| Jumat, 28 Oktober 2005 | PANTURA |
Harus Miliki KeterampilanPEKALONGAN - Berhati-hatilah kaum wanita yang ingin bekerja di luar negeri. Meskipun mendapatkan uang banyak, kalau iman tidak kuat maka moral bisa rusak. "Saya sudah menanyakan beberapa wanita yang pernah bekerja di luar negeri, khususnya Korea Selatan. Lima wanita mengaku hilang keperawanannya saat bekerja di luar negeri," kata Drs Abdullah Martoloyo, pekerja sosial Kelurahan Jenggot, Kamis (27/10) kemarin. "Karena itu, saya tidak setuju jika wanita Indonesia bekerja ke luar negeri, apalagi Korea Selatan," tambahnya. Lelaki guru sebuah SMP negeri di Kota Pekalongan itu berharap wanita yang bekerja di luar negeri janganlah hanya ingin menjadi pembantu rumah tangga yang gajinya sedikit. "Kalau ingin bekerja ke luar negeri, silakan mempersiapkan diri dengan pendidikan minimal SLTA dan memiliki keterampilan tertentu, sehingga mendapatkan gaji lebih besar," katanya. Selain itu, jangan mudah terbuai janji-janji para pengerah tenaga kerja yang mengiming-imingi gaji tinggi. Padahal, kenyataannya jarang sekali janji itu ditepati. "Karena itu, kalau mendapatkan tawaran dari pengerah tenaga kerja, harus dipertimbangkan masak-masak. Jangan-jangan mereka hanya ingin menipu. Banyak sekali kasus tenaga kerja yang tidak jadi diberangkatkan ke luar negeri. Mereka ditelantarkan. Ini sangat mengecewakan." Menurut dia, pembantu rumah tangga yang bekerja di luar negeri - termasuk Arab Saudi - sering bermasalah. Karena itu, pemerintah mestinya mulai sekarang hanya mengirimkan pekerja profesional ke luar negeri. Di Korea Selatan, kata dia, sebagian besar tenaga kerja bekerja di pabrik, dengan pendidikan minimal SLTA. Namun, karena pergaulan di sana sangat bebas, para pekerja kita terpengaruh. "Akibatnya, tidak sedikit tenaga kerja wanita dari negara kita yang hilang keperawanannya saat bekerja di sana," katanya, mengingatkan.(A15-58) |