logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 08 Nopember 2005 KEDU & DIY
Line

Sungkem ke Sumber Mata Air Jadi Tradisi

SUNGKEM anak kepada orang tua, memohon maaf atas segala kesalahan saat Lebaran merupakan suatu keharusan. Demikian halnya bagi ratusan warga Dusun Keditan, Desa Pogalan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang.

Mereka di samping sungkem kepada orang tua, harus sungkem kepada salah satu sumber mata air di Dusun Gejayan, Desa Banyusidi, Pakis. Tradisi ini dinamakan ''sungkem telompak'' yang sudah dilakukan turun-temurun sejak 1933 setiap Idul Fitri.

Sujak, pemuka masyarakat Dusun Keditan menerangkan, tradisi sungkem telompak ini sebagai wujud permohonan berkah dari Tuhan agar kehidupan pada tahun mendatang lebih baik, bebas dari bencana, penyakit, dan mendapatkan kesejahteraan berlimpah. ''Kami ke sini meminta berkah dari pepundhen,'' tuturnya.

Kegiatan itu dilaksanakan Senin kemarin (7/11) di sebuah batu besar yang mengalirkan air jernih dari celahnya.

Ratusan warga Keditan tiba di Dusun Gejayan yang berjarak tujuh kilometer dari tempat tinggal mereka, dengan menumpang truk, mobil pikap, dan sepeda motor.

Lombok Abang Ijo

Sebagian besar mengenakan pakaian tarian tradisional keprajuritan ''Campur Baur, Lombok Abang, dan Lombok Ijo''.

Seseorang yang mengenakan pakaian adat Jawa model Yogyakarta mengusung tumpeng berisi aneka makanan dan sesaji.

Seorang lagi membawa bendera Merah Putih dan dua yang lain mengusung payung kebesaran.

Rombongan warga yang dipimpin pemuka masyarakat Sujak, diterima Kadus Gejayan Purwo Sugito, di halaman rumah.

Purwo juga juru kunci Sendang Telompak yang berlokasi di pinggir dusun tersebut.

Prosesi yang diiringi tetabuhan bende, kenong, dan beduk itu dimulai pukul 11.20. Sambil membakar kemenyan, Purwo memimpin upacara ritual di mata air sendang tersebut.

Sebagian warga Keditan memberikan hormat dengan cara mengatupkan kedua tangan, sedang yang lain mencuci muka di mata air sebelum mementaskan jathilan.

Kades Banyusidi Riyadi mengatakan, hari pelaksanaan tradisi sungkem telompak itu tidak tentu.

''Namun yang jelas, saat Lebaran. Kami di Gejayan sebagai tuan rumah manut jadwal yang mereka tetapkan,'' tuturnya.

Ceritanya, tambah Riyadi, pada tahun 1933 warga Keditan mengalami pagebluk, yakni diserang penyakit cacar dan kesulitan ekonomi.

Mereka lalu melakukan ritual dilengkapi sesaji di Sendang Telompak dan berjanji jika permohonan terkabul, akan melakukannya setiap Lebaran.

Mereka percaya Sendang Telompak ditunggu Pangeran Singobarong.

Cerita yang berkembang di masyarakat setempat, Pangeran Singobarong kalah perang melawan Pangeran Kelana Sewandono ketika memperebutkan Dewi Sangga Langit. Karena kalah, dia bertapa di Sendang Telompak untuk mencari keabadian.

Hingga kini, warga percaya kalau tidak melakukan ritual saat Lebaran, akan terjadi bencana. ''Pernah beberapa tahun lalu warga tidak melaksanakan sungkem telompak, akibatnya banyak yang terkena 'beleken' (radang mata),'' kata Riyadi.

Selesai ritual, warga Keditan melanjutkan acara dengan mementaskan jathilan di halaman rumah Kadus Gejayan hingga sore hari. (Doddy Ardjono-39m)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA