logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 28 Oktober 2005 NASIONAL
Line

Pengusaha Bus Songsong Lebaran (1)

Penumpang Sepi, Biaya Operasional Tinggi


TEMPEL STIKER:Seorang petugas menempelkan stiker pada bus yang dinyatakan lolos uji dan laik jalan sebagai angkutan Lebaran 2005 di Wonogiri.(30) - SM/Bambang Pur

Seperti diduga banyak pihak, dampak kenaikan harga BBM akan berlanjut pada Lebaran tahun ini. Banyak pengusaha bus yang berkeluh-kesah, karena pada saat musim mudik kali ini tidak bisa meraup keuntungan besar seperti tahun-tahun sebelumnya. Kemerosotan jumlah pemudik dan biaya operasional yang tinggi, membuat pengusaha harus ekstrahati-hati dalam kendaraannya. Berikut laporan Suara Merdeka sekitar kelesuhan pengusaha bus menghadapi Lebaran.

PARA pengusaha bus di Wonogiri rata-rata pesimistis ada ledakan arus mudik Lebaran, mengingat daya beli masyarakat melemah sejak ada kenaikan harga BBM.

"Sampai saat ini situasinya masih dingin-dingin saja. Padahal, hari makin dekat dengan Lebaran, tapi pemesanan tiket bus malam Jakarta-Wonogiri untuk arus mudik belum melonjak," keluh Direktur PO Tunggal Dara Drs Mulyadi MM. Dia memprediksikan, tidak bakal terjadi ledakan penumpang. "Tidak seperti Lebaran tahun-tahun yang lampau," ujarnya.

Penegasan yang sama juga diungkapkan Direktur PO "Sedya Mulya" Budi Narwanto, Direktur PO "Sumba Putra" Edi Purwantoro, dan Direktur PO "Timbul Jaya" yang juga Ketua DPV Organda Wonogiri, H Danar Rahmanto.

Para pengusaha bus malam antarkota antarprovinsi (AKAP) ini menyatakan, dampak kenaikan harga BBM telah melemahkan daya beli masyarakat. Dan mobilisasi warga perantauan menjadi berkurang, dan itu akan memukul usaha jasa angkutan darat.

Mulyadi membeberkan, untuk biaya operasional memberangkatkan bus Wonogiri-Jakarta diperlukan dana Rp 2 juta. Dana sebesar itu untuk pembelian solar, oli, gaji, serta uang makan sopir dan kernetnya.

"Kalau kemudian pulang hanya mengangkut sepuluh penumpang, mana mungkin pembiayaan operasionalnya dapat tertutup?" ujarnya.

Katakanlah, ketika masing-masing penumpang tarifnya dinaikkan menjadi Rp 180.000, untuk 10 penumpang baru terkumpul Rp 1,8 juta. Itu sama saja merugi Rp 200.000, belum termasuk hitungan nilai depresiasi mobil dan pembelian suku cadangnya.

Karena itu, ketika pemerintah akan memberikan pengawasan pada tarif bus, dan mengancam akan memberikan sanksi kepada pengusaha, hal itu dirasakan sebagai beban yang memberatkan. "Ada atau tidak ada tuslah, sebaiknya serahkan saja tarif bus ke mekanisme pasar," ujar Danar Rahmanto, Edi Purwanto, dan Budi Narwanto. Persoalan sekarang, ungkap ketiga pengusaha bus malam ini, berapa pun tarif itu dipatok sesuai dengan ketentuannya, kalau kemudian daya beli masyarakat melemah, mustahil itu dapat dijangkau oleh masyarakat pengguna jasa angkutan umum.

Tingginya biaya operasional yang dipicu kenaikan harga BBM, menyulitkan cara pengelolaan bisnis jasa angkutan umum. Sebab, dampak kenaikan harga BBM itu ternyata juga menyebabkan kenaikan harga-harga suku cadang dan melemahnya daya beli masyarakat. Percuma saja tarif bus dipatok tinggi, kalau daya beli masyarakat tidak menjangkaunya.

Karena itu, para pengusaha bus pusing ketika harus tetap menjalankan usaha jasa angkutannya. "Bukan berarti kami akan menyerah, kemudian mengandangkan bus, bukan. Tapi itu tadi, ketika kami harus tetap mengoperasikan bus, biaya operasionalnya menjadi berlipat. Semoga saja nanti tetap banyak penumpang arus mudik yang pulang kampung, dan mereka berkemampuan untuk membeli tiket bus," ujar Mulyadi.

Sebagai kiat untuk sekadar mempertahankan usaha angkutannya tetap berjalan, Sutarto, pengusaha bus Purwo Widodo di Kecamatan Pracimantoro, Wonogiri, kreatif menciptakan oplosan BBM yang kemudian dipopulerkan sebagai oplosan Irex. Dikatakan Irex, karena oplosan solar, minyak tanah, dan oli gardan yang diujicobakannya, ternyata tidak saja membuat irit pada pos pengeluaran dana pembelian BBM, tapi juga menimbulkan daya tenaga mesin yang lebih kuat, tanpa harus membuat mesin bus cepat panas (Suara Merdeka, 25/10).

Kepala Dinas Perhubungan Pariwisata Seni Budaya (DPPSB) Wonogiri Hendro Purbandoro SH MM didampingi Ka Sub Dinas Perhubungan E Suwargiyanto SH menjelaskan, pihaknya tetap melakukan persiapan angkutan mudik dan arus balik Lebaran. Karena kondisinya memang dirasa sulit di pihak perusahaan, maka tidak semua bus disiapkan beroperasi sebagai angkutan Lebaran.

Di Wonogiri, memiliki potensi bus AKAP sebanyak 616 bus, tapi yang sekarang siap beroperasi hanya 492 bus (80 persen). Kemudian bus antarkota dalam provinsi (AKDP) seluruhnya 233 bus, dan yang siap beroperasi 174 bus (75 persen). Kemudian untuk angkutan umum mikrobus antarkabupaten ada 55 dan yang siap beroperasi 44 (80 persen). Dari 530 mikrobus dalam kabupaten, yang siap beroperasi 397 (75 persen).

Sistem Bus Patas

Pengusaha bus di Purworejo punya kiat lain lagi. Pengusaha bus Sumber Alam, Kutoarjo, Purworejo, tetap mengerahkan seluruh armadanya, 219 bus.

Sejak Senin (24/10) sebagian besar telah dikirim ke Jakarta untuk memulai menjaring pemudik. Dan di garasi hanya enam bus yang sedang diperbaiki. Perusahaan ini tidak menargetkan pendapatan.

Menurut petugas PO Sumber Alam, Budi Nargo, perusahaannya berani melangkah seperti itu lantaran perhitungan ongkos penumpangnya dengan menggunakan sistem bus patas. Selama ini, trayek bus malamnya Jakarta-Purwokerto dan Jakarta-Yogyakarta. Dengan penghitungan biaya ala bus patas, maka penumpang dari Jakarta yang turun Purworejo harus membeli karcis Jakarta-Yogya.

Sejak kenaikan harga BBM, tarif Purworejo-Jakarta dengan bus ekonomi Rp 42.500/orang, bus patas Rp 65.000, bus AC Rp 80.000, bus AC bertoilet Rp 90.000. Pada saat Lebaran, pihaknya akan menggunakan tarif batas atas. Yakni Jakarta-Purworejo dengan bus ekonomi Rp 75.000, bus patas Rp 112.500, bus AC Rp 150.000, sedangkan bus AC dengan toilet Rp 165.000.

Dengan tarif seperti itu perusahaan optimistis tetap bisa meraup pendapatan, walaupun penumpangnya relatif sepi. Apalagi perusahaan sudah memiliki banyak pelanggan. "Kami berusaha memaksimalkan armada dengan harapan tetap ada penumpang," tutur Kabag Personalia itu.

Memang, bus yang telah dikirim ke Jakarta sampai kemarin masih sepi penumpang. Padahal, tahun lalu H-10 sudah ramai pemudik.

Dengan kondisi yang masih sepi itu puluhan bus Lebaran yang sudah dikirim ke Jakarta hanya diparkir di pool. Penumpukan bus itu sifatnya menunggu pangsa pasar. Apabila banyak penumpang di terminal, maka banyak pula bus yang akan dilepas dari Jakarta.

Kepala Dinas Perhubungan Drs H Harnudin Burhan MM menyatakan, sudah menyiapkan berbagai sarana untuk angkutan Lebaran. Selain persiapan kendaraan, juga fasilitas pendukung seperti pemasangan dan perbaikan rambu-rambu, petunjuk jalan, pos PMI, serta bengkel-bengkel di pinggir jalan. Kondisi jalan nasional sepanjang 40,183 km, jalan provinsi 83,094 km, jalan kabupaten 738,727 km, serta jalan desa 750 km di wilayah itu relatif baik.

Telah disiapkan 1.018 kendaraan, dengan 4.852 rit. "Kami sudah mulai melakukan operasi kelaikan jalan pada kendaraan tersebut," katanya.

Menurut perkiraan dia, arus mudik tahun ini tidak sebanyak tahun lalu. Lebaran ini diperkirakan akan sepi dan turun 5 persen dari tahun lalu. Hal itu, menurut analisis dia, karena banyak pemudik yang naik motor dan kereta api. (Eko Priyono,Bambang Pur-14t)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA