logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 14 Nopember 2005 WACANA
Line

Surat Pembaca

Kadar Daging

Saya ingin menanyakan kepada dokter Kusmiyati DK MKes mengenai daging/ikan yang terlalu lama di dalam lemari es, apakah nilai gizinya akan berkurang. Berapa hari maksimum menyimpan daging/ikan di dalam lemari es?

Nur Ariyanti

Maguwo Rt 18/Rw 28, Bantul DIY

***

Jadi Bangsa ''Kuli'', Sampai Kapan?

Konon, Bung Hatta gusar, gara-gara ucapan diskriminatif dan merendahkan harga diri bangsa Indonesia. oleh seorang ekonom politik. Awal abad ke-20 asal Jerman, Karl Theodor Hellferich menyatakan: "Kita adalah bangsa kuli di bawah bangsa-bangsa lain" (Eine nation von kuli unter der nationen).

Lalu Hatta membalas dengan motto patriotiknya: "Menjadi tuan di negeri sendiri''. Namun olok-olok itu sekarang terbukti, sebab bangsa ini kehilangan momentum mileniumnya yang lalu dalam menyongsong milenium baru. Mitos sebagai negara malas dan tidak cerdas makin "meninabobokan" .

Posisi kita sebagai "konsumen" tanpa berupaya menjadi ''produsen". Bahkan apa yang dimakan, kalau ditelisik ternyata bukan kita yang tanam, misal padi, kedelai, gula pasir dan aneka buah-buahan.

Kita bergantung produk impor, walau secara tegas memproklamasikan diri sebagai negara agraris.

Apalagi produk manufakture (pabrik), tentunya "setali tiga uang" seperti mobil, elektronik dan berbagai komponen mesin. Sejak tahun 70-an, kita "ogah-ogahan" melakukan transfer teknologi dengan negara Jepang yang andal dengan industri otomotifnya.

Keterampilan kita sebatas merakit dan merakit melulu, tanpa berminat memproduksi sendiri. Kita menjadi operator teknologi bangsa lain. Apalagi watak masyarakat yang sudah telanjur impor minded. Alhasil, teknologi dalam negeri "mati suri".

Padahal jargon peningkatan kualitas SDM sinyalnya telah dipancangkan sejak tahun 1980, tapi ''mentok'' menjadi sebatas wacana dan tinggal teori di atas kertas. Peringkat indeks pembangunan manusia Indonesia (2000) di posisi 109 dari 174 negara anggota PBB yang disurvei UNDP.

World Competitiveness Year Book (1997) menempatkan Indonesia pada urutan ke-39 dalarn peringkat daya saing SDM di 47 negara. Tahun 2000 turun di posisi 46 dari 47 negara. Dalam penyediaan insinyur, survei oleh Institute for Management Development menempatkan di rangking ke-44 dari 46 negara.

Bahkan rasa was-was serbuan tenaga profesional asing seiring diberlakukannya pasar bebas Asia (2016) dan pasar bebas dunia (2020), sudah menjadi ancaman di depan mata. Mungkin dokter, lawyer, arsitek, akuntan dan tenaga profesional kita akan tergusur karena kalah bersaing.

Kematian koki asal Malaysia di restoran di Jakarta baru-baru ini jadi isyarat bahwa untuk pekerjaan koki profesional saja harus "impor". Kemampuan kita sebatas "mengekspor" ratusan ribu PRT dan pekerja kasar yang menurut data ILO sebagai yang terbesar di dunia.

Bila tak ada upaya untuk merombak desain strategi, budaya, sosial, ekonomi dan iptek yang sudah terlanjur "salah kaprah" maka bersiap-siaplah untuk "terperosok" menjadi bangsa kuli dan bermental budak.

Sebab kalau sekadar mengandalkan kekayaan sumber daya alam, tanpa diimbangi SDM yang rajin, terampil dan pintar, maka sepanjang hayat Indonesia hanya akan bernasib menjadi negara ''jajahan''.

Slamet Joko Wiyono

Sudagaran Rt 5/Rw 1, Sukorejo

***

Asuransi Jasatania

Saya menjadi klien Asuransi Jasatania Semarang dan kini berhenti karena kecewa. Saya tabrakan dan mengajukan klaim tapi layanannya berbelit-belit. Awal kontrak mereka janji setiap klaim mudah dan tidak berbelit, tetapi praktiknya jauh dari kenyataan.

Proses perbaikan kendaraan sekitar 3 bulan dan masih banyak masalah yang belum tuntas. Kendaraan belum kembali normal sehingga harus bolak-balik masuk bengkelnya. Juga ada oknum karyawannya minta uang. Saya bingung dan bosan.

Demikian juga soal penggantian/cover untuk motor yang bertabrakan dengan saya. Mereka bilang akan mengganti semua biaya yang saya keluarkan tetapi prosesnya memakan waktu 16 bulan, baru ada jawaban tertulis. Alasannya saya tidak memberi foto motor yang rusak.

Memang akhirnya diganti tetapi tidak sebesar biaya yang saya keluarkan. Yang membuat bingung, kenapa saya yang bertanggung jawab mengambil dokumentasi, bukan dari asuransi. Saya sudah meminta bantuan seorang karyawan tapi hasilnya tetap sama.

Bahkan pernah mau menghubungi kepala cabangnya tetapi selalu tidak bisa dengan alasan tidak di tempat atau sedang rapat.

Nanang Dwi Hermawan

PT Furnindo International, Jepara

***

Satpam Ramayana

Tanggal 23 Oktober 2005 saya mengalami kejadian tidak mengenakkan saat berbelanja di supermarket Ramayana Simpanglima Semarang. Waktu itu teman saya sedang mengambil tempat belanjaan sedang saya menunggu di dekat satpam yang berdiri di pintu masuk.

Sekitar setengah jam belanja tiba-tiba didatangi satpam dan minta tas yang saya bawa dititipkan. Saya tanya kenapa hanya saya, padahal banyak ibu yang juga bawa tas lebih besar. Karena tidak ingin berdebat saya tinggalkan dia. Selang beberapa menit dia mendatangi lagi dengan maksud sama.

Dia bilang tas yang saya bawa tidak boleh dibawa masuk. Saya malu dan karena sebal saya tinggalkan dia lagi. Dia menyuruh temannya memata-matai gerak-gerik saya sepertinya saya maling. Saya dan teman merasa tidak nyaman berbelanja. Saya kecewa dan kapok berbelanja di Ramayana.

Begitukah pelayanan pada konsumen. Saya memang tidak kaya tapi bu-kan maling. Saya berharap kejadian ini tidak menimpa orang lain. Jujur saja saya sakit hati dan kepada Ramayana tolong kualitas SDM satpamnya diperbaiki.

Asti Rachmawati

Jl Dr Cipto 93, Semarang

***

Untuk Amien Rais

Kinerja KPU mendapat pujian dari Pak Amien Rais yang terlihat lucu seperti cerita saja. Jelas mereka melakukan korupsi begitu banyak dan merugikan negara. Misal, tinta yang seharusnya tahan sampai tiga hari diganti dengan tinta yang habis mencoblos langsung hilang.

Untuk kepentingan bangsa saja mereka mau cari untung apalagi dengan rakyat. Pak Amien Rais apa tidak punya pujian yang diberikan kepada orang berprestasi atau BBM naik banyak orang kena stroke/jantung. Dulu era Pak Harto, rakyat kecil merasakan kemudahan dari cari rezeki sampai pangan mudah, keamanan dan ekonomi baik.

Sekarang setelah reformasi terjadi perubahan kenaikan apa saja termasuk BBM yang naik 100% hingga rakyat melarat, miskin. Bangsa ini mau dibawa ke mana ?. Bencana alam, longsor, busung lapar, flu burung, gempa bumi, pesawat terbang jatuh, kebakaran, bom, tsunami.

Apakah ini yang namanya mendapat kutukan?. Tuhan, mau beri cobaan apa lagi pada bangsa ini. Sementara di mana-mana korupsi merajalela

Sugiharto

Jl Sudagaran 114, Sukorejo

***

Peserta Askes di RSUD Banyumas

Saya peserta Askes merasa dihargai dan dilayani dengan ramah dan tertib administrasi di RSUD Banyumas. Pendaftaran langsung ke Askes, tidak melalui loket pendaftaran umum. Terima ka-sih kepada PT Askes, dokter Herumoyo yang familier dan profesional.

Juga dokter Bambang dari poli jantung, dokter bagian internis (lupa namanya) serta kepada petugas sal Flamboyan yang semuanya semanak, walau dibangunkan pukul 02.30 dengan cepat datang ke ruang pasien.

Semua ini tidak lepas dari kepemimpinan direktur RSU. Semoga pelayanan yang baik ini diteruskan agar pasien merasa puas.

Drastic Sachery

Gemuruh, Kesatrian Rt 2/Rw 7 Bawang, Banjarnegara


HexWeb XT DEMO from HexMac International

Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA