logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 09 Nopember 2005 SALA
Line

Setahun Sekali Pasar Mati

KEMATIAN ternyata tidak hanya menimpa makhluk hidup. Pasar sebagai tempat bertemu antara penjual dan pembeli untuk melakukan transaksi pun mengalami.

Pasar mati merupakan peristiwa langka setahun sekali yang terjadi selang sehari setelah Lebaran atau bersamaan dengan warga pedesaan merayakan bakda atau Lebaran ala Jawa.

Ny Warsiti (60) pedagang kebutuhan sehari-hari di Pasar Induk Wonogiri mengatakan pasar mati telah menjadi tradisi tahunan yang datang sehari setelah shalat Id.

Sebelum memasuki waktu mati biasa ditandai oleh keramaian pasar yang disebut prepegan, yakni saat warga berbelanja kebutuhan untuk merayakan Idul Fitri.

"Setelah prepegan lewat terjadilah apa yang disebut sebagai pasar mati. Sekali dalam setahun itu selalu terjadi," ujar Ny Kasinah (65), pedagang sayuran.

Pada saat pasar mati para pedagang tidak datang ke pasar untuk berjualan dan warga masyarakat selaku konsumen pun maklum untuk tidak berbelanja.

Umumnya orang sibuk mempersiapkan masakan untuk menjamu tamu yang datang silih berganti melakukan silaturahmi dan halalbihalal.

Anak-anak yang libur sekolah pun sibuk pergi ke tempat-tempat rekreasi bersama teman-teman atau sanak keluarganya.

"Kalau pun ada pedagang yang tetap berjualan maka biasanya adalah pedagang yang berjualan makanan dan minuman," tambah Sriyati (40), penjual minuman dan makanan serta nasi bungkus.

Makanan dan minuman tersebut disediakan untuk warga yang tengah melancong mengisi liburan dan merayakan Lebaran.

Bersamaan dengan dengan pasar mati warung-warung makan biasa diserbu. Setelah pasar mati lewat atau ketika kehidupan pasar kembali bergeliat pasca-Lebaran sering ditandai oleh harga-harga komoditas kebutuhan sehari-hari yang kembali normal.

Ny Ratmi, pelanggan Pasar Induk Wonogiri mengatakan harga cabai merah besar yang ketika prepegan melambung sampai Rp 35 ribu/kg kini normal lagi menjadi Rp 18 ribu/kg.

"Namun harga daging sapi masih bertahan Rp 42 ribu sampai Rp 43 ribu/kg setelah saat prepegan naik menjadi Rp 45 ribu/kg dari sebelumnya sekitar 30 ribu/kg," ujarnya. (Bambang Pur-16,27)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA