| Senin, 31 Oktober 2005 | INTERNASIONAL |
Pemilu Zanzibar RusuhZANZIBAR - Pemilihan umum di Zanzibar berlangsung rusuh, Minggu kemarin. Front Persatuan Sipil (FPS) menuduh pemerintah berbuat curang. Partai oposisi itu mengatakan, pemerintah menculik enam aktivis FPS. Di Stone Town, daerah basis oposisi, para pemuda melemparkan batu ke sejumlah tempat pemungutan suara (TPS). Mereka mengusir beberapa kelompok calon pemilih yang didatangkan dari daerah lain. Menurut kaum oposan, kelompok-kelompok itu didatangkan oleh pemerintah dari daerah-daerah terpencil untuk mendongkrak perolehan suara partai berkuasa. FPS mengatakan enam aktivis mereka diculik pada dini hari. Beberapa jam kemudian, partai itu menyatakan terjadi "banyak ketidakberesan" dalam pemilu itu. Beberapa ketidakberesan itu antara lain daftar pemilih hilang dan beberapa TPS di daerah basis oposisi tidak dibuka. Jumlah pemilih terdaftar di Zanzibar mencapai sekitar separuh dari satu juta penduduknya. Zanzibar merupakan wilayah semi-otonom di sebelah timur lepas pantai Tanzania. Pemilu di Zanzibar itu dianggap sebagai batu ujian reputasi Tanzania sebagai negara yang stabil. FPS berharap dapat merebut jabatan presiden dari kubu Chama Cha Mapinduzi (CCM). CCM berkuasa di wilayah itu sejak revolusi 1964. Ditangguhkan Pemilihan presiden di Tanzania semula juga dijadwalkan diselenggarakan kemarin. Namun, pilpres itu akhirnya ditangguhkan sampai Desember mendatang. Pasalnya, seorang kandidat wakil presiden meninggal. Di kota Stone Town, Zanzibar, para pemuda menendang, memukul, dan melemparkan batu ke sekelompok calon pemilih "pendatang". Calon-calon pemilih itu datang dengan menggunakan beberapa minibus saat pemungutan suara dimulai pukul 07.00 waktu setempat (11.00 WIB). "Pemerintah tahu, mereka tidak dapat menang di sini. Jadi, mereka mendatangkan orang-orang ini dari daerah pedalaman. Kami telah mengusir 100 orang lainnya," kata Rashid Mohamed, pendukung FPS. Oposisi mengatakan, dua pengawal dan seorang sopir pemimpin oposisi Seif Sharif Hamad telah "diculik" oleh pihak berwenang pada Minggu dini hari. Tiga aktivis lainnya juga diculik di Stone Town. Juru bicara Komisi Pemilu Zanzibar Idrisa Jecha mengatakan ada beberapa masalah, seperti daftar pemilih hilang, tetapi masalah itu tergolong tidak serius. Para pekerja keturunan Afrika menentang golongan Arab yang berkuasa di Zanzibar. Golongan Arab itu umumnya bernaung dalam CCM. Partai berkuasa itu menjanjikan stabilitas dan perdamaian jika mereka terpilih kembali. Oposisi mengatakan, mereka telah dicurangi dalam pemilu 1995 dan 2000. Mereka bertekad akan menggelar unjuk rasa besar-besaran jika kecurangan seperti itu terulang kembali. Para pendukung CCM mengatakan media dan pemantau asing umumnya mendukung kubu oposisi. CCM juga berkuasa di tingkat nasional Tanzania.(rtr-ben-25) |