logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 28 Oktober 2005 SEMARANG
Line

Dhull...!!!

Budi Santoso (21), Remaja masjid Al Azhar 14 Semarang

HARI dimana semua anggota keluarga berkumpul dan saling bermaaf-maafan atas segala kekhilafan dan kesalahan di masa lalu, itulah makna Idul Fitri bagiku. Namun lebaran kali ini, jauh berbeda sekali dibanding tahun-tahun sebelumnya. Karena saat ini kita harus ekstra hemat dalam pengeluaran. Maklum, naiknya harga BBM membuat naik pula harga kebutuhan pokok lainnya. Kasihan bagi teman-teman yang tinggal di luar Jawa, mau mudik bingung karena harga tiket bus, kereta, dan pesawat mahal sekali. (fzm-44)

Andriyanti Cokronugroho, Mahasiswi Pendidikan Biologi Unnes

MENURUTKU, Idul Fitri itu berarti kembali ke fitrah setelah apa yang kita kerjakan satu bulan penuh, selama Ramadan. Sebenarnya tak hanya itu saja, dengan Idul Fitri, kita juga diharapkan seperti kembali terlahir dengan penuh kesucian. Seperti menebus kesalahan kita pada hari dan bulan sebelum Ramadan. Kesempatan itu juga kita gunakan untuk saling bermaaf-maafan terhadap sesama. Jika lebaran tiba, pertama yang terbayang dalam benakku adalah rasa capek yang luar biasa. Sebab, sehabis shalat Ied aku beserta keluar keliling satu kampung di desa Candisari Mranggen, Kendal. Setelah seharian keliling, aku langsung tidur. Kemudian besoknya baru bantu-bantu ibu menerima tamu yang singgah ke rumah. (fzm-44)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA