logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 14 Nopember 2005 SALA
Line

TSTJ Jadi Penangkar Merak

JURUG-Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) Solo akan ditunjuk sebagai penangkar merak. Menurut Kepala Unit Pengelola TSTJ dokter hewan Sayono Amiradji, meski masih secara lisan rencana itu sudah disampaikan oleh Dirjen Pelestarian Hutan dan Konservasi Alam Departemen Kehutanan Ir Koes Saparjadi MF.

"Saat menghadiri penyerahan singa afrika dan kuda nil mini dari Kebun Binatang Surabaya di TSTJ 21 Oktober lalu Pak Dirjen (Koes Saparjadi-Red) tertarik melihat perkembangan merak yang bagus di sini. Lalu dia menyatakan TSTJ akan dijadikan penangkar merak. Mungkin se-Indonesia baru di TSTJ," kata Sayono, kemarin.

Dirjen PHK, lanjut dia, juga menyarankan agar pengelola TSTJ segera menyiapkan identitas khusus bagi unggas langka hasil penangkaran kebun binatang dalam kompleks taman di pinggir Bengawan Solo tersebut.

"Salah satu sarannya adalah menyiapkan ring atau cincin yang nanti akan dipasang di kaki merak-merak itu. Kami mulai menyiapkan nomor seri, desain, dan warna ring-ring itu sehingga nanti kontras dengan warna bulu dan kaki merak. Sekarang kami menunggu SK Dirjen soal penunjukan TSTJ sebagai penangkar merak," tambahnya.

Saat ini TSTJ memiliki koleksi 430 ekor lebih dari 63 jenis satwa. Salah satu di antaranya adalah merak yang terdiri atas merak hijau dan biru. Total induk merak yang dimiliki kini tujuh pasang.

"Sekarang yang sudah produktif bertelur dan menetas merak hijau. Dari dua pasang induk saja sudah ada 12 ekor anak merak yang dihasilkan. Tapi karena kandang yang kami miliki belum cukup merak yang ditangkar masih kami batasi," ungkapnya.

Keberhasilan penangkaran merak di taman seluas 13,9 ha itu, lanjut Sayono, dipengaruhi oleh faktor satwa tersebut merasa nyaman. Agar produktif pakan unggas berekor menawan itu setiap hari diberi tauge.

"Harapan kami merak-merak biru nanti juga segera produktif. Kalau mereka merasa nyaman, maka dalam setahun bisa bertelur empat kali. Satu fase menghasilkan sekitar lima sampai tujuh butir telur," ujarnya.

Telur-telur tersebut biasanya lalu diambil dan dipilih yang bagus oleh petugas pengurus merak, selanjutnya ditangkarkan menggunakan mesin penetas.

Jika nanti sudah memiliki kandang-kandang berkapasitas lebih besar, maka penangkaran akan lebih dimaksimalkan.(D11-27)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA