logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 07 Nopember 2005 RAGAM
Line

Mengenalkan Sains kepada Anak Usia Dini

DALAM beberapa tahun terakhir ini, belajar IPA (sains dan matematika) di berbagai sekolah di Indonesia menunjukkan hasil yang kurang memuaskan. Ini menandakan penyadaran sains pada generasi mendatang masih harus dilakukan secara terus-menerus. Sebab empat cabang ilmu yang sangat diperlukan dalam pengembangan teknologi adalah fisika, kimia, biologi modern, dan matematika. Keempat cabang ilmu inilah yang kemudian disebut sebagai sains dan matematika.

Saat ini terjadi kontroversi mengenai pembelajaran pada pendidikan anak usia dini. Mungkinkah anak usia dini diberi materi pelajaran, diajari membaca, menulis, dan berhitung? Menurut Jerome Bruner, setiap materi dapat diajarkan kepada setiap kelompok umur. Tentu cara-caranya disesuaikan dengan perkembangan umur masing-masing.

Dalam pendidikan anak-anak usia dini, peran orang tua sangat dominan. Sebab, sebagian besar waktunya ada di rumah, meski selanjutnya pendidikan tetap berlangsung di rumah, sekolah, dan di dalam masyarakat. Dengan demikian, orang tua mempunyai kewajiban pula dalam menyadarkan peserta didik mengenai arti penting sains dan matematika.

Benyamin S Bloom dari Universitas Chicago AS pernah mengatakan, seorang anak jika diperlakukan benar dapat berkembang lebih tinggi, hidup lebih baik, dan berpikir lebih cemerlang.

Matematika sebagai ilmu dasar memiliki objek yang abstrak, memiliki pola pikir deduktif, dan konsistensi yang tidak dapat dipisahkan dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Melihat materinya, sains adalah materi fenomena alam yang telah tersedia di sekeliling kita. Dengan demikian, belajar sains sebenarnya dapat dilakukan oleh setiap individu, dengan cara mengamati kejadian alam di sekeliling kita dengan seksama.

Masa Emas

Anak usia dini, atau usia prasekolah, berada dalam masa emas perkembangan otaknya. Salah satu hasil penelitian menyebutkan, kapasitas kecerdasan anak pada usia empat tahun sudah mencapai 50 persen. Kapasitas ini akan meningkat hingga 80 persen pada usia delapan tahun. Ini menunjukkan pentingnya memberi rangsangan pada anak usia dini.

Mengenalkan sains dan matematika pada anak bukan berarti mengenalkan rumus-rumus. Suasana harus fun, sehingga anak dalam kondisi ceria akan bertanya mengapa bisa demikian? Apakah kejadian selanjutnya? Dan sebagainya.

Perlu diingat, mengenalkan sains pada anak harus sesuai dengan tahapan umur dan perkembangannya. Sebagian besar waktu dari anak usia dini dihabiskan bersama orang tua. Maka yang perlu dilakukan orang tua adalah meluangkan sedikit waktu untuk bermain dengan anak. Dalam situasi bermain itulah kita dapat melakukan eksperimen sains dan mengenalkan matematika.

Bermain merupakan tuntutan dan kebutuhan esensial bagi anak usia dini. Dengan bermain, anak dapat memuaskan tuntutan dan kebutuhan perkembangan dimensi motorik, kognitif, kreativitas, bahasa, emosi, nilai, dan sikap hidup.

Menurut Whiterington (1979), bermain mempunyai fungsi mempermudah perkembangan kognisi anak dan memungkinkan anak melihat lingkungan, mempelajari sesuatu, dan memecahkan masalah yang dihadapi. Selain itu, bermain juga dapat meningkatkan perkembangan sosial anak.

Banyak manfaat yang bisa diperoleh jika anak sejak dini telah diperkenalkan dengan sains. Sains melatih anak bereksperimen dengan melaksanakan beberapa percobaan, memperkaya wawasan anak untuk selalu ingin mencoba dan mencoba. Sehingga sains dapat mengarahkan dan mendorong anak menjadi seorang yang kreatif dan penuh inisiatif.

Sains membiasakan anak-anak mengikuti tahap-tahap eksperimen dan tak boleh menyembunyikan suatu kegagalan. Artinya, sains dapat melatih mental positif, berpikir logis, dan urut (sistematis). Di samping itu, dapat pula melatih anak bersikap cermat, arena anak harus mengamati, menyusun prediksi, dan mengambil keputusan.

Sekarang banyak buku panduan yang dapat diperoleh di toko buku. Orang tua dapat menambah wawasan tentang sains dan matematika, dengan membacanya terlebih dulu untuk dapat menjawab setiap pertanyaan anak. Yang perlu diingat, jangan berlaku sok tahu dalam menanggapi pertanyaan anak. Jangan pula mematahkan semangatnya dalam bertanya dan belajar.

Keterampilan Sains

Ada beberapa jenis keterampilan sains dapat dilatihkan pada anak usia dini. Pertama, mengamati. Caranya, ajak anak-anak mengamati fenomena alam yang terjadi di sekeliling kita. Dimulai dari yang paling sederhana. Misalnya, mengapa es bisa mencair? Mengapa ada siang dan malam, dan sebagainya.

Kedua, mengelompokkan. Dalam hal ini, anak diminta untuk menggolongkan benda sesuai kategori masing-masing. Misalnya kelompok bunga-bungaan, kelompok biji-jian, kelompok warna yang sama, dan lain sebagainya.

Ketiga, memprediksi. Misalnya, berapa lama es akan mencair, berapa lama lilin akan meleleh, berapa lama air yang panas akan menjadi dingin, dan seterusnya. Keempat, menghitung. Kita mendorong anak untuk menghitung benda-benda yang ada di sekeliling, kemudian mengenalkan bentuk-bentuk benda kepadanya.

Jadi, sains dan matematika sebenarnya dapat diperkenalkan kepada anak sejak usia dini. Tentu dengan memperhatikan cara dan bahasa penyampaiannya, serta disesuaikan dengan umur dan perkembangan si anak. Setuju?(Dra Dwi Yulianti Anwar MSi/Jurusan Fisika, FMIPA, Universitas Negeri Semarang-12)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA