| Rabu, 09 Nopember 2005 | INTERNASIONAL |
Kerugian Ekonomi akibat Flu Burung Capai Rp 8 TriliunJENEWA - Pandemi flu burung (avian influenza/AI) yang berlangsung selama setahun akan menyebabkan perekonomian global mengalami kerugian senilai 800 miliar dolar (sekitar Rp 8 triliun), kata Bank Dunia, Senin lalu. Bank Dunia mengemukakan hal itu pada pembukaan pertemuan tiga hari di Jenewa, tempat ratusan pakar menyusun strategi untuk mencegah flu burung berkembang menjadi pandemi yang dapat merenggut jiwa jutaan orang. "Biasanya diperlukan waktu enam bulan untuk merancang program seperti ini. Kita mempunyai waktu tiga hari," kata David Nabarro, kordinator senior PBB bagi flu manusia dan burung, di depan pertemuan. Dia menekankan perlunya peningkatan pengamatan dan pelaporan. Virus flu burung H5N1 dilaporkan telah menewaskan 63 orang di empat negara dan memicu pemusnahan 150 juta ekor unggas di seluruh dunia. Flu burung telah menyebar ke Eropa Timur baru-baru ini dan diperkirakan akan bergerak ke Timur Tengah dan Afrika. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Senin lalu, membenarkan bahwa China, negara berpenduduk terbanyak di dunia, telah meminta pihaknya agar menyelidiki kematian yang terkait dengan flu burung. China, yang belum melaporkan satu pun kasus flu burung pada manusia, telah mengundang para pakar WHO untuk menyelidiki tiga kasus pneumonia yang mencurigakan di Provinsi Hunan, China selatan. Provinsi itu merupakan lokasi dari satu dari sejumlah wabah flu burung pada unggas baru-baru ini. Beijing sebelumnya selalu menyangkal adanya kaitan antara H5N1, virus flu burung yang mematikan, dengan kasus pneumonia. Hanya Soal Waktu Tes atas tiga pasien tidak memperlihatkan adanya H5N1, namun virus tersebut tidak dapat dikesampingkan, karena ketiga anak tinggal dekat lokasi berjangkitnya wabah flu burung, kata kantor berita Xinhua. Salah satu dari tiga pasien penumonia itu, seorang gadis berusia 12 tahun, telah meninggal dunia. Direktur Jenderal WHO Lee Jong-Wook mengemukakan pada pembicaraan Jenewa itu bahwa burung migrasi menyebarkan virus itu kepada unggas setempat di seluruh dunia. Menurutnya, hanya soal waktu sebelum flu burung, kemungkinan besar H5N1, memperoleh kemampuan untuk mengalihkan virus itu dari manusia ke manusia. "Kita tak tahu kapan ini akan terjadi, namun kita tahu ini akan berlangsung," jelas Lee. "Tak ada satu pun masyarakat yang luput." Sementara itu dari Hanoi dilaporkan, seorang pria Vietnam tewas akibat flu burung, kasus terbaru di Asia. Seorang pria berusia 35 tahun tewas akhir bulan lalu setelah makan ayam bersama keluarganya, kata Nguyen Van Binh, Wakil Kepala Departemen Pengobatan Preventif Kementerian Kesehatan, kepada Reuters. "Anggota lain keluarga itu tidak sakit, namun ada pasar unggas di dekat rumah mereka," jelasnya kemarin. Pria dari Hanoi itu mengalami demam setelah makan ayam dan dibawa ke rumah sakit pada 26 Oktober lalu karena mengalami gangguan pernapasan. Dia meninggal beberapa hari kemudian. Juru bicara WHO Dida Connor mengatakan terlalu dini untuk mengetahui apakah kematian terbaru itu berarti virus tersebut telah berubah atau menjadi lebih mematian. Beberapa jam setelah Vietnam melaporkan kasus terbarunya, Indonesia menyatakan seorang gadis yang tewas kemarin mungkin terjangkit flu burung. Seorang gadis 16 tahun tewas dua hari setelah dirawat di sebuah rumah sakit di Jakarta karena menderita demam tinggi dan pneumonia. Gadis itu tinggal di dekat pasar burung. Juru bicara rumah sakit mengatakan para pejabat sedang menunggu hasil tes. "Berdasarkan gejala klinis, tanda-tanda itu mirip flu burung," jelasnya. (rtr-ant-niek-26) |