| Rabu, 09 Nopember 2005 | SALA |
Memburu Rupiah saat Lebaran (2-Habis)Dari Calo, Tebe-tebe, sampai Raja TegaTIDAK berbeda dari para pemudik yang selalu menunggu masa Lebaran, demikian juga mereka yang selama ini mendapat predikat calo tiket. Mereka menunggu kedatangan hari raya itu untuk mengais rezeki. Banyak cara yang dilakukan. Aksi calo tiket selama ini dianggap merugikan warga masyarakat, khususnya para pemudik. Selain terlihat di stasiun kereta api (KA), mereka beraksi di terminal bus. Kegiatan mereka di stasiun KA berbeda dari terminal. Di stasiun umumnya bekerja sama dengan oknum petugas loket atau "orang dalam". Kondisi berbeda dijumpai di terminal bus. Di tempat itu mereka sering bekerja sama dengan agen. Mereka menawarkan tiket dari perusahaan bus dengan harga lebih tinggi dari agen. Namun ada yang keterlaluan. Sudah menjual tiket dengan tarif sangat tinggi, masih menipu bahkan memalsu tiket. Mereka yang sudah menjurus ke penipuan dan pemalsuan di kalangan orang terminal dikenal dengan sebutan tebe-tebe. Tidak jelas apa maksudnya. Sepak terjang mereka sangat merugikan penumpang, agen, serta awak bus. Dalam operasinya seorang tebe-tebe membawa tiket tidak beridentitas perusahaan bus. Mereka menawarkan tiket dan lebih sering di atas tarif umum. Penumpang yang umumnya warga pedesaan yang terjaring lalu diantar ke bus yang ditawarkan. Begitu korban masuk bus aksi itu selesai. Tebe-tebe pun mencari korban lainnya. Tak Mau Tahu Persoalan muncul di tengah jalan. Penumpang tersebut ditarik bayaran tiket oleh kondektur bus yang dinaiki. Ketika menunjukkan tiket dari tebe-tebe kondektur tidak mau tahu dan penumpang harus tetap membayar. Kalau sudah begitu maka penumpanglah yang rugi. Lebih celaka lagi jika penumpang ngotot maka bisa diturunkan di jalan. Tiket tak beridentitas di kalangan orang terminal dikenal sebagai tiket via, karena ada tulisan via bus ... tanpa disebutkan perusahaan busnya. Kalaupun ada maka hanya tulisan tangan. "Memang lebih sering tebe-tebe bekerja sama dengan awak bus. Namun ada juga awak bus yang tidak tahu," ujar Bambang Tukowibowo, Kepala UPTD Terminal Tirtonadi. Calo atau tebe-tebe sering juga disebut sebagai "raja tega". Sebutan itu berlaku juga untuk orang-orang yang memeras dan mengancam penumpang. Mereka begitu tega melakukan aksi terhadap pemudik, khususnya dari pedesaan. Penumpang seperti itu menjadi makanan empuk. Umumnya pemudik lebih banyak menghendaki memperoleh bus segera meskipun dengan tarif tinggi. Pemudik dianggap "kaya" karena membawa uang banyak serta barang-barang berharga. Kondisi itu tidak akan dijumpai pada saat arus balik. "Pemudik yang balik dianggap sudah tidak lagi punya uang. Bekal untuk mudik yang dibawa dari rantau sudah dihabiskan di daerah asalnya," tambah Bambang. Menghadapi aksi para "raja tega" itu pengelola terminal tidak tinggal diam. Petugas mengadakan operasi. Hasilnya 10 bendel tiket disita. Dua tebe-tebe ditahan dan diproses polisi. Razia itu membuat para raja tega memilih "tiarap" atau main umpet-umpetan dengan petugas. Dua bus ekstra-Lebaran kelas ekonomi juga dijaring karena menjual tiket dengan tarif di atas ketentuan. (Sri Wahjoedi-27) |