| Rabu, 09 Nopember 2005 | SALA |
Mukjizat, Yogi Selamat dari MautTIDAK terbayang sedikit pun bila Colt Mitsubishi yang disewa keluarganya mengalami kecelakaan. Itulah kisah pertama kali yang diceritakan Paryanti (23), anak ketiga pasangan Parno-Ny Ngatmi yang menjadi korban kecelakaan di Jalan Raya Kartasura-Klaten, Senin (7/11) lalu. Meski selamat dari maut setelah mobil yang ditumpangi bersama keluarganya dihantam bus Harum jurusan Jakarta-Bandung, kondisi Paryanti tidak separah sanak saudara lainnya. Ibu satu anak itu mengalami patah kaki kiri dan beberapa luka dibahu dan raut wajahnya, padahal Colt Mitsubishi AD-7019-H yang dihantam bus Harum juga mengalami kerusakan cukup berat. Sambil menerawang di atas langit-langit kamar Dahlia B RS Dr Oen Sawit, Boyolali, Paryanti masih terlihat trauma atas musibah yang dialami. Sesekali air mata menetes di pipinya. "Kalau tahu akan adanya peristiwa ini, mungkin keluarga tidak jadi berangkat ke Watukelir, Cawas, Klaten, tempat tinggal Pakdenya," tuturnya lirih. Keberangkatan satu keluarga ke Watukelir bertujuan untuk bersilaturahmi dan sungkeman dalam suasana Lebaran. Untuk menghindari segala resiko di jalan dan adanya jaminan keselamatan, Orang tua Paryanti yaitu Parno-Ngatmi menyewa mobil milik tetangganya. Namun apa daya, meski sudah berusaha berhati-hati untuk mencari selamat, Tuhan menghendaki lain. Kendaraan yang berangkat dari Desa Kukun, Bonagung, Tanon, Sragen, setibanya di tikungan Sanggung, Gatak, Sukoharjo, mengalami nahas. Setelah menabrak pulau jalan, terguling, dan masih dihantam bus Harum Z-7800-TA dari arah berlawanan. Kakak Iparnya, Siti Qomariah (22), dan keponakannya, Dani Windiartono (7), menurut keterangan petugas, tewas dalam perjalanan ke RS Dr Oen Sawit, Boyolali. Nasib mujur tidak saja dialami Paryanti. Anak laki satu-satunya, Yogi Faiz Cahyadi (1,5), juga selamat dari maut, meski dikabarkan terlempar dari mobil dan berada di jalan raya tidak jauh dari himpitan mobil dan bus yang bertabrakan. "Anakku selamat dari maut, karena karunia dan merupakan sebuah mukjizat dari Tuhan," ucap Paryanti saat dibesuk familinya. Yogi, anak semata wayang itu, nasibnya paling mujur di antara semua korban lainnya. Anak pertama pasangan Junaidi-Paryanti tersebut diperbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit, karena tidak menderita cidera serius. Kaki Patah Paryanti yang berusaha menolong beberapa keluarganya, tidak mampu berbuat banyak. Sebab, dia tidak mampu berdiri akibat kaki kirinya patah. Meski sadar peristiwa yang dialaminya adalah musibah, akan tetapi tetap saja ada kekhawatiran yang dia rasakan. Sebab, dia tahu semua keluarga mengalami luka-luka. Bahkan, dia pun juga telah mendapat kabar kalau kakak iparnya, Siti Qomariah, dan keponakannya, Doni Windiartono, jiwanya tidak tertolong. Apa yang dialami Paryanti tidak jauh berbeda dengan kakak tertuanya, Jumarwan (25), dan kakak iparnya, Haryono (30). Ketiganya tidak memiliki firasat apa pun dan tidak ada kekhawatiran sedikit pun atas kepergian keluarga mereka bersama dari Tanon, Sragen, ke Watukelir, Cawas, Klaten. Mereka pun pasrah atas apa yang dialami. "Mau apa lagi mas, ini sebuah musibah yang tidak dapat dihindari," tambah Jumarwan yang juga dirawat di Ruang Dahlia B RS Dr Oen Sawit. Adapun orang tua perempuan Paryanti yaitu Ny Ngatmi (45), kakak kandungnya, Sriyani (35), dan keponakannya, Andika Risandi (6), yang menderita luka cukup serius, masih mendapat perawatan intensif di RS Dr Oen Solobaru, Sukoharjo. Sementara keluarga Paryanti lainnya yang menderita luka-luka ringan, hingga kemarin masih di rawat intensif di ruang Dahlia B dan Ruang Mawar RS Dr Oen Sawit, Boyolali. Mereka di antaranya, Jumarwan (25), Supardi (30), Haryono (30), Fadia Arti Cahyani (5), Sartini (27), Parno (50), dan Junaidi (24). (Sri Hartanto-16h) |