| Selasa, 08 Nopember 2005 | WACANA |
tajuk rencanaTak Adakah Jalan Lain di Luar Tawur?-Sungguh memprihatinkan sekaligus memalukan! Tawur telah menodai kedalaman makna puasa dan Idul Fitri di Jawa Tengah. Dua hari menjelang hari kemenangan bagi umat Islam setelah sebulan menjalankan ibadah puasa, terjadi tawur antarwarga di Kecamatan Sukolilo, Pati. Disusul peristiwa serupa setelah Lebaran di Kecamatan Ketanggungan, Brebes. Perang batu dan perkelahian massal di Pati diawali oleh dua warga Desa Wotan yang melintas di jalan Desa Baturejo dicegat sekelompok warga Dukuh Bombong, pekan lalu. Diduga karena dendam lama, dua warga Desa Wotan itu dikeroyok. Mereka bisa melarikan diri, tetapi sepeda motornya yang ditinggalkan menjadi sasaran amarah lawan. Kendaraan bermotor roda dua itu dilempar ke saluran irigasi. - Sepertinya sepele. Hanya karena ketersinggungan, terkadang dibumbui aroma dendam. Lalu meletuplah anarki. Amarah lebih dominan ketimbang akal sehat. Seolah-olah tidak mengenal nilai-nilai silaturahmi. Peristiwa di Baturejo tersebut mengundang sekelompok warga Wotan mendatangi tempat kejadian. Merasa dicari oleh anak-anak Wotan, Kelompok Bombong tak tinggal diam. Mereka mempersiapkan diri di perbatasan Dukuh Ronggo dan Dukuh Bombong di wilayah Desa Baturejo. Saling tantang dan lempar batu terjadi dari Senin malam hingga Selasa dini hari. Rumah Sukarlan warga Dukuh Ronggo yang dijadikan tempat berlindung Kelompok Wotan pecah genteng dan jendela kacanya. Demikian pula rumah Rumaji dan Pandi, warga Bombong. - Selain melempar batu rata-rata sekepalan tangan orang dewasa dengan cara dilontarkan melalui entakan karet ban setelah diputar-putar beberapa kali, kelompok yang bertikai menyiapkan senjata tajam berupa pedang, parang, dan tombak. Sangat memilukan, mengapa sesama anak bangsa saling mengambil posisi semacam itu? Warga yang tidak tahu apa-apa tentu dihantui perasaan takut luar biasa. Polisi yang datang berusaha menghalau kedua kelompok, bahkan beberapa kali melepaskan tembakan peringatan. Tawur bisa dihentikan setelah aparat mengambil posisi di tengah-tengah kelompok yang saling melempar batu dan mengancam. Memang tak ada korban jiwa, tetapi bukankah kejadian itu menumbuhkan luka interaksi, di samping kerugian fisik? - Lalu mengapa memilih cara penyelesaian persoalan melalui tawur? Akhir pekan lalu, ratusan warga Desa Cisereuh, Kecamatan Ketanggungan, Brebes juga menyerbu Dukuh Karanganyar, Desa Jemasih di wilayah kecamatan yang sama. Delapan belas rumah dilaporkan rusak parah dan lima rumah terbakar. Penyerbuan tersebut dipicu oleh pertikaian antara lima pemuda Cisereuh dengan warga Dukuh Karanganyar malam sebelumnya. Dalam perjalanan pulang usai bersilaturahmi ke rumah teman wanita mereka di Karanganyar, kelima pemuda itu disapa warga yang duduk-duduk di tepi jalan. Sapaan itu tak dijawab karena lampu penerangan kebetulan padam. Akibatnya, warga tersinggung dan terjadi cekcok serta perkelahian dengan kelima pemuda tersebut. - Peristiwa itu berbuntut penyerbuan warga Cisereuh yang menyebabkan belasan rumah rusak dan beberapa rumah terbakar habis. Pemicu tawur di Pati dan Brebes tersebut bisa dikatakan sangat tidak sepadan dengan kerugian dan biaya sosial lain yang ditimbulkan. Ketakutan dan kecemasan yang dirasakan oleh warga yang tidak ada sangkut-pautnya dengan pertikaian tak bisa dinilai dengan uang. Demikian pula rumah-rumah yang rusak ringan atau parah, bahkan beberapa di antaranya rata dengan tanah karena ludes terbakar. Kita berharap kasus-kasus serupa yang berawal dari kesalahpahaman dan semacamnya itu tidak lagi terulang. Tidak adakah jalan lain untuk menyelesaikan gesekan, cekcok, salah paham, dan sejenisnya di luar tawur? - Dari beberapa kasus tawur antarwarga selama ini bisa diambil kesimpulan, sebagian besar melibatkan kaum muda, beberapa di antaranya merupakan perantau yang bekerja di kota-kota besar. Di samping itu, di antara warga atau kelompok yang bertikai telah lama bersemi bibit-bibit dendam, baik karena cekcok kecil maupun perkelahian akibat saling pandang dan salah paham. Sangat ironis, suasana Lebaran yang kental nuansa bermaafan justru dinodai oleh kasus-kasus tawur. Menjadi tugas para tokoh masyarakat, ulama, dan pemimpin hingga tingkat bawah untuk membudayakan dan menggalakkan lagi contoh silaturahmi antarwarga, antardukuh, antardesa, dan seterusnya. Sementara itu, sebagai terapi, proses hukum mutlak harus dikedepankan. |