| Senin, 14 Nopember 2005 | RAGAM |
Analisis Darah dengan Seberkas CahayaPADA saat ini penyakit degeneratif (tidak menular) banyak bermunculan, seperti darah tinggi (hipertensi), jantung, kencing manis (diabetes mellitus), osteoporosis dan lain-lain. Karena pola makan masyarakat sekarang yang tidak seimbang dan tidak sehat, kurang melakukan aktivitas fisik dan merokok. Penyakit jantung bahkan menduduki peringkat pertama sebagai penyakit pembunuh manusia sekarang. Penyakit-penyakit degenaratif tersebut sebenarnya dapat dideteksi lebih awal, jika penderita merasakan gejalanya lalu segera ke dokter untuk diperiksa. Untuk menguatkan diagnosisnya, dokter biasanya menyarankan pasien tersebut pergi ke laboratorium klinik. Di laboratorium, darah pasien diambil sebagai sample untuk dianalisa sesuai jenis pemeriksaannya. Jika untuk mengetahui penyakit kencing manis maka perlu diketahui kandungan gula dalam darah. Bila ternyata kandungan gula dalam darah melebihi batas normal maka pasien tersebut dinyatakan positif mengidap penyakit kencing manis. Untuk pemeriksaan gula darah ini biasanya pasien disuruh puasa dulu sebelum diambil darahnya. Pada tabel diperlihatkan range nilai normal hasil tes kimia darah. Photometer dan Spektrofotometer Selain penyakit kencing manis, masih banyak jenis pemeriksaan yang dapat dilakukan oleh sebuah laboratorium klinik. Diantaranya pemeriksaan kimia darah yang meliputi pemeriksaan pH darah, pemeriksaan lemak (kolesterol dan triglycerides), pemeriksaan protein (plasma, albumin, globulin dan fibrinogen), pemeriksaan glucose/gula (asam laktat, gula laktosa), pemeriksaan zat nonprotein nitrogen (asam amino, peptides, urea waste, dan asam uric), pemeriksaan enzim dan steroid bahkan untuk pemeriksaan narkoba. Sebagian pemeriksaan tersebut dapat dilakukan oleh alat yang dinamakan Photometer dan Spektrofotometer. Di dalam kedua alat ini terdapat sumber cahaya berupa lampu halogen, perangkat optik seperti lensa cembung, monokromator atau filter optik, perangkat elektronik dan mikroprosesor untuk perhitungan dan pengolah datanya. Cahaya yang berasal dari lampu masih berupa cahaya polikromatis yang terdiri dari banyak panjang gelombang cahaya. Kemudian cahaya tersebut diteruskan melalui lensa menuju ke monokromator pada spektrofotometer dan filter cahaya pada photometer. Monokromator atau filter optik ini mengubah cahaya polikromatis menjadi monokromatis. Jenis monokromator-nya ada yang berupa gratting dan lensa prisma. Jika menggunakan gratting atau lensa prisma, cahaya polikromatis akan membentuk spektrum cahaya setelah melewatinya. Karena itulah alatnya disebut spektrofotometer. Sedang yang menggunakan filter optik biasanya berupa lensa berwarna tertentu, yang berfungsi hanya melewatkan cahaya tertentu saja sesuai dengan warna lensanya. Ada banyak lensa warna dalam satu alat yang digunakan sesuai dengan jenis pemeriksaan. Cahaya monokromatis ini adalah satu berkas cahaya yang mempunyai range panjang gelombang tertentu, seperti cahaya ultra unggu mempunyai range panjang gelombang antara 100-400 nm dan sebagainya. Berkas cahaya monokromatis inilah yang dilewatkan ke sample (darah yang sudah dicampur reagen dengan komposisi tertentu). Karena sample tersebut mengandung konsentrasi suatu zat, maka ada sebagian cahaya yang diserap (absorbsi) dan sisanya dilewatkan. Cahaya yang dilewatkan (transmitance) inilah yang diterima oleh detektor (ada yang menggunakan fotodioda sebagai detektor). Kemudian detektor akan menghitung cahaya yang diterima dan mengetahui cahaya yang diserap oleh sample. Karena sebelum melakukan pemeriksaan detektor sudah terkalibrasi dengan menerima 100% cahaya dari lampu. Cahaya yang diserap sebanding dengan konsentrasi zat yang terkandung dalam sample. Sehingga akan di ketahui konsentrasi zat dalam darah secara kuantitatif. Hukum Beer Lambert Menurut ''Introduction to Biomedical Equipment Technology'' hukum Beer Lambert berbunyi: ''jika sebuah berkas cahaya dilewatkan ke larutan maka ada sebagian cahaya yang akan di serap, ada yang dilewatkan serta sebagian kecil yang dipantulkan''. Rumusnya sebagai berikut : A = a.C.L A = Absorbance (Penyerapan) C = Concentration (Konsentrasi zat yang menyerap cahaya) L = Panjang tempat sample a = Nilai absorbsi zat (diketahui dari konsentrasi standar larutan) Dapat disimpulkan jika konsentrasi suatu zat bertambah, maka nilai absorbance akan bertambah dan sebaliknya nilai transmitan akan berkurang. Perhitungan berdasarkan hukum tersebut akan semakin mudah dengan menggunakan sistem mikroprosesor, meskipun makin kompleks parameter yang akan diukur. Sehingga sekarang bentuk sebuah alat photometer atau spektrofotometer semakin kompak dan kecil tetapi mempunyai kemampuan melakukan pemeriksaan bermacam-macam parameter. Hasilnya lebih akurat dan langsung dapat dibaca melalui layar LCD (Liquid Crystal Display) serta langsung dapat di cetak melalui print out. Dan juga dapat menyimpan data pasien berikut hasil pemeriksaannya. Alat sejenis dengan photometer yang full-otomatis melakukan pemeriksaannya juga serba otomatis. Mulai dari pengambilan sample, mencampurkan dengan reagen, pengkondisian sample, penganalisaan sample dan menampilkan hasil pemeriksaan serta dapat melakukan bermacam-macam pemeriksaan dalam satu kali running. Sehingga alat jenis ini sering disebut Auto Analyzer. Alat Photometer dan Spektrofotometer sudah banyak digunakan di laboratorium klinik baik di Rumah Sakit swasta atau negeri di kota Semarang. Tetapi sepertinya di setiap Puskesmas belum memiliki alat ini. Padahal fungsinya sangat membantu dokter untuk mendiagnosa pasien. Dan secara tidak langsung dapat meningkatkan mutu pelayanan Puskesmas. Apalagi harganya ada yang terjangkau untuk Rumah Sakit atau Laboratorium Klinik swasta, sehingga dapat menekan biaya operasional yang imbasnya biaya pemeriksaannya akan murah untuk pasien di desa-desa.(Mohamad Sofie, BE, S.Pd-12) |