logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 14 Nopember 2005 BANYUMAS
Line

Diduga Terkena Flu Burung, Mahasiswi Meninggal di RSPI Sulianti Saroso

BANYUMAS - Jenazah DR (20) yang meninggal Sabtu (12/11) sekitar pukul 21.00 setelah dirawat di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso Jakarta, Minggu (13/11) pagi tiba di rumah keluarganya di Dukuh Dampit, Desa Dukuhwaluh, Kecamatan Kembaran, Banyumas.

Almarhumah yang masih kuliah di sebuah perguruan tinggi di Jakarta itu, dirawat di RSIP Sulianti Saroso karena diduga menderita penyakit flu burung atau avian influenza (AI). Di Jakarta, korban tinggal di Telaga Bakti III Rt 13 RW 01, Sunter Jaya, Tanjungpriok. Jenazahnya, kemarin siang telah dimakamkan di pemakaman umum Desa Dukuhwaluh.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas, dokter gigi Khalid Khan yang hadir pada pemakaman itu kepada wartawan mengatakan, pihaknya belum mendapat kepastian apakah DR positif meninggal akibat AI. Tetapi berdasarkan keterangan yang diperoleh keluarga dan Dinas Kesehatan Provinsi Jateng dari Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, yang bersangkutan ada suspek (mengalami gejala) penyakit flu burung.

Dia mengatakan, menurut keterangan yang disampaikan Mitro, paman almarhumah, beberapa hari sebelum hari raya Idul Fitri 1426 H, DR bersama keluarganya mudik ke Purwokerto. Tapi selama di Purwokerto, dia tidak tinggal di Dukuhwaluh, melainkan di rumah saudaranya yang ada di Arcawinangun.

Pamannya mengatakan, saat mudik itu keponakannya sudah ada gejala sakit, bahkan sempat berobat ke dokter. Ketika pulang mudik, almarhumah bahkan sempat berwisata ke Dieng. Pada Rabu (9/11), dalam keadaan sakit DR kembali ke Jakarta, karena orang tuanya tinggal dan bekerja di Jakarta. Karena sakit, ia langsung dibawa ke RS Mitra Keluarga Sunter. Oleh pihak RS Mitra Keluarga, DR langsung dirujuk ke RSPI Sulianti Saroso.

''Ia dirawat di RSPI Sulianti Saroso sejak Kamis (10/11). Pada Sabtu (12/11) sekitar pukul 21.00, ia akhirnya meninggal,'' kata Mitro.

Keluarganya memutuskan, almarhumah dimakamkan di desa asal-usul keluarganya, di Dukuhwaluh. Dalam surat keterangan serah terima jenazah dari RSIP Sulianti Saroso kepada Trisno Suprianto, keluarga almarhumah denga perjanjian plastik jenazah, atau peti jenazah tidak boleh dibuka oleh siapa pun.

Menurut Khalid, DKK juga tidak berwenang membuka peti jenazah tersebut, karena sudah ada keterangan dari RSPI Sulianti Saroso maupun Dinas Kesehatan DKI Jakarta, yakni siapa pun tidak boleh membukanya.

''DKK, dalam hal itu mengawasi pemakaman jenazah, jangan sampai peti dibuka. Peti langsung dimasukkan ke liang kubur,'' kata dia.

Di Kabupaten Banyumas, kata dia, hingga saat ini belum ada satu pun kasus orang terkena flu burung. Beberapa waktu lalu, sejumlah peternakan, ayamnya banyak yang mati. Tetapi, kematiannya itu belum bisa dipastikan apakah akibat flu burung atau bukan.

Meski demikian, DKK tetap akan berkoordinasi dengan Dinas Peternakan dan Perikanan untuk melakukan survei. Sebab di sekitar Dukuhwaluh, berdasar keterangan warga setempat, juga banyak ayam kampung yang mati.

''Sesuai dengan prosedur tetap yang ada, DKK bersama Dinas Peternakan akan melakukan survei di sekitar lokasi,'' kata dia.

Sementara itu para wartawan, baik dari media cetak maupun elektronik, saat akan meliput pemakaman jenazah mendapat kesulitan. Sebab, salah seorang dari keluarganya melarang mengambil gambar sejak dari rumah duka hingga pemakaman.(G23-55a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA