logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 14 Nopember 2005 RAGAM
Line

Telemedicine, Pelayanan Medis Jarak Jauh

PERNAHKAH Anda merasa frustasi karena tidak mengerti cara kerja kamera atau telepon genggam yang baru dibeli? Padahal, teknologi seharusnya mempermudah, bukan sebaliknya mempersulit hidup manusia. Muncullah teknologi terapan yang menjembatani riset yang dilakukan para peneliti dengan teknologi yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Satu contoh riset teknologi terapan adalah penelitian yang dilakukan para peneliti Universitas Bonn yang sedang menguji teknologi terapan ''telemedicine''. Yakni pemberian informasi dan pelayanan medis jarak jauh dengan menggunakan sarana komunikasi audio, visual dan data.

Riset yang dilakukan Universitas Bonn terfokus pada sistem pengenalan dini penyakit jantung atrial fibrilasi, suatu penyakit denyut jantung yang tidak teratur. Penderitanya sering merasa pusing dan keluar keringat dingin. Sering kali gejala tersebut disalahartikan oleh pasien atau dokter. Padahal, bila tidak segera ditangani, dapat muncul bekuan darah yang menggumpal dan menyumbat pembuluh darah. Gumpalan ini dapat berpindah dan pasien akan mengalami stroke iskemik atau stroke akibat penyumbatan pembuluh darah ke otak.

Para peneliti Universitas Bonn sedang mengembangkan suatu sistem pengenalan dini yang bekerja dengan sistem ''Short Message Service'' (SMS) melalui telepon genggam. Mereka mengembangkan alat pacu jantung dengan sensor yang mencatat denyut jantung pasien dan mengirimkan data tersebut kepada dokter yang merawat.

Pemimpin riset Universitas Bonn Thorsten Lewalter menjelaskan alat pacu jantung ini dilengkapi dengan antena yang mengirimkan sinyal kepada penerima, biasanya berbentuk telepon genggam yang terletak di dekat pasien. Misalnya di atas meja dekat tempat tidurnya. Telepon genggam ini mengirimkan pesan singkat kepada ''servicecenter'' yang meneruskannya kepada dokter dalam bentuk pesan internet.

Telepon genggam ini bentuknya sama dengan telepon genggam biasa dan bisa dibawa ke mana saja. Dengan demikian para pasien merasa lebih aman dalam melakukan kegiatan sehari-harinya. Bila muncul masalah, dokter dapat bertindak cepat, misalnya dengan menelepon pasien agar melakukan check up, atau mengganti jenis dan jumlah obat yang harus diminum.

Sistem ini merupakan bagian dari ''telemedicine'' atau ''homemonitoring''. Di masa depan, sistem ini dapat memonitor denyut jantung, berat badan pasien, atau keteraturan pernafasannya. Semua data ini dapat digunakan dalam perawatan individual setiap pasien dan akan ada kontak langsung antara pasien dan dokter, 24 jam dalam sehari. Di masa mendatang, konsep seperti ini akan menjadi standar dalam perawatan. Tentunya, tantangan yang dihadapi sekarang adalah para dokter harus mempersiapkan sarana untuk kontak langsung tersebut.

Tetapi teknik pun tidak dapat menjadi jaminan seratus persen. Jaringan telepon genggam kadang mengalami gangguan. Alat pacu jantung juga dapat memberi informasi yang salah. Pasien harus tetap ''check-up'' secara rutin. Dan tentu saja, sistem pengawasan seperti ini menimbulkan pertanyaan soal privasi pasien. Apakah pasien akan mengijinkan monitoring yang sedemikian rupa? Di sini setiap orang harus memutuskan, apakah ia ingin mengorbankan privasi tetapi dapat pergi berlibur atau hidup sendiri?

Kursi Roda

Sementara tim riset Universitas Bonn sedang menguji ''telemedicine'', tim pengembangan Universitas Aachen di bawah pimpinan Florian Bley terus menyempurnakan sistem kursi roda ''Viktoria''-nya. Tim ini sedang mengembangkan kursi roda yang dilengkapi lengan motorik dan sistem navigasi. Lengan motorik yang sedang dikembangkan tim Florian Bley sudah dapat melakukan beberapa gerakan dasar. Lengan tersebut akan ditempelkan pada kursi roda, sehingga dapat membantu pengguna kursi roda mengambil benda yang terletak di luar jangkauan tangannya.

Prototipe bernama ''Viktoria'' ini adalah kursi roda pertama di dunia dengan lengan mekanik. Kursi roda tersebut rencananya juga dilengkapi dengan kamera dan sistem navigasi. Pimpinan riset Florian Bley menjelaskan, pengguna kursi roda dapat menentukan tujuannya dengan sebuah layar sentuh. ''Viktoria'' lalu memperhitungkan sendiri rutenya, sehingga pengguna kursi roda dapat bergerak bebas dalam ruangan maupun di jalan raya.

Kamera yang akan dipasang pada kursi roda ini berfungsi memperluas jangkauan pandangan pengguna sekaligus membantu navigasi kursi roda. Florian Bley menambahkan, untuk membantu navigasi sebenarnya ada juga alternatif dengan memasang sensor infra merah dan sensor supersonik yang sudah digunakan pada sistem pemarkir mobil. Hanya saja, pemasangan sensor tersebut akan memakan banyak tempat.

Kata Florian Bley: ''Kami memutuskan untuk menggunakan kamera saja, karena kamera itu kecil dan tidak mengganggu pengguna. Hanya saja, kamera ini tidak dapat memberikan informasi tiga dimensional pada pengguna. Jadi, kamera hanya menunjukkan gambar dua dimensi, pengguna tidak dapat memperkirakan, jarak sesungguhnya antara benda yang terlihat pada layar dan kursi roda''.

Pemecahan masalah ini menjadi fokus penelitian tim Florian Bley saat ini. Selain itu, gerakan motorik lengan yang akan ditempelkan pada kursi roda juga perlu disempurnakan. Saat ini, lengan tersebut sudah dapat mengangkat dan meletakkan benda kembali di tempatnya. Tetapi, gerakan motorik yang lebih terperinci seperti menghitung uang kembalian atau menempelkan perangko, belum dapat dilakukan ''Viktoria''. Florian Bley memperkirakan, penyempurnaan sistem kursi roda ini masih akan makan waktu dua sampai tiga tahun. Waktu produksi sampai kursi roda tersebut dapat dibeli di pasaran diperkirakan selama dua tahun. Jadi, dari lahirnya sebuah ide sampai pemasaran butuh sekitar sepuluh tahun.

Menurut Florian Bley, pada dasarnya beda sistem kursi rodanya benar-benar hanya menggunakan kamera, baik itu untuk navigasi maupun untuk manipulasi atau menggerakan lengan. Kursi roda yang beredar di pasaran sekarang masih banyak menggunakan sistem kombinasi, jadinya sangat rumit dengan banyak sensor. Namun ''Viktoria'' hasil pengembangan sistem yang langsing, hanya menggunakan layar dan kamera kecil tetapi kompak.

Tetapi, apakah pengguna mau membayar 40.000 Euro atau sekitar Rp 480 juta untuk satu kursi roda dengan sistem yang unik ini, masih perlu dibuktikan. (Aria/ dwelle.de-12)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA