| Rabu, 09 Nopember 2005 | INTERNASIONAL |
Australia Tangkap 17 Tersangka TerorisSYDNEY - Polisi Australia, Selasa kemarin, menangkap 17 orang, termasuk seorang ulama dan seorang pria yang menurutnya ingin menjadi pelaku bom bunuh diri. Mereka dituduh merencanakan serangan teroris sebagai bagian dari "jihad di Australia". Satu di antara mereka yang ditangkap itu dalam kondisi kritis di rumah sakit setelah ditembak polisi. Orang tersebut melepaskan tembakan selama penggeledahan pagi di Sydney dan Melbourne. Polisi menyita bahan kimia, senjata ringan, komputer, tas punggung, dan surat perjalanan dalam penggeledahan itu. Kelompok itu tidak punya sasaran, namun berusaha membeli bahan kimia mirip dengan yang digunakan dalam pengeboman di London bulan Juli lalu, untuk serangan "malapetaka", kata polisi. Selama persidangan, polisi mengatakan ulama Abu Bakar adalah pemimpin spiritual kelompok itu. Orang yang menyebut Usamah bin Ladin "orang besar" yang membela kaum muslim memerangi pasukan AS di Irak dan Afghanistan itu ditahan sampai 31 Januari. Syuhada di Australia Pengadilan Melbourne mengatakan orang-orang itu terlibat dalam latihan seperti militer di pedalaman Australia dan seorang pria menyatakan keinginannya untuk menjadi "syuhada" di Australia. Polisi menjelaskan, mereka memiliki 240 sadapan telepon dan rekaman dari kelompok itu. Polisi detektif Chris Murray mengatakan kepada pengadilan, satu orang minta izin untuk menjadi syuhada di Australia, dia ingin mati di sini. Murray menjelaskan orang itu diminta menunggu, namun tidak sabar. Menurutnya, orang itu ingin "mati dengan cara mirip pelaku bom bunuh diri". PM John Howard pekan lalu mengatakan Australia menerima laporan intelijen tentang satu "ancaman teroris" dan mengamandemen undang-undang antiteror untuk lebih memudahkan polisi menahan para tersangka. "Laporan intelijen yang diterima menyebutkan, satu kelompok menyimpan bahan kimia dan bahan lainnya yang dapat dijadikan bom," kata PM Negara Bagian New South Wales, Morris Iemma, dalam jumpa pers di Sydney. "Polisi yakin kelompok itu sedang merencanakan serangan teroris di Australia," jelasnya. Cukup Bukti Komandan polisi Negara Bagian Victoria, Komisaris Christine Nixon, mengatakan kelompok itu tidak memiliki sasaran khusus dan mengesampingkan serangan pada Pekan Olahraga Persemakmuran yang akan diselenggarakan di Melbourne bulan Maret mendatang. Pertandingan itu akan dibuka Ratu Elizabeth II dari Inggris. "Tetapi kami punya cukup bukti yang menunjukkan orang-orang itu merencanakan satu serangan penting," jelas Nixon kepada wartawan. Media Australia pekan lalu melaporkan bahwa sasaran-sasaran yang mungkin diserang, yang kini diawasi polisi, adalah Sydney Opera House, jembatan pelabuhan, dua kilang minyak Sydney, pasar bursa Australia di Melbourne, dan stasiun kereta api utama Melbourne. Australia, sekutu utama AS yang menempatkan pasukan di Irak dan Afghanistan, tidak pernah mengalami serangan besar pada masa damai di buminya sendiri. Negara itu berada dalam siaga keamanan menengah tidak lama setelah serangan 11 September 2001 di AS. Empat warga Australia sedang menunggu disidangkan di Sydney dan Melbourne atas tuduhan teror. Mereka dituduh mendukung dan berlatih dengan kelompok-kelompok terlarang seperti Al Qaedah. Geledah 23 Rumah Polisi menggeledah 23 rumah di Sydney dan Melbourne, kemarin pagi, sebagai bagian dari operasi kontraterorisme terbesar yang pernah dilakukan negara itu yang melibatkan ratusan polisi, setelah penyelidikan selama 16 bulan. Polisi mengatakan, delapan orang ditahan di Sydney dan sembilan di Melbourne. Mereka yang ditahan itu dituduh melakukan pelanggaran termasuk persiapan satu serangan teroris, menjadi anggota kelompok teroris, dan berkomplot melakukan aksi teroris. Organisasi Intelijen Keamanan Australia (ASIO) pekan lalu mengakui untuk kali pertama bahwa Australia menjadi tempat kelompok berhaluan keras, beberapa di antara mereka mendapat pelatihan di luar negeri. Laporan-laporan media menyebutkan ASIO yakin tidak kurang 800 warga muslim di Ausralia mendukung aksi kekerasan bermotif politik, sementara 80 penduduk di Australia diketahui mendapat pelatihan dari organisasi kelompok garis keras di Pakistan dan Afghanistan.(rtr-niek-ant-26) |