logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 28 Oktober 2005 PANTURA
Line

Kisah Sedih Eks TKW di Saudi

Partinah Lolos dari Perkosaan Anak Majikan

MAUNYA membantu suami bekerja, agar dapur rumah ngebul. Namun, bukannya harta yang didapatkan, tetapi penjara. Itulah yang dialami Partinah (27), warga Setu, Kelurahan Jenggot, Kecamatan Pekalongan Selatan, Kota Pekalongan.

Partinah melarikan diri dari rumah majikannya, Turki Muhammad Nabati (50) di Kampung Roseva, Mekah, dan bersembunyi di tempat penampungan orang-orang Madura.

Namun dia tertangkap aparat keamanan Arab Saudi dalam operasi tenaga kerja ilegal. Dia bersama 16 pekerja ilegal lain dipenjara 12 hari. Mula-mula, dipenjara lima hari di Mekah dan kemudian tujuh hari di Jeddah.

Setelah menyelesaikan hukuman penjaranya, perempuan istri Marsudi - tukang Kebun SMK Almaarif Buaran - itu langsung dipulangkan ke rumah asalnya di Jenggot, bulan puasa ini.

Partinah, ketika ditemui di rumahnya, tampak malu untuk menjelaskan kepada wartawan perihal pengalamannya sebagai TKW di Saudi. Untung ada Wakil Wali Kota Pekalongan H Abul Almafachir bersama tokoh masyarakat.

Abu Almafachir minta kasus yang menimpa wanita itu dibeberkan kepada masyarakat agar orang yang mau bekerja ke luar negeri menjadi lebih berhati-hati.

Iming-iming Gaji Besar

Kata demi kata akhirnya keluar dari mulut Partinah. Dengan didampingi sang suami, wanita berkulit putih itu menceritakan awal dirinya bekerja di kota suci Mekah.

"Semula saya tidak berkeinginan bekerja ke luar negeri, karena tamat SD tidak. Saya hanya sampai kelas V SD.

Namun karena ada tawaran bekerja di luar negeri dengan iming-iming gaji sekitar Rp 1,5 juta, saya tertarik," katanya.

"Apalagi, suami saya hanya bekerja sebagai tukang kebun di SMK Almaarif, yang gajinya tidak mencukupi untuk kebutuhan hidup keluarga," tambahnya.

Melalui calo dari daerahnya, Partinah mendaftar untuk bisa bekerja ke Mekah. Ia bersama teman-temannya oleh kaki tangan PT Yudha Pratama dibawa ke Jakarta sekitar 3,5 tahun lalu.

Setelah persyaratannya lengkap, wanita itu diterbangkan ke Mekah. Karena tidak punya modal ke luar negeri, maka gaji dua bulan pertama - berdasarkan perjanjian dengan PT - tidak mereka terima. Setelah dua bulan, barulah gaji didapat.

Partinah ditempatkan di rumah yang terletak di wilayah pegunungan. Di sana, wanita itu diminta mengurusi orang tua. Karena komunikasinya kurang lancar, dia pindah ke rumah Turki Muhammad Mabati di daerah Roseva. Wanita asal Jenggot itu diminta mengurusi Turki dan 10 anaknya.

Berbagai pekerjaan rumah tangga dia dikerjakan mulai pukul 09.00 hingga 14.00. Kemudian, pada malam hari bekerja setelah pukul 18.00 sampai pukul 03.00 dini hari. "Jadi kami hanya bisa tidur sekitar tiga jam saja," katanya.

Awalnya keluarga Turki itu baik-baik saja. Tetapi, anak-anak tuan rumah yang semula baik berubah menjadi kasar. "Tiga anak yang sudah besar ingin memerkosa saya. Karena ketakutan, saya melarikan diri melalui jendela pada pukul 01.30 dinihari. Di luar, saya sudah dijemput teman dari Madura dan menuju tempat penampungan pekerja ilegal," katanya.

Penjemputan itu sudah diatur, karena wanita itu lewat temannya (Farida) telah menghubungi penampungan.

Lega Bisa Pulang

Di tempat penampungan, yang jaraknya hanya sekitar tiga km dari rumah majikannya, Partinah bekerja seadanya. "Yang penting kami bisa makan dan aman dari kejaran polisi," katanya.

Namun sayang, setelah dua tahun di penampungan milik orang Madura itu, ada raazia tenaga kerja ilegal. Akhirnya Partinah bersama 16 temannya ditangkap. Mereka diangkut dengan mobil dan dimasukkan ke penjara selama 12 hari. Setelah itu, langsung diterbangkan pulang ke Indonesia.

Bagaimana perjalanan dari Jakarta ke Pekalongan? Partinah mengaku memiliki uang Rp 250.000, setelah menjual pulsa HP yang diberikan oleh temannya di Mekah.

Uang hasil penjualan itu digunakan untuk naik bus hingga Pekalongan. "Keluarga pun heran, karena kami tidak membawa uang pada keluarga, melainkan rasa kecewa. Meskipun demikian, saya merasa lega bisa bertemu lagi dengan keluarga," katanya.(Trias Purwadi-58)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA