logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 08 Nopember 2005 SALA
Line

KA Solo-Wonogiri Tak Hanya Berhenti di Stasiun

PUKUL 09.15, kereta api (KA) dengan nomer loko BB 300.03 melaju pelan dari arah timur di rel jalur satu Stasiun Purwosari, Solo. Beberapa penumpang yang telah lama menunggu, langsung berdiri dan mendekat, meski KA jurusan Solo-Wonogiri itu belum berhenti.

Tas dan kardus ukuran besar yang dibawa, tidak mengurangi langkah gesit mereka menuju KA. Demikian pula anak-anak yang ikut, tidak menyusahkan mereka.

Ketika loko KA feeding (pengumpan) melepas gandengan gerbong dan berputar berbalik arah ke timur, kesempatan tersebut digunakan para penumpang untuk masuk gerbong yang hanya satu itu.

Mereka tidak sampai berdesakan, karena jumlahnya tidak terlalu banyak. Dari 106 kursi yang tersedia di gerbong kelas ekonomi, penumpangnya tidak lebih dari 15 orang. Bayangkan, betapa longgar gerbong tersebut, sehingga penumpang bisa leluasa memilih tempat duduk yang disukai. Bisa di dekat jendela, bisa pula di tengah.

Pukul 09.30, KA yang sering disebut sepur kluthuk itu berangkat. Pemberangkatannya terbilang cukup lama, karena jadwal yang ditetapkan kepala stasiun KA feeding itu adalah berangkat pukul 07.30.

''Keberangkatan KA ke Wonogiri memang selalu terlambat. Pemberangkatannya harus menunggu KA Bengawan jurusan Jakarta-Surabaya yang singgah di Solo,'' kata Tri Waluyo, kondektur KA tersebut.

KA itu memang berfungsi hanya sebagai pengumpan penumpang KA Bengawan yang akan pulang ke Wonogiri atau sebaliknya. ''Kalau KA Bengawan datang tepat waktu, maka keberangkatan ke Wonogiri juga bisa tepat waktu,'' tuturnya.

Penghapusan

Meski KA bikinan 1960-an itu berkecepatan 75 km/jam, namun tidak pernah melaju secara maksimal. Dengan kecepatan rendah, para penumpang bisa menikmati keindahan pusat Kota Solo di Jalan Slamet Riyadi yang dilintasinya.

Pada pertengahan 1990-an, muncul wacana penghapusan KA itu. Alasannya, selain pendapatan dari penumpang tidak signifikan dibandingkan dengan biaya operasional, juga mengganggu dinamika pusat kota yang makin lama kian padat lalu lintasnya.

Rel KA yang bengkong dan melintas di jalan raya, juga sering mengakibatkan kecelakaan, terutama pada musim hujan.

''PT KA tidak memperbolehkan penutupan itu, sehingga Pemkot Surakarta punya rencana memindah jalur KA ke jalur yang lebih sepi di pinggiran kota. Namun, Pemkot tidak punya uang untuk pembebasan tanah, sehingga rencana itu pun batal,'' jelasnya.

Untuk sampai ke tujuan akhir di Stasiun Wonogiri Kota, KA melewati tiga stasiun kecil, yaitu Stasiun Sangkrah, Sukoharjo Kota, dan Nguter.

Di tiap stasiun itu, KA berhenti untuk menaikkan dan menurunkan penumpang serta barang, atau hanya melakukan kontrol. Namun untuk urusan menaikkan dan menurunkan barang atau penumpang, tidak hanya di stasiun, karena di setiap tempat KA itu juga bersedia berhenti. ''Sebenarnya tidak boleh, karena menyalahi aturan. Tapi karena ada pertimbangan lain, masinis mau berhenti, asal ada permintaan dari penumpang.''

Apa tidak akan terjadi kecelakaan? ''Ya tidak, karena yang melewati rel hanya KA itu, tidak ada yang lain,'' ujarnya.(Langgeng Widodo-27a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA