SUARA MERDEKA
 
INDEKS EKONOMI Rabu, 09 Nopember 2005

JAKARTA-Tingginya laju inflasi pada bulan Oktober yang mencapai 8,7 persen mengakibatkan tambahan biaya pengeluaran rumah tangga menengah ke bawah di perkotaan sebesar 25 - 30 persen.

JAKARTA-Subsidi pupuk tahun anggaran 2006 sebesar Rp 3 triliun diperkirakan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pupuk bersubsidi di dalam negeri yang mencapai 4,027 juta ton per tahun. Diperkirakan subsidi itu akan habis pada pertengahan tahun.

WASHINGTON-Amerika Serikat dan China mencapai kesepakatan perjanjian sementara mengenai impor produk pakaian jadi dan tekstil China. Kesepakatan itu yang akan memecahkan sengketa dagang antara kedua negara.

HONG KONG-Mata uang Asia berguguran selama sepekan terakhir, karena menguatnya dolar AS menyusul langkah bank sentral AS, Federal Reserve menaikkan tingkat suku bunga.

KARANGANYAR-Musim giling gula di Pabrik Gula (PG) Tasikmadu mengalami kelambatan dari waktu yang dijadwalkan. Semula PG menargetkan produksi yang dimulai sejak Mei 2005 itu, bisa selesai pertengahan September. Kenyataannya, produksi baru rampung 12 Oktober 2005.

JAKARTA-Harga minyak mentah di pasar internasional dalam beberapa hari terakhir terus merosot. Harga ini merosot, setelah sempat stagnan di level 59 dolar AS hingga 60 dolar AS per barel.

SEMARANG-Selama arus mudik dan balik Lebaran, penjualan Pertamax di beberapa SPBU di Kota Semarang mengalami lonjakan drastis. Kenaikannya bahkan melebihi peningkatan penjualan premium, padahal harga Pertamax mencapai Rp 5.700/liter. Lonjakan itu lebih dipengaruhi masuknya mobil-mobil mewah dari luar kota, seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya.

JAKARTA-PT Pertamina (Persero) mengungkapkan, impor sebanyak empat kargo atau setara 7.200 metrik ton elpiji akan masuk pada Nopember ini. Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Arie Sumarno di Jakarta, Selasa, mengatakan, impor elpiji diharapkan mampu menstabilkan harga komoditas itu di pasar. "Saat ini, harga elpiji sudah mulai stabil di pasar.

  Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA