logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 08 Nopember 2005 INTERNASIONAL
Line

Weah Optimistis Menangi Babak Kedua

MONROVIA - Rakyat Liberia berharap pemilu presiden babak kedua Selasa ini dapat menyembuhkan luka-luka mendalam akibat perang saudara yang merobek-robek negara itu. Bintang sepak bola George Weah, eks striker AC Milan, akan bersaing dengan ''Si Wanita Besi'' eks menteri keuangan Ellen Johnson-Sirleaf.

Jalan-jalan di ibukota Monrovia yang berlubang-lubang serta blok-blok menara yang hancur masih menyisakan kenangan pahit konflik yang mendera negeri itu selama 14 tahun. Perang saudara baru berakhir pada 2003 lalu. Melalui kesepakatan damai, Presiden Charles Taylor diasingkan di Nigeria.

''Saya harap pemilu ini akan mewujudkan masa depan yang lebih baik,'' kata Samuel B Kerkulah usai mengikuti misa di gereja. Di pelataran Gereja Lutheran St Petrus di Monvoria itu, 600 orang dibantai saat perang saudara.

''Seluruh peristiwa yang kami alami di negeri ini hanyalah peperangan, kekacauan dan kehancuran,'' kata dia.

George Weah (39), sebagai pendatang baru di arena politik, menang dengan 28 persen suara pada pemilu babak pertama 11 Oktober lalu. Rivalnya, Ellen Johnson-Sirleaf (66) yang lulusan Harvard berada di tempat kedua dengan 20 persen suara. Mantan ekonom Bank Dunia itu akan menjadi presiden perempuan pertama Afrika seandainya terpilih nanti.

Kubu rival Weah meragukan kualifikasi jutawan bintang itu sebagai presiden. Weah, World Player of the Year FIFA pada 1995, putus sekolah menengah atas sebelum menempuh karir di dunia sepakbola.

''Ellen adalah calon terbaik untuk presiden. Kita tidak sedang bermain bola,'' kata James Johnson (46). ''Dia punya pengalaman akademik yang baik dan sangat dikenal di luar Liberia.''

Bagi kebanyakan orang miskin Liberia, karir King George (julukan bagi Weah) dari kehidupan kumuh-miskin menuju kemakmuran ibarat model yang ingin mereka wujudkan di negeri itu. Mereka berpendapat, Weah tidak tercemari dosa-dosa politik yang melumuri para politikus selama perang dengan korban jiwa 250.000 orang di Liberia.

Ketidakstabilan

''Tak ada kompromi, saya akan memilih Anda!'' teriak sekelompok pemuda sambil berlari membentuk formasi di sekeliling stadion sepakbola Monrovia. Pada Sabtu lalu, Weah menggelar kampanye yang diiikuti 20.000 pendukungnya.

''Mereka bilang saya tidak layak jadi presiden karena saya tidak berpendidikan,'' kata Weah di hadapan massa. ''Tetapi, saya tidak akan pernah memecah belah rakyat Liberia.''

Foto-foto tentara anak-anak yang kecanduan marijuana dan narkoba semasa perang saudara Liberia telah mengejutkan dunia. Konflik ini juga menggoyahkan stabilitas kawasan itu.

''Liberia adalah episentrum ketidakstabilan di kawasan itu,'' kata Allan Doss, komandan misi perdamaian PBB berkekuatan 15.000 personel. ''Jadi, yang dipertaruhkan di sini bukan hanya sebatas Liberia saja.''

Negeri itu didirikan oleh budak-budak Amerika yang dibebaskan pada 1847. Republik tertua di Afrika itu sempat menikmati perdamaian dan kemakmuran sebelum pertikaian di antara elite politik membuat situasi mendidih.

''Kami sudah menjadi negeri selama 150 tahun tetapi belum mencapai kemajuan,'' kata Jeanette Brown (41), salah seorang pendukung Weah. ''Negeri ini kaya, tetapi ke mana perginya kekayaan itu? Korupsi!''

Program Weah adalah mengembalikan layanan dasar seperti air minum dan listrik, serta memberantas korupsi. Kaum muda Liberia rupanya sangat tertarik dengan program-program yang ditawarkan kampanye Weah.

Kaum muda adalah bagian signifikan dalam populasi negeri itu karena 60 persen penduduk berusia di bawah 29 tahun.(rtr-gn-25)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA