Untuk menyambung hidup," ujarnya memberi alasan membuka kembali warungnya.

Sama seperti warga lain yang menjadi korban kebakaran lainnya, dia menyatakan hingga saat ini belum menerima ganti rugi. Padahal, katanya, kerugian yang dideritanya akibat musibah ini lebih kurang Rp 150 juta.

Sementara itu, Agung Wahyudi (43), salah seorang korban lainnya menyebutkan, pihaknya tidak lagi berkonsentrasi menggeluti usahanya seperti sebelum musibah tersebut terjadi. Sebab, lanjutnya, setiap kali keluar rumah yang terpikir hanyalah bagaimana membangun kembali rumah yang terbakar itu.

"Yang ada dalam pikiran adalah persoalan itu-itu terus. Kami pusing memikirkan dapat uang dari mana untuk membangun rumah. Akibatnya, kami tidak berkonsentrasi mencari nafkah," paparnya yang sehari-hari menjadi sopir panggilan itu. (Abdul Muiz-17j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA