logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 28 Oktober 2005 SALA
Line

40 Dalang 35 Sinden dalam Satu Panggung

SEJAK awal memang sudah terasa, betapa pentas Wayang Kulit Purwa di Pendapa Rumah Dinas Bupati Sragen, Rabu (26/10) malam lalu, bukanlah pertunjukan wayang yang biasa. Bahkan, gelagatnya sudah terkira, kala baru menyaksikan penataan panggungnya saja.

Sebagaimana keberadaannya, wayang merupakan karya seni kolaboratif. Gelaran wayang kulit pada malam itu sebenarnya juga menghadirkan pelaku mulai dari dalang, niyaga, dan waranggana.

Hanya yang menarik, dalam kerangka kerja bersama itulah yang memunculkan ketidakbiasaan dari sebuah sajian pertunjukan wayang.

Lihat saja di panggung, ketika di antara bentangan kelir dan perangkat gamelan, tak kurang 35 sinden berjajaran hingga membuat areanya serasa sempit. Jumlah yang tak biasa, mengingat pertunjukan wayang itu lazimnya hanya menghadirkan rata-rata lima sampai sepuluh pesinden.

Ketidakbiasaaan yang lain juga terlihat saat mencermati para niyaga-nya. Betapa para penabuh gamelan dalam pertunjukan wayang malam itu bukanlah para niyaga profesional. Namun, mereka selama ini justru lebih dikenal sebagai seorang dalang.

Sebut saja seperti Ki Anom Suroto, Ki Manteb Soedharsono, Ki Purba Asmoro, Ki Djoko 'Edan' Hadiwijoyo, Ki Warseno Slenk, dan dalang-dalang lain yang juga tampak di antara berbagai instrumen gamelan.

Memang sangat berbeda membandingkan pertunjukan malam itu dengan pertunjukan-pertunjukan wayang pada umumnya. Paling tidak, hal itu tampak dari para pelaku atau senimannya. Ketika tak kurang 35 sinden hadir bersama 40 dalang (lima di antaranya bergantian membeber lakon) dalam sebuah panggung pakeliran.

Kerukunan

Guyub Dalang Safari Ramadan (GDSR) 2005, itu nama acara yang menggelar pertunjukan wayang kulit malam itu. GDSR adalah sebuah wadah dari para dalang yang ada di berbagai wilayah mulai Karesidenan Surakarta hingga merambah kota lain seperti Semarang dan Madiun.

"Biasanya setiap Bulan Puasa tiba, teman-teman dalang itu kan lebih banyak menganggur, karena tidak ada job. Nah, dari sinilah timbul pemikiran di antara teman-teman, kenapa tidak dimanfaatkan saja untuk membuat kegiatan bersama sekaligus untuk mengisi bulan Ramadan," ujar GPH Benowo, Ketua GDSR, saat menjelaskan latar belakang munculnya acara tersebut.

Menurut penuturan dia, sesuai dengan namanya, konsep dari gelaran wayang dengan niyaga para dalang dan sindhen yang luar biasa jumlahnya itu, memang dilakukan dengan cara berkeliling. Kebetulan pentas di Sragen malam itu sudah mencapai yang ketujuh kali.

"Sesuai dengan rencana, ada delapan jadwal pentas keliling yang akan dilakukan. Dengan satu tempat minimal menampilkan tiga dalang. Setelah pentas yang ketujuh ini, kebetulan untuk pentas yang kedelapan sebagai penutup bertempat di Kota Solo," papar Benowo.

Karena konsep awalnya GDSR itu digunakan untuk mengisi Bulan Suci Ramadan, maka jangan heran jika sebelum pertunjukan wayang akan dilakukan terlebih dahulu acara pengajian. Menariknya untuk acara ini, Dai yang berkhotbah tak lain juga para dalang yang dilakukan secara bergiliran.

"Sebenarnya inti dari kegiatan ini adalah menggalang rasa kerukunan di antara para dalang, khususnya saat menghadapi nasib yang sama, yakni sama-sama tengah sepi job seperti dalam bulan Puasa," paparnya.

Begitulah memang, kerukunan boleh jadi menjadi tujuan utama dari gelaran safari tersebut. Namun demikian, karena kerukunan itu pula membuat pertunjukan wayangnya menjadi serasa tak biasa. Membeber lakon "Sudamala", jalinan cerita yang merupakan lakon carangan tersebut memang diterjemahkan melalui ketidakbiasaan-ketidakbiasaan dalam sebuah lingkup panggung pakeliran. (Wisnu Kisawa-16h)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA