logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 08 Nopember 2005 WACANA
Line

Menumbuhkan Intelektualitas Pemuda

Oleh Paulus Hariyono

DIBANDINGKAN dengan negara tetangga, Indonesia merupakan satu-satunya yang merdeka atas perjuangan diri sendiri. Karena itu bangsa Indonesia mempunyai banyak hari-hari peringatan perjalanan perjuangan bangsa ini. Salah satunya Sumpah Pemuda.

Orang kagum atas tekad kaum intelektual muda tahun 1928 untuk menanggalkan identitas daerah dan primodialnya demi sesuatu yang lebih mulia. Adalah Muhammad Yamin, dalam Konggres Pemuda II Oktober 1928 (Kerapatan Besar Pemoeda Indonesia), yang menyusun komposisi dari resolusi itu:

Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.

Kami poetra dan poetri Indonesia mengaku berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.

Kami poetra dan poetri Indonesia menjoenjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Kebalikan dari kongres Pemuda I tahun 1926 yang menggunakan bahasa Belanda, bahasa utama yang digunakan sebagai pengantar pada Oktober 1928 adalah bahasa Melayu/Indonesia. Ketika itu keputusan penggunaan bahasa Melayu sempat menimbulkan kebingungan di antara peserta konferensi, karena mereka harus menanggalkan kedaerahannya, sementara tidak semua kaum muda mahir berbahasa Melayu.

Vander Plas, pengamat resmi dari Belanda memberi catatan yang tajam bahwa bahasa Melayu yang digunakan oleh pemimpin konferensi, pelajar dari Jawa bernama Soegondo Djojopoespito, dianggap tidak mencapai tujuan. Katanya, "Pemimpin kongres, pelajar Soegondo, tidak dapat memenuhi tugasnya dan kekurangan otoritas. Ia mencoba untuk berbicara dalam bahasa Indonesia, tetapi tidak dapat membuktikan bahwa dirinya mampu melakukannya dengan baik."

Lebih lanjut dikatakan, "Orang Jawa, Sunda dan suku lainnya tampaknya merasa tidak leluasa dengan keinginan bahwa seseorang harus melepaskan bahasa mereka sendiri demi bahasa melayu (bahasa Indonesia). Tetapi mereka tampak diam, ketika ketua dan pembicara lain memperlihatkan pengetahuan bahasa Melayu yang baik."

Meskipun bahasa Melayu digunakan secara tidak sempurna, tetap saja ada beberapa pembicara yang memilih untuk berbicara di kongres dalam bahasa Belanda. Sidang pada hari kedua yang bertemakan "pendidikan", diwarnai seorang panelis, dan beberapa peserta, yang berbicara dalam bahasa Belanda. Akan tetapi setelah Ny. Poernomowulan selesai membacakan pandangannya mengenai pendidikan dan lingkungan rumah untuk anak-anak dalam bahasa Belanda, Ny. Poenomowulan menawarkan apakah peserta kongres menghendaki pidatonya diterjemahkan dalam bahasa Melayu.

Tanggapan dari peserta secara serempak menyatakan, "Diterdjemahkan !! Dimelayoekan !!"

Yamin, selaku sekretaris kongres maju ke podium untuk menerjemahkannya.

Sejak itu terjadi perpisahan secara simbolis dengan bahasa kolonial yang membedakan nasionalisme Indonesia dari pergerakan nasionalis di mana pun dalam dunia kolonial saat itu. Paling tidak salah satu peserta konggres merasa perlu untuk meminta maaf karena telah menggunakan bahasa Belanda, menyesal, seperti yang tertera dalam sebuah laporan, bahwa ia sendiri sebagai anak Indonesia tidak bisa berkata dalam bahasanya sendiri (Fadjar Asia, 1928 b).

Tidak hanya pengguna bahasa kolonial yang menjadi sebab sebuah permintaan maaf; pembicara dari Jawa pada tahun 1928 juga tidak bisa berbicara dalam bahasanya sendiri sebagai seorang nasionalis Indonesia, sampai saat ia mengerti bahasa Indonesia.

Gema Sumpah Pemuda berlangsung terus. Hanya selang dua bulan, tepatnya Desember 1928 berlangsung kongres perempuan nasional. Salah satu peserta, Sitti Soendari, berbicara dengan kata-kata berikut: "Sebeloem kami memoelai membicarakan ini, patoetlah rasanja kalau kami terangkan lebih dahoeloe, mengapa kami tidak memakai bahasa Belanda atau bahasa Djawa: Boekan sekali-kali karena kami hendak merendahkan bahasa ini. Sama sekali tidak. Tetapi barang siapa diantara toean yang mengoendjoengi kerapatan pemoeda di kota Djacarta beberapa boelan jang laloe, tentoe masih mengingat hasilnja, jaitu hendak berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia, hendak bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia, dan hendak menjunjung bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Oleh karena jang terseboet inilah maka kami, sebagai poetri Indonesia yang lahir dipoelau Djawa jang indah ini, berani memakai bahasa Indonesia dimoeka rakjat ini. Bukankah kerapatan kita kerapatan Indonesia dan dioentoekkan bagi seloeroeh kaum istri dan poetri Indonesia, beserta tanah toempah darah dan bangsanya". (Soendari, 1981:179).

Kata-kata ini begitu menyentuh dan begitu penting, karena ketika kongres pemuda II Sitti Soendari masih menggunakan bahasa Belanda dan belum mengerti bahasa Indonesia. Tetapi selang dua bulan, perubahan dahsyat terjadi: dengan sebuah catatan penjelasan dan nada permintaan maaf, seorang perempuan muda Jawa berpendidikan Belanda melepaskan bahasa tanah kelahirannya (bahasa Jawa) dan bahasa intelektualnya (bahasa Belanda), meskipun ia masih membutuhkan penerjemah untuk memperbaiki bahasa Indonesianya.

Akumulasi Nasionalisme

Peristiwa Sumpah Pemuda tidak serta merta terjadi begitu saja, jauh sebelumnya terakumulasi jiwa nasionalisme pada berbagai kelompok pada pemuda intelektual Indonesia. Sebagai ideologi dan gerakan yang mendasarkan pada doktrin kemerdekaan dan kedaulatan rakyat, nasionalisme tidak hanya berpengaruh terhadap pecahnya revolusi di Amerika dan Prancis, tetapi juga berperan dalam proses pembentukan bangsa dan negara yang lahir dari bekas wilayah jajahan di Asia dan di dunia lainnya pada abad ke-20.

Demikian pula di Indonesia, nasionalisme yang tumbuh antara tahun 1900-1945 menjadi roh penggerak lahirnya pergerakan kebangsaan dan perjuangan untuk mencapai kemerdekaan Indonesia dan mempertahankannya antara tahun 1945 -1962 (saat Irian Barat direbut oleh RI).

Karena itu periode kelahiran nasionalisme merupakan periode yang sangat penting dalam sejarah Indonesia.

Perhimpoenan Indonesia (PI) dilahirkan di Belanda oleh kaum intelektual muda yang sedang menimba ilmu di sana pada tahun 1922-1923. kemudian PI berperan sebagai organisasi pergerakan perumus konsep "ke-Indonesia-an" untuk mengganti konsep Hindia Belanda. Konsep ini kemudian disebarkan ke tanah air di Indonesia dan diikuti oleh beberapa kelompok studi yang berdiri di beberapa kota, seperti Indonesische Studieclub di Surabaya dan Algemeene Studieclub di Bandung

Jumlah kaum intelektual muda pada waktu itu masih terbatas, namun mampu menampilkan peran melahirkan nasionalisme Indonesia dengan sangat menarik dan tepat. Meskipun mereka memiliki pendididikan Barat, namun kesadaran nasionalisme yang tumbuh mampu melahirkan kecintaan pada bangsa dan tanah airnya. Bila tidak demikian, bisa saja mereka hidup enak sebagai kaum elite di negeri Belanda, tanpa memikirkan nasib bangsanya di tanah air.

Secara jelas Sumpah Pemuda yang diselenggarakan dalam kongres pemuda di Jakarta itu untuk pertama kalinya perkumpulan kaum terpelajar Indonesia yang terdiri dari Jong Java (1915), Jong Sumatranen (1917), Jong Celebes (1918), Jong Minahasa (1918), Sekar Roekoen (1919) dan Jong Bataks Bond (1925) "memproklamasikan" kesatuan Indonesia secara kultural dan politik dalam tiga konsep: satu tanah air, Indonesia; satu bangsa, Indonesia; dan satu bahasa, Indonesia (Sartono Kartodirdjo, dkk, 1977).

Hal ini merupakan modal sosial penting bagi perjalanan sejarah masyarakat Indonesia karena pada peristiwa itu untuk pertama kalinya konsep jati diri sebagai bangsa dengan konsep Indonesia sebagai simbol pemersatu keragaman masyarakat Indonesia dinyatakan secara tegas, jelas dan berani.

Upaya pemersatuan keragamanan ini tidak lain adalah sikap pluralisme yang telah dimiliki intelektual muda ketika itu. Aneka suku, agama, jenis kelamin berbaur jadi satu menyatakan sebagai tanah air, bangsa dan bahasa yang satu, Indonesia. Adalah suatu kemunduran bila generasi masa kini, 77 tahun kemudian, mengingkari keanekaragaman dalam kesatuan dalam berbagai bentuk: kekerasan, diskriminasi, mengejar pengukuhan diri, mengambil kesempatan dan keuntungan pribadi dan mengabaikan kemajuan bangsa.

Sikap gentlement generasi intelektual muda ketika itu tidak lain adalah sikap intelektual yang seharusnya dimiliki oleh generasi muda masa kini dan layak ditiru oleh generasi tua sekalipun.

Seorang intelektual ternyata tidak harus berpendidikan formal yang tinggi.

Simanjuntak (1984) menyebutkan ciri-ciri seorang intelektual ialah: satu, orang yang terbuka terhadap seluruh kenyataan. Dua, mampu dan sanggup bergaul dengan golongan sosial manapun. Tiga, orang yang bebas, hormat kepada orang yang berkedudukan tinggi namun tidak kurang hormat kepada rakyat jelata. Empat, orang yang tidak merasa rendah terhadap orang lain, bahkan sebaliknya berani berbangga diri karena telah menjadi pribadi yang dewasa dan mampu menggarami lingkungan di sekelilingnya

Lima, tidak fanatik, tidak merasa terancam oleh orang atau pengetahuan yang lain. Enam, tidak mengejar pengukuhan diri atas orang lain. Tujuh, berani berpendirian namun tidak takut mengaku salah atau keliru bila memang demikian.

Ciri-ciri intelektual ini perlu ditanamkan dalam dunia pendidikan untuk bekal peserta didik kelak. Seorang intelektual ditentukan oleh watak yang mampu menyaturagakan pendidikan dengan hidupnya, bukan oleh pengetahuan luas yang hanya merupakan tempelan belaka.

Istilah "intelektual" akhir-akhir ini jarang terdengar, melainkan digunakan istilah "cerdas". Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002) "cerdas" berkaitan dengan istilah "akal" yang konotasinya dapat mengarah ke sifat positif tetapi dapat juga negatif, tergantung pada tujuan (dapat menghasilkan manusia yang sekadar "akal-akalan", pen.), belum tentu mengedepankan unsur etika dan moral.

Manusia yang cerdas, tidaklah cukup untuk dapat menghasilkan manusia intelek seperti ciri-ciri di atas. Pertanyaan selanjutnya: Masihkah generasi muda masa kini, para pendidik dan segenap komponen pelaku pembangunan memiliki jiwa dan ciri-ciri intelektual yang melandasi intelektual muda 77 tahun yang lalu untuk menuju masa depan Indonesia yang cerah ? (11)

- Paulus Hariyono adalah dosen ilmu humaniora FT Arsitektur Unika Soegijapranata Semarang.


HexWeb XT DEMO from HexMac International

Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA