| Selasa, 08 Nopember 2005 | OLAHRAGA |
BLI Belum Tentukan Jumlah Tim Divisi UtamaJAKARTA- Badan Liga Indonesia (BLI) sudah menetapkan penyelenggaraan kompetisi Divisi Utama Liga Indonesia 2006 akan dimulai tanggal 7-8 Januari 2006. Namun, BLI hingga kini belum memastikan jumlah tim yang akan berlaga di Divisi Utama tersebut, apakah tetap 28 tim seperti pada kompetisi 2005, atau 27 klub menyusul skors yang dijatuhkan kepada Persebaya Surabaya. Direktur Ekskutif BLI, Andi Darussalam Tabusala menegaskan, jumlah kompetitor Divisi Utama saat ini sudah diserahkan ke Pengurus Harian PSSI. "Soal itu sampai saat ini masih menjadi tanggung jawab PSSI. Saya sendiri belum tahu bagaimana kepastiannya," kata Andi, Senin (7/11) kemarin. Menurutnya, Pengurus Harian PSSI dan Ketua BLI Nirwan D Bakrie sampai saat ini masih mencari formula yang tepat mengenai kepastian jumlah kompetitor Divisi Utama tersebut. "Yang jelas, mengenai jumlah kompetitor itu memang ada beberapa wacana, tetapi biarlah Pengurus Harian PSSI yang menentukan," tegas Andi. Di antara wacana mengenai kompetitor Divisi Utama itu adalah, PSSI atau BLI tetap meniadakan pengganti Persebaya sehingga total peserta kompetisi Divisi Utama adalah 27 tim. Namun, keras pula usulan tentang perlunya dicari pengganti Persebaya melalui babak play-off yang diikuti oleh empat tim yang terdegradasi ke Divisi I, ditambah dua tim peserta babak ''6 Besar'' Divisi I yang gagal promosi ke Divisi Utama. Pengurangan Sanksi Empat tim peserta kompetisi Divisi Utama 2005 yang terdegradasi ke Divisi I adalah Petrokimia Putra, PSPS Pekanbaru, Pelita KS (kini Pelita Jaya), serta Deltras Sidoarjo. Sementara dua tim peserta ''6 Besar'' Divisi I 2005 yang gagal promosi ke Divisi Utama adalah Persid Jember dan Persibo Bojonegoro. Bila cara kedua ini yang akhirnya ditempuh oleh PSSI, yakni dengan mengadakan play-off, maka sebagai konsekuensinya harus pula diadakan play-off untuk menentukan satu tim dari Divisi II yang akan menggantikan tempat tim dari Divisi I yang nantinya promosi ke Divisi Utama. Persebaya Surabaya oleh Komisi Disiplin PSSI semula diskors dua tahun tidak boleh berkompetisi di kancah sepak bola nasional, karena mundur dari babak ''8 Besar'' Liga Indonesia 2005. Alasan Persebaya mundur karena pendukungnya terancam jiwanya di Jakarta. Di tingkat Komisi Banding, sanksi untuk Persebaya ini berubah menjadi skors 16 bulan tidak boleh berkompetisi di Divisi Utama, namun tetap boleh tampil di Piala Indonesia. Saat ini, mereka tengah mengajukan peninjauan kembali (PK) ke Ketua Umum PSSI, Nurdin Halid yang memang memiliki hak prerogatif. Kecil kemungkinan sanksi untuk Persebaya dibatalkan oleh Nurdin, meski peluang pengurangan hukuman cukup terbuka. Namun, dengan format kompetisi tahun 2006 yang sudah diplot oleh BLI, di mana tim yang akan tampil di Piala Super Liga (pengganti Piala Indonesia) adalah tim yang lolos ke delapan besar Divisi Utama dan Divisi I, Persebaya tetap tak bisa berkompetisi di Piala Super Liga. (wgm-40) |