logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 31 Oktober 2005 BANYUMAS
Line

Berdakwah Keliling Kota dengan Media Wayang Kulit

DI DEPAN majelis taklim yang sebagian besar kaum ibu, Sabtu lalu terpajang deretan tokoh Punakawan dan Pandawa yang ditancapkan di batang pisang. Tak ada geber putih. Yang ada hanya seorang pria berpeci tengah ngudhar sabda layaknya dalang.

Pria tersebut adalah HM Sunhaji (41) asal Jl Penatusan Purwokerto. Ia memang seorang dalang, tapi dalam ''pagelaran'' pagi hari itu ia bukan sedang menjalankan profesinya sebagai dalang, melainkan sebagai da'i. ''Saya menggunakan media wayang kulit untuk berdakwah. Banyak tema dakwah yang saya peragakan menggunakan tokoh wayang. Tokoh yang ditampilkan bergantung pada tema dakwah yang saya sampaikan,'' tuturnya.

Sesekali ia menyelingi peragaan wayang dalam dakwahnya dengan tetabuhan gending atau gong dengan mulutnya. Suasana pun menjadi segar dan materi yang disampaikannya mudah dicerna peserta pengajian. Ia mencontohkan tokoh Janaka saat perang Baratayudha.

''Janaka berdoa meminta agar seluruh kerabatnya bisa selamat. Ini menunjukkan orang jangan berlaku egois berdoa hanya untuk kepentingan dirinya sendiri. Saat berdoa jangan lupa mendoakan juga orang tua, saudara, dan para kerabatnya. Berkat doanya itu, saudara dan kerabat Janaka selamat dari malapetaka,'' jelasnya.

Sunhaji sendiri mengaku memperoleh ilmu mendalang secara autodidak. Sejak kecil ia memang punya hobi nonton wayang. Dari hobinya itu ia menyisihkan uang sakunya untuk membeli wayang. Dari beberapa tokoh wayang yang terkumpul ia mencoba memainkannya sendiri. Setiap Rabu malam ia mendalang di depan teman-temannya.

''Setiap habis mendalang, di sekolah saya mengantuk sehingga kepala sekolah sampai menanyakan penyebabnya. Ketika saya jawab habis mendalang, akhirnya saya diminta pentas siang hari di sekolah. Saya pun terus belajar sendiri hingga sampai sekarang sebagai dalang,'' kata dia yang juga guru SD Al Irsyad 2 Purwokerto itu.

Media Dakwah

Selain mendalang, jelasnya, ia juga nyantri di Pondok Pesantren Kebarongan dengan mendapat bimbingan ilmu agama dari KH Marwan Ibnu Marghoni. Selama mondok itu Sunhaji banyak mendapat pengetahuan soal agama Islam yang kini menjadi bekal berdakwah.

Meski masih sebagai dalang, katanya, profesi itu sekarang sudah jarang dilakoninya. ''Saya justru lebih sering berdakwah menggunakan media wayang ke berbagai tempat. Tak hanya di Purwokerto, tetapi juga di Cilacap, Banjarnegara, Purbalingga, dan kota lainnya. Selama bulan Ramadan, hampir setiap hari saya diundang pengajian,'' ungkapnya.

Menurut dia, wayang punya peluang sebagai media dakwah. Walisongo pun ketika menyebarkan agama Islam di tanah Jawa masuk melalui wayang. ''Banyak jamaah yang senang mendengarkan dakwah dengan wayang sebagai medianya,'' tambahnya.

Ia pun siap diundang ke mana saja. Bila mengundang dia, pengundang diminta menyiapkan batang pisang sepanjang 2,5 meter. Peralatan berupa wayang dan lainnya dia siapkan sendiri. ''Pengajian saya paling-paling satu hingga dua jam,'' jelas Sunhaji. (Sigit Oediarto-16n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA