logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 09 Nopember 2005 SALA
Line

Museum Radya Pustaka Sepi Pengunjung

  • Pedagang Cenderamata Kena Dampaknya

SRIWEDARI - Liburan panjang Lebaran tahun ini justru menjadi musim paceklik bagi Museum Radya Pustaka Solo. Kendati terus buka kecuali 3 dan 4 November, museum tertua di Indonesia yang berlokasi di bekas kebun raja Sriwedari itu nyaris tanpa pengunjung.

Bahkan, pada puncak libur Lebaran yang jatuh pada hari Minggu 6 November lalu, berdasarkan tiket yang terjual, pengunjungnya hanya 21 orang.

Jumlah itu sangat jauh dibandingkan dengan Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) Solo yang sekitar 20 ribu orang pada hari yang sama. Padahal harga tiket masuk museum sangat murah, yaitu Rp 1.000/orang.

Turis mancanegara pecinta benda-benda kuno bersejarah yang diandalkan museum, juga tak nampak. Mereka itulah yang menyumbang donasi cukup lumayan serta memberi berkah kepada pedagang cenderamata.

"Tidak satu pun cenderamata kami yang terjual sejak seminggu sebelum puasa hingga pasca-Lebaran sekarang. Liburan Lebaran tahun ini sangat sepi, tidak bisa dijagakke (diandalkan)," kata Tardi, salah satu penjual souvenir di kompleks museum, kemarin.

Setiap Hari

Kepala Museum Radya Pustaka KRH Darmodipuro mengungkapkan, sepinya pengunjung museum yang berdiri 28 Oktober 1890 itu tidak hanya terjadi pada liburan Lebaran.

"Setiap hari museum peninggalan Paku Buwono IV ini sepi pengunjung. Bahkan, pada masa liburan panjang sekolah juga tetap sepi," tuturnya.

Menurut dia, pengunjung museum yang sepi disebabkan oleh pergeseran nilai-nilai kehidupan di masyarakat.

Warga masyarakat atau para generasi muda lebih menyukai hal-hal yang bersifat pop (populer) daripada yang bernilai seni budaya.

Untuk mengisi liburan, mereka memilih tempat-tempat yang bisa memberikan kepuasan diri, misalnya mal, kafe, atau tempat-tempat hiburan lainnya.

"Keadaan ini tentu saja sangat ironis, apalagi Solo dikenal sebagai salah satu kota budaya," ujarnya.

Setiap hari, lanjut dia, memang tetap ada orang yang datang ke museum. Tapi mereka tidak melihat-lihat isi museum, apalagi memberi apresiasi, melainkan untuk berkonsultasi dengan dia yang dikenal sebagai paranormal jitu dalam meramal nasib. (G8-27h)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA