| Jumat, 28 Oktober 2005 | SEMARANG |
Menunggu Berkah pada Malam Seribu BulanMALAM lailatulkadar atau malam seribu bulan, bagi umat Islam diyakini akan turun di sebuah malam yang terdapat pada 10 hari terakhir pada bulan Ramadan. Khususnya di malam-malam ganjil atau lebih akrab disebut malam likuran. Jika Sang Pencipta menghendaki seseorang memperoleh lailatulkadar maka amal dan ibadahnya akan dilipatkan seribu kali. ''Sesuai dengan firman Allah dalam Surah Al Qodar ayat 3 dijelaskan, bagi siapa yang memperoleh malam penuh berkah tersebut maka selain akan diberi ampunan, amal ibadah yang dilakukan akan dikalikan dengan seribu bulan atau setara 83 tahun,'' papar Makmun Amin (76), takmir Masjid Agung Kendal. Berangkat dari sana, kaum muslim/muslimat akan berlomba-lomba meningkatkan ibadah setelah Ramadan menginjak pada hari ke-21. Mereka mendatangi masjid, surau, dan mushala untuk melakukan beragam ritual. Yaitu tadarus, kataman, dan iktikaf, atau duduk termenung sambil membaca ayat-ayat suci Alquran. Malam itu, arloji di tangan menunjukkan pukul 01.30. Di lantai dua Masjid Agung Kendal, sebelas orang terlihat duduk sambil wiridan. Belajar Membaca ''Sudah lima Ramadan ini, setiap malam likuran saya datang ke Masjid Agung untuk bertadarus dan iktikaf. Selain melaksanakan sunah Nabi Muhammad SAW, ibadah ini juga memberi ketenangan batin,'' kata Ari Wibowo (33) warga Kampung Krajan, Kaliwungu. Di malam likuran itu, keinginan Wibowo dan seluruh muslim yang datang ke Masjid Agung juga berharap mendapatkan malam lailatulkadar. ''Dalam satu tahun, apa beratnya meluangkan waktu satu bulan untuk meningkatkan ibadah dan mendekatkan diri kepada-Nya. Butuh perjuangan lebih untuk melakukan itu,'' kata pria asal Ngawi, Jatim yang mengaku saat malam likuran hanya menyempatkan tidur tak lebih dari tiga jam itu. Perjuangan untuk memperoleh malam penuh ampunan dan berkah juga dilakukan Bambang (35) warga Cepiring. Guru olahraga di SMPN 3 Kangkung ini mengaku, kedatangannya di masjid juga bertujuan belajar mendalami agama. ''Di sini saya juga ngiras-ngirus belajar membaca huruf Alquran, kepada seorang teman. Syukurlah, dalam beberapa kali pertemuan ini ada peningkatan. Di sini, saya tidak mengejar kataman dulu. Namun, bagaimana membaca Alquran agar lancar.'' (Setyo Sri Mardiko-51d) |