| Jumat, 28 Oktober 2005 | SALA |
Harga Kian Naik, Kenapa THR Tetap?BAGI kalangan tertentu, uang Rp 100 ribu bisa jadi tidak berarti apa-apa. Apalagi di saat harga-harga kian melambung pascakenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) 1 Oktober lalu. Namun, bagi sejumlah karyawan di lingkungan Pemkot Surakarta, terutama yang belum berstatus PNS, jumlah itu cukup banyak. "Alhamdulillah, uang itu bisa dipergunakan untuk membeli keperluan Lebaran," kata Sudarman, karyawan Pemkot yang kini masih berstatus sebagai tenaga harian lepas di Bagian Umum. Meski usia pengabdiannya di Pemkot bisa dibilang tidak sebentar, namun selama ini dia cukup senang dengan gaji sebesar UMK yang diterima setiap bulannya. Maka, tunjangan hari raya (THR) sebesar Rp 100 ribu yang diterimanya dari Bendahara unit kerja setempat langsung disimpan rapi di dalam dompetnya. Dia menganggap jumlah itu sebagai satu berkah, mengingat hampir setara dengan seperempat gajinya sebulan. "Kalau ditanya cukup apa tidak, ya tentu saja namanya manusia tetap ingin dikasih lebih banyak. Tapi, lumayanlah, uang itu juga bisa kok nek dicukup-cukupke. Semoga saja barokah," ungkapnya. Untuk staf terdiri atas PNS (8.211 orang), PNS diperbantukan (66), wiyata bakti/guru tidak tetap (790), guru bantu (1.277), tenaga harian lepas (2.111), dan petugas sampah (519), masing-masing berhak menerima THR sejumlah Rp 100 ribu. Untuk eselon IV (651 orang), THR yang diperoleh Rp 125 ribu, THR bagi karyawan eselon III (106 orang) sejumlah Rp 150 ribu, dan bagi eselon II (17 orang) Rp 175 ribu. Suka Cita Bambang Harjanto SPd, seorang staf Badan Informasi dan Komunikasi (BIK), menyambut THR tersebut dengan suka cita. "Lumayan, bisa untuk membelikan baju baru bagi anak saya. Tapi dengan harga yang semakin melambung saat ini, paling hanya cukup untuk membelikan satu baju saja," ujarnya. Meski merasa cukup senang, dia mempertanyakan tidak adanya kenaikan jumlah dibanding tahun sebelumnya. Padahal nilai uang tahun ini jauh lebih menurun dibanding tahun sebelumnya. "Kenapa kok tidak ada kenaikan, ya? Tahun dulu seratus ribu, tahun ini juga sama. Padahal harga barang saat ini kan naik semua," ungkapnya. Sementara itu, Kepala Kantor Keuangan Daerah Drs Anung Indra Susanto menyatakan, jumlah Rp 1,6 miliar yang dialokasikan dahulu dilakukan jauh hari sebelum kenaikan harga BBM. "Saat itu memang tidak diperkirakan adanya kenaikan harga BBM," kata dia. (Anie R Rosyidah-16h) |