logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 08 Nopember 2005 SALA
Line

Boby Budi Santosa sang Dewa Gitar

Ketenaran Tak Sebanding dengan Penghargaan

DI sebuah rumah di Kelurahan Kwarasan, Grogol, Sukoharjo suatu malam pekan lalu ada pesta kecil. Diwarnai suguhan kue dan teh manis terjadi perbincangan yang melibatkan dua keluarga terdiri atas sembilan orang.

Namun pesta di halaman rumah itu menjadi berkesan karena mirip penyambutan terhadap seorang bintang. Tamu yang hadir bersama istri dan kakaknya itu adalah Boby Budi Santosa gitaris Lanina juara Dream Band 2005 di TV7.

Meski namanya tergolong baru di komunitas musik, lelaki kelahiran Solo 29 tahun lalu itu sudah menyandang sebutan dewa gitar.

Tak jelas siapa yang kali pertama menobatkan, tetapi di kalangan kafe, pub, dan tempat-tempat hiburan yang menggelar musik live di Yogyakarta, Semarang, dan Jakarta julukannya memang itu.

Sebutan itu makin dimantapkan ketika tampil pada seleksi Dream Band 2005 namanya selalu disebut-sebut para juri karena dialah yang paling atraktif bermain melodi gitar.

Lanina grupnya juga selalu berada di urutan teratas perolehan SMS dengan jarak cukup jauh dengan urutan di bawahnya dari awal hingga final dan penobatan grupnya sebagai The Real Dream Band 2005.

Awal pekan lalu Boby Budi Santosa yang asli Ngemplak Rejosari, Banjarsari, Solo itu pulang kampung. Kedatangannya di rumah orang tuanya, Soemantri Sudarisman, disambut biasa-biasa saja walau baru menginjakkan kaki di tempat asalnya sejak Mei lalu.

''Mei kami diisolasi dan terus mengikuti program latihan serta seleksi. Kontrak itu berakhir Mei 2006. Setelah final kami tidak diizinkan pergi. Baru menjelang Lebaran kami boleh pulang sampai 6 November,'' jelas Boby sambil memperlihatkan petikan mautnya di depan Bima Prasetyajati (15), salah seorang keponakannya.

Jatah liburan Boby sama dengan personel Lanina lainnya, yakni Daus (vokal), Dimas (bas), dan Ilham (drum).

Pasrah

Di depan keponakan, Erna istrinya, kakaknya Anton-Nina, serta paman dan bibinya Boby beratraksi sambil menyanyikan lagu-lagu yang diminta.

''Saya dan teman-teman sudah pasrah biarpun sangat pahit. Kami semua berusaha merendah dan mengikuti semua irama permainan manajer sambil melakukan 'pengaduan dosa' meskipun sebenarnya itu tidak pernah kami lakukan,'' ujar Boby melukiskan kondisi grupnya sejak dinobatkan menjadi The Real Dream Band 2005.

Lulusan Fakultas Ekonomi UTP Solo itu mengaku pulang berlebaran dengan membawa sisa hadiah. Setelah dibagi masing-masing anggota grup menerima Rp 5 juta. Ketika berangkat mudik ke Solo jumlah itu tinggal sebagian.

Hadiah lainnya berupa peralatan band yang diduga karya perajin Solo tidak bisa dibagi-bagi untuk para awak Lanina.

Meski tidak pernah ada job dari manajer pertunjukan para juara Dream Band, Boby masih merasa beruntung. Dia telah lama mandiri sebagai personel beberapa grup band yang mengais rezeki dari kafe ke kafe dan pub seantero Jakarta.

''Kasihan teman-teman itu karena belum punya job yang menghasilkan. Sebelum bergabung dengan Lanina saya sudah beredar dari kafe ke kafe dan dari pub ke pub. Tetapi kami semua hanya pasrah kalau dihadapkan pada ikatan kontrak,'' jelasnya.

Ketenaran nama Boby dan kawan-kawannya di Lanina sebagai juara Dream band 2005 memang tidak sebesar penghargaan yang diterima. Lain dengan juara KDI TPI yang diterima secara perorangan dan totalnya bisa ratusan juta rupiah.

Begitu pula dibandingkan dengan juara Kondang-In Indosiar atau Indonesian Idol-nya RCTI, penghargaan yang diterima orang-orang hebat macam Boby sungguh sangat jauh dari wajar. (Won Poerwono-27)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA