| Jumat, 28 Oktober 2005 | SALA |
Sepi, Pemudik di TirtonadiTIRTONADI - Agaknya kemeriahan Lebaran tahun ini berkurang. Arus pemudik di Terminal Bus Tirtonadi nyaris tidak dijumpai pada H-7 masa angkutan Lebaran 2005. Arus penumpang di terminal belum beranjak naik sejak kenaikan harga BBM awal bulan ini. "Pemudik belum kelihatan. Belum ada rombongan yang secara beruntun turun di terminal. Jangankan pemudik, arus penumpang reguler saja berkurang sejak awal Oktober lalu," kata Kepala Unit Pelaksana Teknik Dinas Terminal Bus Tirtonadi, Bambang Tukowibowo, kemarin. Meski tinggal tujuh hari lagi Lebaran, suasana terminal belum menunjukkan gejolak kenaikan penumpang yang secara reguler turun di terminal. Memang sudah ada bus ekstra Lebaran yang masuk dan menurunkan penumpang, namun mereka bukan bus yang menjalani rute reguler setiap harinya. "Kamis pagi memang ada bus ekstra Lebaran lima armada dari Jakarta, tapi itu merupakan bus yang dicarter perusahaan untuk membantu karyawannya yang mudik. Jadi, bukan bus antarkota antarprovinsi (AKAP) setiap harinya," ujarnya. Dari data yang dicatat petugas penerima retribusi terminal, sejak pukul 00.00-07.00 Kamis kemarin, tercatat 897 bus reguler dari berbagai jurusan datang dengan mengangkut 20.296 penumpang. Bus yang berangkat sebanyak 597 menuju berbagai jurusan membawa 9.746 penumpang. Sementara dari jumlah yang masuk terminal, bus reguler jurusan Jakarta-Solo yang masuk terminal tercatat 235 armada. "Jumlah itu termasuk lima bus ekstra Lebaran dari perusahaan," tambahnya. Sejak kenaikan harga BBM memang terjadi penurunan jumlah bus yang masuk terminal. Sebelumnya, rata-rata bus masuk terminal 3.200 unit dari berbagai jurusan, baik antarkota dalam provinsi (AKDP) maupun AKAP. Dan pada masa angkutan Lebaran tahun lalu, jumlah itu melonjak sampai dengan 4.000 bus. Tapi sejak awal Oktober lalu, jumlah itu menurun tajam. "Hampir berkisar 700-1000 bus setiap harinya yang tidak masuk terminal. Pengusaha memilih tidak mengoperasikan busnya daripada merugi terus," katanya. Menurutnya, akibat terjadi penurunan jumlah bus dan penumpang, terjadi penurunan pendapatan retribusi. Kalau sebelumnya pendapatan dari sejumlah pos sekitar Rp 8 juta, sekarang berkisar Rp 6 juta-Rp 7 juta. Penurunan pendapatan tidak saja dialami pengelola terminal saja. Hampir seluruh usaha dan pekerja di kawasan transportasi angkutan umum itu mengeluh, karena mengalami penurunan omzet yang sangat tajam. "Saya sampai ngantuk, tidak ada penumpang yang mampir untuk jajan. Memang ini bulan puasa, tapi tahun lalu kondisinya tidak seperti ini," keluh Wardoyo, seorang penjaga kios makan di dalam terminal. Keluhan serupa diungkapkan Martono dari himpunan pengurus bus antarkota (Hipbak). Dia terpaksa mengatur sejumlah anak buahnya untuk bergiliran bekerja di terminal. Alasannya bus banyak yang kosong, karena sepinya penumpang di dalam terminal. "Daripada mereka tidak mendapatkan penghasilan yang memadai, mendingan di rumah atau cari order lain," katanya. (sri-16h) |