logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 08 Nopember 2005 EKONOMI
Line

Peta Kekuatan Bisnis Properti (2-Habis)

Konsumen Makin Tercekik dengan Bunga KPR

Di tengah hantaman kenaikan harga-harga, penderitaan masyarakat semakin bertambah setelah bank ramai-ramai menaikkan suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Gaji tak naik, cicilan rumah bertambah.

Misalnya saja Hariadi, warga Tlogosari yang sudah menyicil rumah di daerah Mijen melalui fasilitas KPR BTN dengan jangka waktu 10 tahun.

Ia sebelumnya menyicil rumah tipe 36 itu sebesar Rp 1,1 juta per bulan dengan bunga 11,5 persen per tahun.

Namun mulai cicilan bulan Oktober, bunga KPR-nya naik menjadi 14,5 persen atau sekitar Rp 1,3 juta per bulan. Tentu saja kenaikan yang hampir mencapai Rp 200 ribu per bulan ini sangat memberatkan.

"Tadinya saya nggak tahu kalau bunganya naik. Tapi pas ketemu teman yang mengeluh soal kenaikan cicilan rumahnya, saya berinisiatif telepon pihak bank."

Karyawan swasta ini mengaku kaget ketika tahu suku bunga kredit KPR-nya melonjak hingga tiga persen. "Saya sempat protes kok tinggi banget naiknya. Eh, pihak bank malah bilang, bank lain lebih tinggi bunganya," kata dia dengan kesal.

Keluhan senada disampaikan oleh Melani, warga Pedurungan yang memperoleh KPR dari Bank Niaga. Semula dengan bunga 12,75 persen per tahun, wanita yang bekerja di sebuah perusahaan seluler ini harus membayar cicilan KPR Rp 1,8 juta.

Namun sejak sebulan yang lalu, dikenakan bunga KPR menjadi 14,5 persen, sehingga cicilannya menjadi sekitar Rp 2 juta per bulan. Itu pun komposisinya 90 persen untuk pembayaran bunga dan 10 persen untuk pokok. "Jadi kalau mau melunasi, nanti pokok yang harus dibayar masih tinggi sekali," ujarnya.

Ia mengaku sangat keberatan dengan kenaikan KPR itu karena semua kebutuhan pokok naik. "Kita keberatan banget. Kacau deh jadinya," ujar dia.

Seorang konsumen perumahan di daerah Tembalang Semarang yang mengambil KPR dari sebuah bank besar mengaku kaget. Semula ia dikenakan bunga 14 persen. Namun pihak bank sudah memberi ancang-ancang suku bunga KPA naik menjadi 17 persen mulai tahun 2006. "Saya sangat keberatan. Itu kenaikannya terlalu tinggi," ujar pria yang tidak mau disebut namanya ini.

Kenaikan ini tentunya sangat mengejutkan para nasabah KPR. Apalagi sebagian besar bank tidak mensosialisasikan soal kenaikan bunga KPR ini.

Tertarik KPR Murah

Padahal, para konsumen ini, tertarik membeli rumah karena sekitar setahun lalu. Ketika itu bank-bank berlomba memberikan kredit di sektor yang pernah ambruk akibat krisis ekonomi itu. Di Jateng, saat itu persaingan antarbank dalam memberikan persentase bunga KPR makin ketat hingga 13%.

Persaingan bank-bank swasta dalam menggelontorkan KPR tak lepas pula dari makin menurunnya tingkat suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) yang menyentuh level dibawah 8%. Kini, SBI yang berganti nama BI-rate melonjak menjadi 11% lebih. Maka, bank-bankpun tidak bisa berbuat banyak selain mengerek suku bunga kreditnya. Akhirnya, konsumenlah yang jadi korban.

Dengan kondisi demikian kebutuhan masyarakat atas perumahan semakin semakin sulit terpenuhi. Contohnya, realisasi KPR bersubsidi pada tahun 2005 sangat tersendat.

Data Real Estat Indonesia (REI) Jateng menyebutkan dari 40.000 unit rumah sederhana (RS) dan rumah sederhana sehat (RSS) yang diprogramkan ternyata cuma terbangun 15.000 unit. Dari jumlah tersebut yang menggunakan kredit selisih bunga hanya 12.000 unit.

Target pemerintah untuk membangun 20.000 unit rumah melalui pola KPR bersubsidi pada tahun 2005 di Jateng juga diyakini takkan tercapai. Masalahnya, daya beli masyarakat jauh dari harapan.

"Kalau pun ada penurunan bunga KPR maka itu bunga flat (berubah sewaktu-waktu-Red), bukan tetap. Melihat prospek perekonomian sebagaimana sekarang terasa berat untuk mencapai target pembangunan sebanyak itu," kata Ir Sujadi, Direktur Utama PT Adjisaka.

Meski demikian, ungkap dia, kebutuhan rumah saat ini tetap tinggi. Tetapi penyerapannya bergantung pada tingkat pertumbuhan ekonomi.

Ia mengingatkan bahwa penting untuk dicermati adalah produk mana yang paling aman.

Besar suku bunga dan sistem perhitungan bunga yang digunakan sangat penting diketahui agar pengalaman pahit sejumlah nasabah KPR pada tidak terulang. (Arie Widiarto-59)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA