| Rabu, 09 Nopember 2005 | EKONOMI |
sekilas ekonomiImpor Empat Kargo Elpiji MasukJAKARTA-PT Pertamina (Persero) mengungkapkan, impor sebanyak empat kargo atau setara 7.200 metrik ton elpiji akan masuk pada Nopember ini. Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Arie Sumarno di Jakarta, Selasa, mengatakan, impor elpiji diharapkan mampu menstabilkan harga komoditas itu di pasar. "Saat ini, harga elpiji sudah mulai stabil di pasar. Dengan masuknya empat kargo elpiji ini diharapkan pasar akan semakin stabil," katanya. Menurut dia, Pertamina terpaksa melakukan impor, meski harga elpiji di pasar internasional kini masih tinggi sekitar 600 dolar AS per metrik ton. Padahal, BUMN migas itu menjual di pasar domestik dengan harga sekitar 420 dolar AS per metrik ton. "Kami memang harus menanggung rugi dulu dengan tingginya harga elpiji di pasar internasional. Namun kami juga mencampur dengan elpiji dari kilang sendiri yang harga produksinya 250-300 dolar AS per metrik ton," katanya. Sementara berdasarkan pemantauan, harga elpiji di sejumlah lokasi di Jakarta juga sudah mulai stabil. Di kawasan Jatiwarna, Bekasi, dan Kramat Djati, Jakarta Timur, harga elpiji sudah dijual antara Rp 52.000-Rp 55.000 per tabung isi 12 kg. Beberapa pekan sebelumnya, harga elpiji per tabung isi 12 kg sempat meroket hingga di atas Rp 70.000 per unit atau jauh di atas batas maksimal yang ditetapkan Pertamina sebesar Rp 55.000.( ant-33) Harga Listrik PLTP Wayang Windu Flat JAKARTA-PT PLN (Persero) dan PT Star Energy selaku pengembang Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Wayang Windu, Jabar menyepakati harga jual listrik dari pembangkit tersebut tidak akan mengalami kenaikan (flat) pada delapan tahun terakhir. "Kami telah sepakat harganya flat pada delapan tahun terakhir masa kontrak," kata Direktur Pembangkitan dan Energi Primer PLN Ali Herman Ibrahim di Jakarta, belum lama ini. Sebelumnya kedua pihak telah menyepakati harga jual listrik pada tahap awal masa kontrak dari pembangkit berkapasitas 110 mW tersebut sebesar 4,9 sen dolar AS (Rp 490) per kWh. Sementara, masa kontrak PLTP tersebut selama 30 tahun. Menurut Ali, kesepakatan itu akan dituangkan ke dalam amandemen kontrak perjanjian jual beli listrik yang dijadwalkan akan ditandatangani awal 2006. Sebelumnya, PLN bersama pemilik lama Magma Nusantara Limited (MNL) telah menandatangani perjanjian harga jual listrik pada Juni 1998 dengan harga 8,39 sen dolar AS (Rp 839) per kWh. Namun proyek itu macet dan pada 2004 Star Energy mengakuisisi perusahaan MNL tersebut. Setelah tercapai kesepakatan dengan Star Energy, Ali menambahkan, pihaknya akan segera meminta persetujuan pengerjaan proyek ke Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro. Jika bisa dimulai awal 2006, maka diperkirakan PLTP Wayang Windu akan bisa beroperasi 2008. (ant-33) |