logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 08 Nopember 2005 SALA
Line

Ahlen, Menyambung Silaturahmi dan Bursa Jodoh

AHLEN. Itulah, istilah yang digunakan untuk menamai pertemuan keluarga. Kegiatan itu meramaikan setiap kali Lebaran tiba. Ketika seluruh anggota keluarga pulang mudik ke kampung halaman, digelarlah pertemuan keluarga besar itu.

Ahlen Bani Mastur, misalnya, salah seorang tokoh masyarakat di Nusukan, digelar di Masjid Al Mustajabah. Dari suami istri yang memiliki tujuh anak itu, kini sudah sampai ke canggah atau keturunan keenam. Jumlahnya sudah lebih dari 600 orang anggota keluarga.

''Kami menggelar pertemuan setahun sekali pada hari kedua Lebaran. Cikal bakal mbah (kakek dan nenek) memang di tempat ini, sehingga pertemuan juga lebih banyak digelar di sini. Alhamdulillah, meski sudah menyebar di seluruh Indonesia, setahun sekali 80% anggota keluarga besar menyempatkan mudik dan menghadiri ahlen,'' kata Zaenal Hidayat, ketua panitia.

Hal yang sama dilakukan oleh Keluarga Bani Ahsani, tokoh masyarakat di Mangkuyudan, Laweyan. Ahlen dilakukan dengan mengikutsertakan seluruh keturunan, yang juga sudah sampai canggah.

Bedanya, mereka menggelar pertemuan di sebuah vila besar di Tawangmangu. Ada sekitar 200 orang dari sekitar 300 anggota keluarga yang hadir.

''Itu memang ajang silaturahmi, sekaligus rekreasi bersama. Kebetulan lokasinya dekat dan murah, serta anggota keluarga lain bersedia hadir,'' kata dokter Moh Badri, direktur RS Mata Undaan Surabaya, yang ketiban sampur menggelar ahlen.

Sementara itu Bani Imam Kurbi, seorang tokoh masyarakat di Matesih, mengadakan ahlen dari alur buyut. Meski begitu, jumlah keluarganya sudah lebih dari 200 orang dan tersebar di seluruh Indonesia. Ada yang di Blitar, Surabaya, Jakarta, Banten, dan ada yang di kota lain.

Cari Jodoh

Acara ahlen, bermacam-macam. Paling utama, tentu saling mengenalkan saudara secanggah agar tidak kepaten obor (kehilangan kontak-Red).

Agenda sederhana itu bisa dimaklumi, karena sudah sampai pada keturunan kelima, biasanya banyak anggota keluarga yang tidak saling kenal lagi, kecuali jika tempat tinggalnya berdekatan.

''Terutama adalah mengenalkan mereka, agar tali silaturahmi kembali tersambung. Bagaimanapun mereka masih saudara. Kalau sampai tidak kenal, ya kasihan. Itu salah orang-orang tua seperti kita,'' jelas Zainal Hidayat.

Badri menambahkan, pernah ada kejadian lucu. Dua anak muda duduk satu kursi di sebuah bus yang sama. Mereka bertegur sapa menanyakan nama, meski tidak detail.

''Lha kok mereka turun di tempat yang sama, lalu masuk rumah yang sama. Ketika itu, barulah mereka tahu bahwa ternyata mereka bersaudara. Nah, itu kan kebangeten orang tua yang tidak saling mengenalkan,'' ujarnya.

Untuk menyambung silaturahmi, acara itu sekaligus dijadikan bursa jodoh. Anggota yang masih jomblo atau lajang, dikenalkan. Siapa tahu cocok, dan kemudian bertaut menjadi jodoh. Tentu, perjodohan tersebut diatur bagi yang sudah berjauhan keluarga.

''Ya, kalau sudah sampai pada keturunan kelima, atau mungkin dikenalkan kepada temannya. Biasanya, dari ahlen itulah tali perjodohan terjadi, sehingga dari semula saudara jauh akhirnya kembali dekat,'' ungkapnya.(Joko Dwi Hastanto-27a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA