logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 15 Nopember 2005 INTERNASIONAL
Line

Akibat Minum Tamiflu, Dua Remaja Menjadi Gila dan Tewas

TOKYO - Dua remaja laki-laki Jepang tewas setelah minum obat antiflu Tamiflu. Kejadian itu sebetulnya terjadi tahun lalu. Namun, perusahaan Jepang produsen Tamiflu Chugai Pharmaceutical Co baru Senin kemarin mengonfirmasi bahwa kematian dua remaja itu terkait dengan obat antiflu.

Chugai adalah pemegang lisensi Roche Holding AG yang memiliki hak paten produksi Tamiflu, obat antiflu burung.

Kementerian Kesehatan Jepang juga sedang mengusut kasus kematian itu. Dua remaja itu bertingkah laku aneh tidak lama setelah minum obat itu. Kementerian Kesehatan menyatakan, pihaknya pada tahun lalu telah menginstruksikan produsen obat untuk memperingatkan para dokter akan dampak sampingan obat itu. Obat Tamiflu ternyata menimbulkan efek samping seperti perilaku abnormal.

Gara-gara insiden itu, saham Chugai mengalami kerugian 2,6 persen menjadi 2.640 yen pada Senin kemarin. Hal ini berdampak pada performan transaksi bursa sektor farmasi di Bursa Saham Tokyo sehingga merosot 1,3 persen.

Tamiflu dianggap sebagai obat paling mujarab untuk melawan virus flu burung yang menyerang manusia. Obat ini diharapkan bisa memperlambat penyebaran pandemi virus flu H5N1 yang bisa saja menular dari manusia ke manusia.

Harian Mainichi dan kantor berita Kyodo melaporkan Sabtu lalu, seorang remaja SMA berusia 17 tahun melompat ke depan sebuah truk yang sedang melaju pada Februari lalu tidak lama setelah dia minum obat itu. Pada kasus lain, seorang remaja SMP terjun dari apartemen rumahnya, juga setelah minum obat itu.

''Kami telah melaporkan kasus itu pada Kementerian Kesehatan. Kemungkinan besar, ada kaitan antara konsumsi obat itu dengan perilaku yang mengakibatkan kematian,'' kata juru bicara Chugai.

Penyimpangan Psikologis

Deputi Direktur Divisi Keamanan pada Kementerian Kesehatan Shinichi Watanabe mengatakan, kementerian telah memerintahkan Chugai pada Mei tahun lalu untuk menyertakan liflet atau informasi pada kemasan obat itu. Liflet itu harus menjelaskan dampak samping obat itu yang bisa menimbulkan penyimpangan saraf dan psikologis.

Instruksi itu dikeluarkan berdasarkan laporan-laporan yang diterima Kementeian Kesehatan tentang efek samping obat itu.

Chugai, yang separo sahamnya dimiliki Roche, semenjak itu menambahkan informasi tentang efek samping obat. Efek samping lain lainnya adalah mengakibatkan ketidaksadaran, perilaku abnormal dan halusinasi. Perusahaan farmasi itu meminta perhatian para dokter terhadap gejala-gejala efek samping itu.

Watanabe mengatakan, Kementerian belum ada rencana untuk memberlakukan pembatasan penggunaan obat itu atau mengeluarkan peringatan tambahan. ''Kaitan antara perilaku abnormal dan obat itu tidak bisa dikesampingkan. Namun, obat ini juga tidak bisa dijadikan satu-satunya penyebab kasus penyimpangan perilaku itu,'' kata dia.

Badan Medis dan Farmasi telah menerima laporan 64 kasus penyimpangan psikologis sebagai akibat konsumsi obat itu antara tahun 2000 dan 2004.

Kementerian Kesehatan tidak dapat mengkonfirmasi jumlah kasus penyimpangan neurologis dan psikologis yang terkait dengan Tamiflu.

Chugai meluncurkan Tamiflu di Jepang pada 2001. Saat wabah flu lalu, perusahaan itu memproduksi obat-obatan untuk kebutuhan 10 juta orang.

Pemerintah Jepang secara terpisah Senin kemarin mengumumkan rencana untuk mengatasi kemungkinan wabah flu burung di antara manusia. Antara lain, rencana untuk menggenjot ketersediaan Tamiflu agar cukup bagi kebutuhan perawatan 25 juta orang selama lima hari.(rtr-gn-25)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA