logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 08 Nopember 2005 SALA
Line

Memburu Rupiah saat Lebaran (1)

Meski Berat, Mudik Menjadi Kebanggaan

BAGI sebagian besar rakyat kecil di negeri ini, Lebaran merupakan saat yang ditunggu-tunggu. Mereka berharap, pada masa pencucian diri itu berkah akan bertaburan. Kesibukan pada saat menjelang dan sesudah hari raya memang meningkatkan aktivitas masyarakat, terutama bagi mereka yang akan mudik untuk menengok kampung halaman.

Guna pulang kampung, para pemudik memang harus tampil beda, setidaknya lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Mereka mempersiapkan semua kebutuhan selama Lebaran di kampung dengan segala kelebihan yang mereka peroleh selama merantau.

Lihat saja Suti, Endang, dan Tutik, mereka kini sudah memiliki handphone ketika pulang kampung. Ditenteng juga beberapa tas berlabel toko atau mal terkenal berisi bermacam-macam barang. Pemudik ingin memperlihatkan diri kalau selama merantau dia bisa membawa pulang barang-barang yang di desanya tidak bisa diperoleh.

''Saya bersyukur bisa mudik dengan berbekal hasil jerih payah kerja di Jakarta sebagai pembantu rumah tangga,'' ujar Suti, asal Plupuh, Sragen, sesaat setelah turun dari bus di Terminal Bus Tirtonadi.

Suti, gadis desa itu, memang harus pulang, meskipun sebenarnya baginya berat untuk membiayai ongkos mudiknya tahun ini. Jika dihitung, untuk transportasi mudik dan balik, paling tidak harus menyiapkan dana Rp 500 ribu. Biaya transportasi sebanyak itu dianggapnya berat, namun harus ditempuhnya. ''Tahun lalu, untuk transport cukup Rp 250 ribu. Tapi sekarang, karena harga BBM naik, ongkos naik bus pun ikut naik. Sementara gaji saya sendiri belum dinaikkan oleh majikan,'' jelasnya.

Lain lagi yang dikatakan Tumi, teman satu kampung dengan Suti. Dia merasa bangga bisa mudik, meski sebenarnya beban yang harus ditanggungnya cukup berat. ''Saya pulang dengan bangga, karena ingin perlihatkan kalau sudah bisa bekerja,'' katanya.

Mengaku digaji Rp 300 ribu per bulan dan dia kini sudah bisa menggenggam sebuah handphone. Pakaian yang digunakan juga cukup trendi, model anak-anak sekarang. Dua tas kresek warna putih berlabel sebuah mal terkenal dibawanya.

Ketika ditanya, isinya hanya kaos dan sedikit oleh-oleh buat keluarganya. Setahun lalu, barang-barang itu baru merupakan impian baginya. Namun, setelah merantau di Jakarta, impian itu bisa dicapainya.

Kedua gadis tersebut dan juga ratusan pemudik dari Jakarta serta kota besar lainnya mungkin merasa bangga bisa pulang kampung pada hari raya.

Hal itu hanya bisa mereka lakukan sekali dalam setahun. Tidak mengherankan kalau barang bawaannya seperti orang mau pindahan saja, banyak sekali.

''Masak pulang hanya bawa baju saja. Ya, bawa oleh-oleh buat keluarga ataupun tetangga, meski sedikit,'' timpal Parjo, yang mengaku bekerja sebagai karyawan sebuah rumah makan di Bandung. (Sri Wahjoedi-36h/bersambung)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA