logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 08 Nopember 2005 OLAHRAGA
Line

Duka Beruntun Sepak Bola Jatim

Tahun 2005 jadi masa kelabu bagi persepakbolaan Jatim. Setelah selama tiga tahunberturut-turut Jatim berhasil mendominasi kompetisi Divisi Utama Liga Indonesia, tahun ini kondisinya berbanding terbalik.

Pada Liga Indonesia VIII 2002 yang menerapkan sistem dua wilayah, tim dari Gresik, Petrokimia Putra berhasil mengukir prestasi emas sebagai kampiun, setelah di babak final di Stadion Bung Karno Jakarta menundukkan Persita Tangerang.

Pada Liga Indonesia IX 2003, gantian tim debutan yang baru nongkrong di Divisi Utama, Persik Kediri mengukir sejarah luar biasa menjadi tim nomor wahid di antara barisan tim lainnya. Ketika itu, Macan Putih --julukan Persik Kediri-- diarsiteki oleh mantan pemain sayap Niac Mitra Surabaya, Jaya Hartono.

Melalui perjuangan panjang, karena penerapan sistem kompetisi satu wilayah, Persebaya mengukir prestasi emas sebagai jawara Liga Indonesia X 2004. Dalam pertandingan terakhir di Stadion 10 Nopember Tambaksari Surabaya, Green Force --julukan Persebaya-- yang dipandegani Jacksen F Tiago mengalahkan Persija Jakarta dengan skor 2-0.

Tampilnya Persebaya sebagai juara Liga Indonesia X sekaligus menorehkan rekor sebagai tim pertama yang jadi jawara Liga Indonesia dua kali. Pada Liga Indonesia III, Persebaya yang saat itu diarsiteki Rusdi Bahalwan dan Subodro tampil sebagai number one.

Itulah sederet prestasi tim Divisi Utama Jatim pada Liga Indonesia selama tiga tahun terakhir. Lalu, apa yang terjadi pada Liga Indonesia XI 2005?

Tiga Tim Degradasi

Tahun ini, tiga tim Jatim terdegradasi akibat buruknya prestasi dan kesalahan manajemen tim dalam mengambil keputusan. Mantan jawara Liga Indonesia VIII, Petrokimia Putra terpaksa harus terdegradasi ke divisi satu pada Liga Indonesia XII 2006. Musim lalu, Kebo Giras --julukan Petrokimia Putra-- yang dilatih Widodo Cahyono Putra hanya mampu duduk di runner up dari bawah wilayah timur. Bahkan, kelangsungan kiprah tim yang berdiri sejak era Galatama itu kini terancam. Manajemen PT Petrokimia Gresik (PT PG) yang selama ini menjadi penyangga dana dan membiayai klub lepas tangan.

Manajemen PT PG menyerahkan kepada pihak lain, terutama Pemkab Gresik untuk menyelamatkan mantan tim galatama ini. Sampai menjelang lebaran lalu, belum ada langkah konkret yang dilakukan otoritas di Pemkab Gresik untuk menyelamatkan tim.

Ultrasmania --kelompok suporter Petrokimia Putra-- terus mendesak manajemen PT PG dan Pemkab Gresik untuk menyelamatkan tim Kebo Giras.

Ultrasmania telah memasang banyak spanduk di seantero Gresik dan di depan rumah pribadi Bupati Gresik, Robbach Ma'shoem. Isinya meminta kepada penguasa Gresik itu untuk menyelamatkan Petro Putra.

''Dulu saat pilkada kami memilih bapak. Sekarang kami menagih kepada bapak untuk menyelamatkan Petrokimia Putra; Polusi jalan terus, bal-balan juga harus jalan terus; Jika sudah tak becus mengurus sepakbola, ya jangan duduk sebagai direktur utama (Dirut), dan lainnya.

Itulah spanduk-spanduk bernada protes yang dipasang kelompok pecinta Petro Putra ketika tim ini berada di persimpangan jalan: eksis berkompetisi di blantika sepakbola nasional divisi satu ataukah tutup namanya tinggal sejarah, seperti Niac Mitra, Yanita Utama, Lampung Putra, Indonesia Muda, Perkesa 78, Pardedetex, dan lainnya.

Kini yang berkembang di Gresik adalah nada pesimistis bahwa tim Petro Putra mampu diselamatkan otoritas pemkab setempat. Yang muncul di Gresik hanya sebatas nada keprihatinan tanpa ada langkah pro aksi yang bersifat operasional di lapangan. Padahal Badan Liga Indonesia (BLI) dan PSSI merencanakan Liga Indonesia diputar pada bulan Januari 2006.

Deltras Pro Aktif

Setali tiga uang dengan Petro, Delta Putra Sidoarjo (Deltras) juga terdegradasi pada Liga Indonesia 2005. Namun tim yang kini dipandegani Jaya Hartono itu mengambil langkah lebih progresif dibanding Petro. Jaya Hartono sebagai pelatih baru Deltras telah dikukuhkan.

Lalu, sebagian besar pemain lama terus didekati agar sudi memperkuat Deltras pada Liga Indonesia 2006.

Bahkan, ada beberapa mantan pemain Deltras yang ikut Jaya ke Persiba Balikpapan pada Liga Indonesia 2005, seperti Agustiar Batubara, kemungkinan besar kembali berlabuh di Deltras pada Liga Indonesia 2006.

Yang kini nasibnya paling terkatung-katung adalah Persebaya Surabaya. Langkah Ketua Umum Green Force, Bambang Dwi Hartono menarik mundur timnya dari babak delapan besar Liga Indonesia 2005 menjelang bertemu Persija, jadi blunder yang melahirkan banyak cabang kasus di tim ini. Nasib tim tak jelas. Boleh bermain di Copa Indonesia, tapi diskors 16 bulan tak boleh berlaga di Liga Indonesia. Para pemain masa depannya tak jelas.

Terjadi hubungan dingin antara pengurus Persebaya dengan sebagian pemilik klub anggotanya dan berkembang wacana mempercepat musyawarah anggota luar biasa (Musanglub) Persebaya. Bahkan, kini masalah pengggunaan anggaran sebesar Rp 15 miliar dari APBD Pemkot Surabaya untuk Persebaya pada Liga Indonesia XI 2005 jadi kasus hukum dan dalam proses penyelidikan di Kejati Jatim.

Itulah potret besar sepak bola Jatim menjelang akhir tahun ini. Warnanya buram dan diselimuti ketidakpastian. (Ainur Rohim-40)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA