| Selasa, 08 Nopember 2005 | INTERNASIONAL |
Kasus Penularan pada ManusiaWHO Bantu China Selidiki Flu BurungBEIJING - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Senin kemarin membenarkan bahwa badan PBB itu akan membantu menyelidiki kemungkinan kasus penularan flu burung pada manusia di China. Enam juta unggas telah dimusnahkan dalam sebulan terakhir di China, terutama di daerah yang dilanda wabah flu burung tersebut. Wabah virus mematikan itu sejauh ini telah empat kali menjangkiti negara Asia itu. China belum melaporkan kasus penularan flu burung pada manusia. Namun Beijing Minggu lalu mengatakan China akan mengundang pakar WHO untuk menyelidiki tiga kasus radang paru yang mencurigakan di Provinsi Hunan, China selatan. Wabah flu burung juga melanda provinsi itu akhir-akhir ini. China sebelumnya membantah adanya kaitan antara virus flu burung H5N1 dan kasus radang paru-paru yang diderita tiga warganya. Hasil sejumlah pemeriksaan tidak menunjukkan keberadaan virus H5N1 tersebut. Namun, kantor berita resmi China melaporkan kaitan dengan virus itu tidak bisa dikesampingkan. Sebab, ketiga pasien radang paru itu tinggal di dekat lokasi wabah flu burung. Salah seorang penderita radang paru itu adalah seorang remaja putri berusia 12 tahun. Namun dia telah meninggal. Pemeriksaan terhadap adik remaja perempuan itu memperlihatkan ''hasil positif yang mencurigakan''. WHO kini bekerja sama dengan pihak-pihak berwenang China untuk menetapkan apakah pasien itu tertular H5N1. Tidak Biasa ''Tes-tes semacam itu tidak biasa dilakukan, khususnya saat penyakit masih stadium awal. Sebab, hasilnya biasanya negatif,'' kata Julie Hall, pejabat WHO yang memimpin bidang pemberantasan flu burung di China. ''Kami mencermati sejumlah cara, keahlian, dan bantuan yang bisa menjadi langkah terbaik China untuk menginvestigasi kasus-kasus tersebut. Kami berharap dapat memperoleh konfirmasi dari beberapa diagnosis,'' tambahnya. Di Beijing, Pemerintah China memeriksa 2.500 orang, sebagian besar adalah petani dan pekerja tempat pemotongan hewan. Orang-orang itu berpotensi tertular virus flu burung. Namun, hasil pemeriksaan menunjukkan tidak ada penularan. Beijing dan kota-kota lain China (termasuk Changchun di Provinsi Jilin, China timurlaut) berdekatan dengan pasar unggas. Kota-kota itu berpenduduk padat. ''Saya kira tidak ada masalah,'' kata Chen (33), pedagang buah di sebuah pasar di pinggir kota Beijing. Di pasar itu, juga ada pemotongan ayam. Pembeli biasanya melihat dari dekat proses penyembelihan ayam tersebut. ''Namun saya tidak menyantap daging ayam akhir-akhir ini. Selera makan saya belum pulih,'' tambahnya, sambil tersenyum. Pihak berwenang menyatakan, 192 warga Provinsi Hunan berada dalam pengawasan medis. Salah seorang di antaranya menderita bronchitis akut. Semuanya pernah melakukan kontak dengan ketiga penderita radang paru tadi atau dengan unggas mati. Pemusnahan Massal Di Provinsi Liaoning, China timurlaut, petugas melakukan pemusnahan massal terhadap unggas. Seluruh unggas dimusnahkan, terutama yang berada dalam radius tiga kilometer dari lokasi virus H5N1 yang terdeteksi pekan lalu. Flu burung telah menewaskan lebih dari 60 orang di Asia. Virus itu juga telah menginfeksi sedikitnya 123 orang sejak akhir 2003. Hampir dalam setiap kasus, virus itu tampaknya ditularkan ke manusia yang melakukan kontak dengan burung. Para pakar mengatakan, penularan virus itu di kalangan unggas harus dihentikan. Cara itu dapat mencegah penularan terhadap manusia. Pemberantasan flu burung lebih rumit dilakukan di kawasan Asia yang berpenduduk padat. Apalagi, para petani dan warga desa umumnya hidup membaur dengan unggas dan ternak mereka. Namun para ilmuwan mengatakan, virus itu dapat bermutasi sehingga dapat lebih mudah menular dari manusia ke manusia. Mutasi virus itu bisa memicu pandemi yang menewaskan jutaan orang.(rtr-ben-26) |