| Jumat, 28 Oktober 2005 | OLAHRAGA |
Mansyur, Generasi Ketiga Utut AdiantoSUNGGUH menjanjikan rentang prestasi yang dirangkai Muhammad Mansyur Hidayat tahun 2005 ini. Pecatur masa depan Indonesia kelahiran 24 Mei 1988 di Kabupaten Kendal, Jateng itu meraih dua gelar juara di dua pertandingan yang diikutinya, yakni kejuaraan pelajar tingkat SLTA se Jateng di SMA Sultan Agung Semarang, dan Kejuaraan SLTP/ SLTA tingkat nasional Piala Dirut PLN di Jakarta, akhir September lalu. Dua gelar dari anak bungsu tujuh bersaudara pasangan Aminuddin dan Solekhah itu melengkapi koleksi gelar sebelumnya, yakni Kejurda Jateng Yunior A (15th) di Batang 2002, Kejuaraan Pelajar se Jateng dan DIY di UII Yogyakarta 2003, Kejurda Jateng Yunior B (17th) di Kabupaten Tegal 2004, dan Kejuaraan Antar-SLTA di SMA Sultan Agung Semarang 2004. Dengan semua prestasinya itu, dia mendapat beasiswa dari SMA 1 Kendal, terhitung mulai 2004 hingga sekarang. Pemberian beasiswa dari sekolah itu agar Mansyur termotivasi memacu prestasi lebih tinggi. Melihat torehan prestasi tersebut, tidak berlebihan jika dia disebut-sebut sebagai salah satu bakal penerus GM Utut Adianto, pecatur terbaik Indonesia saat ini. Gaya bertarungnya agresif, mirip GM Susanto Megaranto, generasi kedua Utut. Untuk jadi kampiun di Kejuaraan SLTP/SLTA Nasional, dia harus menyisihkan pecatur-pecatur terbaik dari seluruh provinsi yang ada di Indonesia. Tiap provinsi hanya diwakili satu atlet yang diambil berdasarkan seleksi lokal. "Tapi saya belum puas dengan gelar juara di event-event itu," ujar Mansyur. Kini dia tengah bersiap diri menyambut event terakbar bertajuk "Perang Bintang" yang akan berlangsung di SCUA (Sekolah Catur Utut Adianto) Jakarta, November mendatang. Perang Bintang akan melibatkan pecatur-pecatur yunior terbaik se Indonesia. "Ada kepuasan tersendiri jika saya mampu menempati posisi puncak di kejuaraan paling bergengsi di tanah air itu," tandasnya. Perang Bintang Jika merebut gelar juara di Perang Bintang, pasti akan menjadi kebanggaan tiada tara. Pasalnya, kejuaraan itu hanya mempertandingkan dua kelas, SD dan SLTP/SLTA. Peserta dari kelas SD dan SLTP/SLTA tampil bareng. Yang membuat persaingan kian ketat, event ini untuk kali pertama diselenggarakan dan hanya para atlet bergelar juara nasional yang diperbolehkan bertanding. Para peserta Perang Bintang nanti adalah peringkat 1- 6 untuk kelas SD dan 1-6 untuk kelas SLTP/SLTA Kejuaraan Antar-pelajar Nasional Piala Dirut PLN di Jakarta 25-29 September lalu, Kejurnas Yunior Kaltim 2005 dan Open Turnamen Yunior Nasional 2005. Sedikitnya 60 pecatur yunior terbaik se tanah air yang bergelar nasional 2005 akan bertarung memperebutkan titel terbaik. Mansyur akan bersaing dengan pecatur kondang lainnya yang telah lebih dahulu berkibar di pentas internasional, seperti Robby Handoko (Bali), Doddy Elias (Jatim), Surya Daru (Babel) serta pecatur anggota the Dream Team SCUA Jakarta. "Banyak lawan tangguh, namun saya siap," tandasnya optimis. Bahkan untuk menyambut pertandingan akbar tersebut, jadwal latihannya diperberat sehari tiga jam mengupas teori pembukaan dan sparring partner lawan Nurhakim, yang sekaligus pelatihnya. Saat ini, Mansyur menyandang titel MP (Master Percasi) yang didapatkannya ketika menjuarai PLN Open 2005. Namun dia belum puas dengan gelarnya sekarang. Remaja pendiam itu berambisi meraih gelar yang lebih tinggi, yakni GM (Grandmaster). Tentu saja ambisinya butuh perjuangan keras. (40) - MN Jumadi, pengamat catur tinggal di Semarang |